Oleh: Robby Alam Raya
Malam itu, algoritma media sosial sedang berada pada puncak kehangatannya. Di sebuah aula megah yang dilapisi karpet tebal beraroma gaharu, ribuan pasang mata duduk bersila dengan takzim. Kamera-kamera bersensor tinggi dengan lensa mahal bergerak dinamis, menangkap setiap sudut estetika majelis. Di atas panggung utama duduk seorang tokoh spiritual yang sangat dihormati, seorang habib yang garis nasabnya diagungkan, dikelilingi para elite penceramah yang namanya mondar-mandir di jajaran teratas linimasa.
Di antara deretan penceramah itu berdirilah Ustadz Hidayatullah. Seperti biasa, penampilannya adalah manifestasi dari ketepatan. Jubahnya putih tanpa cela, sorbannya tertata dengan geometri yang presisi, dan cara bicaranya adalah pertunjukan linguistik yang memukau. Ia adalah sang maestro retorika tanpa jeda. Lidahnya mampu membelah istilah-istilah rumit menjadi potongan argumen yang terdengar sangat ilmiah di telinga orang awam.
Namun malam itu sang ustadz tidak sedang membedah nomor halaman kitab suci. Ia sedang membangun jembatan emosi untuk merangkul samudra jemaah yang ada di hadapannya.
Ia menoleh ke arah sang habib yang duduk di sampingnya, lalu dengan tatapan yang dikondisikan penuh keharuan, ia mendekatkan mikrofon ke bibirnya. Suaranya merendah, bergetar dengan frekuensi yang diatur sedemikian rupa agar menyentuh relung sanubari yang paling rapuh.
“Tahukah Saudara-saudaraku,” ujar Ustadz Hidayatullah, suaranya menggema laksana angin surga yang melewati kabel-kabel serat optik. “Setiap kali saya memandang wajah beliau, setiap kali saya menyaksikan guratan ketenangan di bibir beliau, dan ketika saya melihat senyum sang habib… subhanallah, seolah-olah saya sedang menyaksikan langsung bagaimana senyum Rasulullah SAW memancar di dunia ini. Senyum yang meruntuhkan segala kegelisahan, senyum yang persis seperti yang digambarkan dalam kitab-kitab syama’il.”
Allahu akbar! Shalu ‘alan nabi!
Gema takbir dan selawat bersahut-sahutan. Ribuan jemaah terisak. Air mata menetes di atas karpet beludru. Tim media sang ustadz dengan sigap mengambil gambar close-up wajah sang habib yang tersenyum tipis, lalu memotong video itu menjadi tiga puluh detik dengan latar musik instrumental yang mendayu-dayu.
Dalam hitungan menit, video bertajuk “Senyum Sang Habib Adalah Senyum Rasulullah” menjadi viral. Jutaan suka, ratusan ribu kali dibagikan, dan jutaan komentar pujian membanjiri ruang siber. Para buzzer majelis segera bergerak memagari konten tersebut dari segala bentuk interupsi. Otoritas keagamaan malam itu kembali dikukuhkan bukan lewat validitas sanad keilmuan, melainkan lewat hiperbola spiritual yang menghanyutkan perasaan.
Sang ustadz tersenyum di dalam hati. Ia tahu, dengan satu kalimat pujian yang melambung tinggi itu, ia telah berhasil mengunci hati jutaan pengikut fanatik sang habib. Di panggung industri dakwah, merangkul massa yang besar adalah mata uang paling berharga. Dan malam itu, nilai tukarnya sedang melambung tinggi.
Diskusi Pagi di Pematang
Jauh dari gemerlap lampu studio dan histeria massa siber Ibu Kota, fajar baru saja pecah di atas perbukitan. Di kompleks Pesantren Alam, udara pagi bertiup membawa aroma tanah basah dan daun jati yang berguguran. Tempat ini tidak mengenal karpet beludru atau menara pualam. Yang ada hanyalah bangunan kayu yang terbuka, berhadapan langsung dengan hamparan ladang dan ternak yang dikelola tangan-tangan muda.
Di sebuah saung bambu yang menghadap hamparan tunas bawang, empat anak muda berkumpul mengelilingi meja kayu. Tiga di antaranya adalah anak muda urban, bukan santri tradisional, namun memiliki kapasitas intelektual yang tajam berkat akses belajar digital yang sangat terbuka. Mereka bagian dari generasi baru yang tidak bisa lagi disuapi informasi satu arah. Di samping mereka duduk seorang santri senior yang sarung dan bajunya bersahaja, namun matanya memancarkan ketegasan berpikir.
Rian, mahasiswa ilmu komunikasi yang sedang melakukan riset mandiri tentang fenomena siber-agama, memutar potongan video Ustadz Hidayatullah di layar tabletnya. Suara sang ustadz yang mendayu-dayu terdengar kontras dengan cicit burung pagi di atas pohon jati.
“Ini dia,” kata Rian sambil meletakkan tabletnya di atas meja. “Ini yang dinamakan hiperbola komoditatif. Coba kalian perhatikan logika bahasanya. Atas dasar epistemologi apa seorang penceramah kontemporer bisa mengklaim bahwa senyum seseorang ‘seolah-olah’ adalah senyum Rasulullah?”
Fahmi, pemuda yang menekuni studi filsafat secara otodidak lewat jurnal-jurnal terbuka internasional, membetulkan letak kacamatanya. Ia tersenyum getir.
“Secara metodologis, itu lompatan logika yang absurd, bahkan bisa dibilang pembodohan massal,” ujar Fahmi datar. “Ustadz Hidayatullah hidup di abad ke-21. Rasulullah wafat empat belas abad yang lalu. Sang ustadz tidak pernah bertemu langsung, tidak pernah bermimpi yang bisa divalidasi secara inderawi, dan tidak memiliki referensi visual aktual tentang bagaimana otot wajah Rasulullah bergerak ketika tersenyum. Kitab Syama’il Muhammadiyah memang menggambarkan sifat fisik Nabi secara tekstual, seperti gigi yang renggang dan bercahaya atau senyum yang tulus. Tetapi mereduksi deskripsi agung itu lalu menempelkannya pada wajah seorang manusia masa kini, entah demi apa, adalah tindakan yang menurunkan derajat kenabian.”
Gibran, anak muda ketiga yang aktif di komunitas literasi digital, ikut mengetuk meja. “Betul, Fahmi. Ini bukan sekadar salah ucap. Ini masalah integritas ilmiah. Demi merangkul jemaah sang habib yang jumlahnya jutaan, sang ustadz rela menggadaikan ketatnya disiplin ilmu yang selama ini ia banggakan. Ini strategi politik elektoral yang diterapkan dalam dunia dakwah: aliansi strategis berbasis sentimen figur.”
Mereka bertiga kemudian menoleh kepada Ilham, santri senior yang sejak tadi diam mendengarkan sambil membolak-balik lembaran kitab hadits di pangkuannya. Ilham dibesarkan dalam tradisi pesantren alam yang tidak hanya mengajarkan menghafal teks, tetapi juga bagaimana teks berdialog dengan realitas sosiologis dan keadilan publik.
“Dalam tradisi keilmuan Islam yang sahih,” Ilham berbicara dengan nada tenang namun setiap katanya terukur, “para ulama terdahulu sangat berhati-hati membuat analogi yang melibatkan pribadi Rasulullah. Menyebut senyum seseorang sama atau mirip dengan senyum Nabi hanya berdasarkan selera estetika pribadi adalah bentuk tasybih yang ceroboh. Ustadz Hidayatullah memiliki kapasitas keilmuan yang mendalam, kita tidak meragukan itu. Namun ketika kapasitas itu tidak digunakan untuk menegakkan kebenaran ilmiah secara istiqamah, melainkan ditundukkan di bawah syahwat popularitas dan kenyamanan panggung, maka esensi dakwah itu telah runtuh.”
Ilham menutup kitabnya dengan suara pelan namun tegas. “Tugas ulama adalah mencerdaskan umat, bukan meninabobokan mereka dengan narasi romantis yang tidak memiliki pijakan ilmiah. Jika kesalahan logika seperti ini dibiarkan hanya karena yang mengucapkan adalah ustadz kondang dan yang dipuji adalah habib besar, maka masa depan nalar keumatan kita akan hancur oleh kultus individu.”
Gelombang Koreksi Digital
Diskusi di saung bambu itu tidak berhenti sebagai obrolan pagi yang menguap bersama embun. Bagi anak-anak muda ini, ruang terbuka digital adalah medan dialektika yang sah. Jika kesalahan disampaikan secara terbuka di depan jutaan pasang mata, koreksi pun harus disebarkan secara terbuka agar umat memiliki penawar atas racun pembodohan.
Malam harinya, Rian, Fahmi, Gibran, dan Ilham mulai bekerja. Mereka tidak membuat video makian atau konten reaksi penuh kebencian seperti yang biasa diproduksi para pemburu adsense. Mereka menyusun video esai yang terstruktur dengan pendekatan metodologi riset yang ketat dan landasan teologis yang jernih.
Video itu dimulai dengan cuplikan pernyataan Ustadz Hidayatullah. Kemudian layar berganti menampilkan Fahmi yang membedah kritik epistemologisnya.
“Kita harus membedakan antara mahabbah (rasa cinta) yang tulus dengan hiperbola retoris yang manipulatif,” ucap Fahmi dalam video itu. “Menyejajarkan ekspresi fisik manusia hari ini dengan pribadi suci Rasulullah adalah kesalahan fatal yang merendahkan kedudukan kenabian. Bagaimana mungkin kita mengukur sesuatu yang absolut, yang belum pernah kita lihat, dengan sesuatu yang relatif yang ada di depan mata kita?”
Selanjutnya Ilham, sang santri kritis, muncul dengan latar perpustakaan pesantren yang sederhana. Ia membacakan beberapa kaidah dari para ulama salaf tentang pentingnya menjaga kemurnian sifat-sifat Nabi dari klaim mistis yang tak berdasar.
“Ulama sejati,” kata Ilham dengan wibawa santri yang kokoh, “adalah mereka yang istiqamah menjaga batas-batas ilmu. Mereka tidak akan memodifikasi narasi keagamaan demi menyenangkan hati jemaah atau memperluas pengaruh di darat. Ketika narasi ‘seolah melihat senyum Rasulullah’ ini dijual kepada umat yang awam, yang terjadi bukanlah peningkatan iman, melainkan pembodohan yang membuat umat kehilangan daya kritisnya.”
Video berdurasi sepuluh menit itu diberi judul yang sangat lugas: “Epistemologi di Balik Senyum: Koreksi Ilmiah atas Pernyataan Ustadz Hidayatullah”.
Ketika video itu dilepas ke jagat digital, reaksi yang datang bagaikan benturan dua lempeng tektonik. Di satu sisi, pasukan buzzer dