Makar yang Gagal

Oleh: Robby Alam Raya

Gerimis menyapu dedaunan jati di pelataran Pesantren Alam berbasis ekologi, jauh dari keriuhan Ibu Kota. Di bawah atap bambu yang kokoh, angin dari lahan bawang membawa keharuman daunnya yang menenteramkan jiwa. Di sanalah Profesor Malik duduk bersama para santri seniornya. Di atas meja kayu jati, cangkir-cangkir kopi tubruk hitam mengepulkan asap tipis, bersanding dengan gawai yang terus berkedip, menampilkan berita-berita terbaru yang menghentak jagat digital.

“Perhatikan layar-layar kalian, anak-anakku,” ujar Profesor Malik seraya mengaduk kopinya dengan gerakan tenang. “Apa yang kalian lihat di media sosial dan ruang berita hari ini bukanlah sekadar drama hukum biasa. Ini adalah hilir dari sebuah hulu tirani yang tak mau padam. Ketika sebuah dinasti menyadari bahwa fondasi hukumnya mulai retak oleh waktu, mereka akan menggerakkan benteng berkilap besi untuk menjaga bayang-bayang mereka tetap berkuasa.”

Seorang santri menatap gawainya, lalu membacakan sebuah utas yang sedang viral. “Prof, di media digital ramai dibahas tentang sistem Lawful Interception Management System (LIMS) yang disalahgunakan tanpa prosedur hukum sejak tahun 2025. Nama Jenderal Sigra, mantan Panglima Gada Besi yang baru saja digeser menjadi Kepala Staf Istana, disebut sebagai aktor utamanya. Apakah ini ada hubungannya dengan Sang Pangeran Muda yang posisinya sedang goyah?”

Malik tersenyum sinis, kilatan matanya tajam. “Tentu saja. Politik tidak pernah bergerak dalam ruang hampa. Di luar sana, konspirasi ditenun bukan karena mereka kuat, melainkan karena mereka sedang ketakutan. Sang Pangeran Muda kini terjepit hebat setelah dua putusan yang membatalkan keabsahan syahadah miliknya. Tameng administratif yang ia gunakan untuk menduduki kursi wakil penguasa kini dinyatakan tidak sah dan batal demi hukum. Ketika legalitas runtuh, tembok ratapan kini digunakan untuk meratapi pemiliknya sendiri. Mereka butuh mata dan telinga di dalam jantung pertahanan Presiden Prabu untuk memastikan dinasti mereka tidak diseret ke pengadilan.”

Gandengan Tangan yang Semu

Beberapa hari sebelum badai hukum itu pecah di Ibu Kota, sebuah fragmen teatrikal yang dirancang dengan sangat rapi dipentaskan tepat di tanah Rembayan. Desa yang biasanya sunyi dan dipenuhi lantunan ayat suci mendadak riuh oleh iring-iringan kereta besi hitam milik petinggi keamanan.

Jenderal Sigra datang mengunjungi kediaman Gus Bahar, seorang ulama kharismatik yang terkenal sederhana dan tak tersentuh polusi politik praktis. Setelah menghadiri pengajian akbar, di bawah sorotan kamera media yang sudah dikondisikan sejak subuh, Jenderal Sigra berjalan bergandengan tangan dengan Gus Bahar menyusuri lorong pesantren. Di media sosial, foto-foto itu segera disebarkan ribuan akun bayaran dengan narasi: “Sang Jenderal Pelindung Ulama, Benteng Moral Bangsa.”

Namun di balik saku seragamnya yang dipenuhi lencana emas, gawai khusus milik Sigra terus bergetar menerima pesan rahasia terenkripsi dari mentor politiknya, Ki Lurah.

“Bagus, Sigra. Gandeng erat tangan ulama itu. Buat opini publik percaya bahwa kamu dekat dengan kaum religius. Jika Prabu berani mencopotmu atau membongkar borok penyadapan kita, kita gunakan narasi bahwa rezim ini sedang menyerang tokoh yang dekat dengan kiai. Jadikan kesucian mereka sebagai perisai kita,” demikian bunyi instruksi dingin dari Istana Solo-Lama.

Sigra tersenyum penuh kemenangan di depan kamera, mengira bahwa dengan memanipulasi simbol kesucian, ia bisa menipu seluruh rakyat dan mengunci pergerakan hukum. Ia tidak menyadari bahwa di atas panggung sandiwara yang ia buat, semesta sedang mencatat setiap jengkal kemunafikannya.

Kepanikan di Istana Lama

Sementara itu, di pusat kendali siber tersembunyi yang dikuasai faksi Sigra, layar-layar komputer berukuran raksasa terus menampilkan transkrip pembicaraan secara real-time. Tidak tanggung-tanggung, operasi ilegal ini telah menyasar nomor telepon Presiden Prabu, para menteri, jurnalis senior, hingga pengusaha nasional sejak akhir tahun 2025. Setiap helai napas taktis dan rencana kebijakan Presiden terpantau dalam sistem LIMS rahasia tersebut.

Mengapa penyadapan ini begitu masif? Jawabannya ada pada kepanikan Ki Lurah di paviliunnya. Di media massa, desakan publik agar masa lalu Ki Lurah diaudit secara menyeluruh semakin menguat. Ditambah lagi, putusan Dewan Adat dan Mahkamah Mulia yang membatalkan syahadah Sang Pangeran Muda laksana bom waktu yang siap meledakkan legitimasi kekuasaan dinasti mereka.

“Jika Prabu mengetahui bahwa kita memegang semua rahasianya, dia tidak akan berani mengeksekusi putusan MM tersebut untuk mendepak anakku,” bisik Ki Lurah kepada Sigra melalui jalur aman. “Tapi ingat, jika situasinya memburuk dan mereka mulai mencium bau sistem LIMS kita, hapus semua berkas digitalnya! Jangan tinggalkan jejak forensik sedikit pun.”

Menjelang akhir tahun ini, menyadari bahwa intelijen militer kepercayaan Prabu mulai melacak kebocoran data, Sigra mengeluarkan perintah darurat: “Hapus semua file hasil sadapan di komputer sistem LIMS sekarang juga! Bersihkan peladen!” Namun mereka meremehkan loyalitas para operator tingkat bawah yang menolak menjadi tumbal kejahatan tingkat tinggi ini. Laporan resmi mengenai akses ilegal dan pemusnahan barang bukti justru bocor dan masuk ke meja kerja Presiden Prabu.

Patahan Strategi di Sepertiga Malam

Di istananya, Presiden Prabu berdiri tegap menatap peta strategi militer. Amarahnya tidak lagi meledak-ledak seperti dahulu, melainkan telah menjelma ketenangan yang mematikan. Laporan investigasi dari intelijen siber telah lengkap. Bukti 11 unit gawai, iPad, dan empat buah diska lepas yang memuat jejak konspirasi telah disita di tempat rahasia.

“Mereka mengira dengan berpura-pura bergandengan tangan di Rembayan, mereka bisa melakukan makar administratif terhadap pemerintahan yang sah,” ujar Prabu dengan suara berat yang menggetarkan ruangan. “Mereka menyadap ruang tidur dan ruang kerja saya demi menyelamatkan pangeran palsu mereka yang syahadahnya cacat hukum. Malam ini, kita tunjukkan bahwa negara ini tidak tunduk pada konspirator.”

Tepat pukul 03.00 dini hari, sebuah operasi senyap skala penuh diluncurkan. Bukan retorika atau konferensi pers, melainkan ketukan laras senjata dari pasukan penegak hukum yang mengepung kediaman Jenderal Sigra dan dua sekutu dekatnya, Irjen Bakri dan Irjen Purnomo.

Sigra, yang saat itu sedang bersiap mematangkan skenario pengondisian media siber, tertegun di meja kerjanya. Pintu rumahnya didobrak. Di hadapannya berdiri surat perintah penangkapan resmi yang ditandatangani tanpa ragu. Sistem komunikasi dinasnya mati total, diisolasi oleh otoritas siber militer.

“Anda ditahan atas dugaan pelanggaran Pasal 258 KUHP tentang penyadapan ilegal, Pasal 332 KUHP tentang akses sistem elektronik tanpa hak, serta UU ITE dengan ancaman hukuman kumulatif yang sangat berat,” ujar komandan penangkap dengan dingin. Sandiwara sang jenderal berakhir di ruang interogasi yang dingin.

Runtuhnya Gurita Dinasti

Fajar menyingsing di Ibu Kota, membawa kabar yang mengguncang seluruh pelosok negeri. Melalui Keputusan Presiden yang dikeluarkan pagi itu, Prabu resmi memecat Jenderal Sigra dari posisinya. Pengumuman tersangka terhadap tiga jenderal tinggi kepolisian disiarkan langsung oleh Mabes, memicu sorak-sorai publik di media sosial yang selama ini muak dengan kesewenang-wenangan aparat.

Gelombang penegakan hukum bergerak cepat laksana tsunami. Ki Lurah yang mencoba bersembunyi di balik tameng jaringan bisnisnya tak berkutik saat petugas Kejaksaan mengepung paviliunnya. Gurita kekuasaan yang dibangun dengan merusak sendi-sendi hukum selama satu dekade rontok dalam sekejap. Sang Pangeran Muda pun hanya bisa menatap kosong layar televisi saat namanya dicoret secara permanen dari daftar pejabat negara akibat putusan hukum yang tak bisa lagi diintervensi.

***

Di Rembayan, matahari pagi menembus celah-celah daun jati, menyinari teras Pesantren Alam dengan kehangatan yang jujur. Profesor Malik mematikan gawainya, lalu memandang para santrinya yang tersenyum lega.

“Lihatlah ke sekeliling kalian,” kata Profesor Malik lembut namun berwibawa. “Jenderal yang kemarin berjalan congkak memamerkan gandengan tangan di atas tanah yang juga kita pijak ini, hari ini berjalan membungkuk mengenakan rompi oranye dengan tangan terborgol di balik jeruji besi. Mereka lupa bahwa jubah kesucian tidak akan pernah bisa menutupi busuknya pengkhianatan. Makar yang mereka rancang dalam kegelapan siber akhirnya lebur dan hancur berkeping-keping begitu fajar keadilan yang sejati terbit menyinari bumi.”

Suasana di Rembayan kembali tenang, diiringi gemerisik daun jati yang ditiup angin sepoi-sepoi. Alam seolah ikut bertasbih, merayakan bersihnya negeri dari para penguasa tirani yang mencoba bermain menjadi Tuhan. Perang bintang dalam kegelapan telah usai, dan hukum semesta telah menetapkan hukumannya yang paling adil.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *