PESANTREN & SEKOLAH ALAM PLANET NUFO BUKA KAWASAN AL-KUFFAR

Baladena.ID – Pesantren & Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Rembang seolah tak pernah berhenti malakukan usaha-usaha untuk meluaskan wawasan dan membuat langkah-langkah untuk terus maju. Kali ini, Pesantren yang didirikan dan dipimpin oleh Dr. Mohammad Nasih, M.Si. atau lebih dikenal dengan sapaan Abah Nasih dan Abana itu membuka kawasan baru yang diberinya nama kawasan al-Kuffar. Sepintas orang bisa kaget mendengar nama Kawasan itu, karena kata al-kuffar merupakan jamak dari kata kafir, yang berarti orang kafir. Al-Kuffar berarti orang-orang kafir. Bagaimana ceritanya, sebuah pesantren yang di dalamnya diajarkan pemahaman keislaman, justru menamakan salah satu kawasan yang menempel dengan Masjid Mohammad Iqbal justru dinamakan al-Kuffar? Begini perspektifnya. Simak sampai tuntas perbincangan baladena.id dengan Abah Nasih.

Baladena: “Abah Nasih, apa agenda baru yang sedang menyibukkan warga Planet NUFO saat ini?”
Abana: “Seperti biasa saja. Para santri-murid kami berikan kebebasan untuk belajar dan mengerjakan apa saja yang menjadi passion mereka. Sebab, tidak ada gunanya memaksa-maksa mereka. Kalau mereka dipaksa untuk belajar atau bekerja, pasti hasilnya tidak akan optimal. Seperti mendorong mobil mogok. Kita kehabisan tenaga, dan ketika kita berhenti, mereka juga berhenti. Mengajar itu mengobarkan api, bukan sekedar mengisi gelas kosong. Jika api telah berkobar, maka akan menbakar apa saja. Bahkan yang masih setengah basah akan menjadi kering dan dilalap juga. Jika semangat belajar dan bekerja sudah membara, maka yang awalnya dianggap sulit, akan tetap dipelajari dan dijalani berulang-ulang sampai bisa dan kemudian terasa mudah dan bahkan sangat mudah. Hafalan al-Qur’an juga di luar kepala. Setelah metodologi untuk menghafal al-Qur’an, memahaminya, dan menguasai sains-tekologi sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari civitas akademika NUFO, kini kami menekankan lebih kuat agar semua benar-benar bisa mengamalkan ajaran Islam, di antaranya yang sangat penting adalah bisa makan dari hasil kerja tangan sendiri. Untuk itu, saya sediakan pemandu khusus yang ahli di bidang pertanian yang memandu.”
Baladena: “Di mana mereka bisa menjalankan agenda untuk Bertani?”
Abana: “Tanah yang menempel dengan Masjid Mohammad Iqbal yang sedang kami bangun cukup luas. Lebih dari sehektar. Bahkan ditambah dengan seberangnya, bisa lebih dari dua hektar. Itu yang akan kami jadikan sebagai kawasan untuk para santri-murid yang memiliki semangat untuk mengembangkan pertanian, dan nanti kami integrastikan dengan peternakan, berpraktek. Saya sudah mendapatkan orang yang tepat, yang menguasai tidak hanya teori-teori pertanian tetapi pengalaman konkret. Namanya Pak Mirwan Permana. Dia menguasai pemahaman tentang berbagai mikroba dan enzim yang sangat penting dalam dunia pertanian. Dan yang lebih penting lagi, dia bisa membuatnya sendiri dan menghindari bahan-bahan kimia sintetik. Jadi kamu sedang membangun pertanian dan peternakan organik, agar bisa lebih sehat. Anak-anak menjadi lebih semangat, karena tidak hanya diajak berteori, tetapi juga diajak langsung mempraktekkan membuat sendiri semua yang diperlukan untuk keberhasilan usaha pertanian. Bahkan perstisida juga mereka buat sendiri dengan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar kami, seperti daun mbimba atau kalau di Makkah dikenal dengan daun pohon Seokarno. Bisa dijadikan sebagai bahan baku pestisida mungkin karena rasanya sangat pahit. Perekatnya menggunakan lidah buaya, dan lain sebagainya. Pokoknya menjadi sangat menarik. Apalagi tidak usaha beli bahan dari luar.”
Baladena: “Apakah aktivitas itu tidak mengganggu proses belajar para santri-murid”.
Abana: “Nah, ini yang perlu diluruskan. Saya selalu menekankan bahwa untuk bisa bertani atau beternak jangan menunggu sampai harus lulus SMU dan kemudian kuliah di IPB atau perguruan tinggi lain yang ada jurusan pertanian dan/atau peternakan. Pada saat sekolah SMP pun mestinya sudah bisa asal ada yang membina. Dan di sini saya sediakan. Jika pertanian dan peternakan dijalani dengan basis keilmuan yang kuat, maka yang didapatkan tidak hanya ilmu, tetapi juga ketrampilan yang saling menguatkan. Atua sebaliknya, bukan hanya bekerja, tetapi pekerjaan berbasis ilmu pengetahuan. Ilmu dan ketrampilan yang dipadukan akan membuat semakin semangat. Sebab, yang dilakukan akan mencapai hasil yang optimal dan bisa melahirkan kepuasan. Kepuasan itulah yang akan membuat santri-murid menjadi semakin giat belajar dan bekerja. Mereka menjadi tidak mau berhenti. Sebab, berhenti berarti kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sesuatu, baik pengetahuan maupun uang. Kita mesti realistis, bahwa kita ini makhluk fisik yang butuh bahkan suka uang. Itu sudah ada nashnya di dalam al-Qur’an. Sudah dapat uang, juga dapat pengetahuan. Maka saya memberikan fasilitas khusus kepada para santri-murid berupa tanah yang cukup luas, yang saya beri nama Kawasan al-Kuffar. Tahu artinya?”.
Baladena: “Wah, bikin kaget ini namanya. Kenapa namanya kok al-Kuffar. Artinya kan orang-orang kafir?”
Abana: “Memang benar artinya orang-orang kafir. Tapi kafir itu kan bahasa Arab yang sudah ada sebelum Islam datang. Apa sebenarnya artinya. Kenapa kok saya pilih kata al-Kuffar, bukan al-Kafirun? Tentu hikmahnya. Ada landasan keilmuannya berbasis al-Qur’an. Saya tidak menggunakan kata al-Kafirun, karena seluruh kata kafir/kafirun berarti orang yang bersikap ingkar terhadap Nabi Muhammad. Bahkan ada surat al-Kafirun di juz 30. Sedangkan dari 28 kata kuffar yang ada di dalam al-Qur’an, 27 di antaranya memang bermakna sama dengan al-kafirun. Tapi ada satu yang mempertahankan makna asli sebelum Islam datang, yaitu para petani, yang terdapat di dalam al-Hadid: 20.
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (al-Hadid: 20)
Baladena: “Wah ternyata artinya petani ya, Bah?”
Abana: “Benar. Dari sini, saya ingin mengajak para santri-murid untuk secara langsung memahami secara lebih luas ayat-ayat al-Qur’an agar tidak kagetan lalu terkagum-kagum atau sebaliknya mencela tanpa dasar keilmuan yang kuat. Dengan cara praktis begini, saya membuka wawasan para santri-murid bahwa kata kuffar di dalam al-Qur’an justru pada awalnya bermakna kaum petani. Jadi sebagian santri saya ini saya ajak jadi orang-orang kafir yang modern yang mengerjakan usaha pertanian secara saintifik. Wawasan meningkat, penghasilan juga makin banyak. Ilmu meningkat, katong juga makin tebal. Ilmu dan harta bisa didapatkan bersama-sama. Kalau ilmu dan harta sudah punya, tinggal melanjutkan satu capaian lagi, berkuasa. Kalau bisa dua bagus. Kalau bisa ketiganya, paripurna sesuai cita-cita. In syaa’a Allah” *

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *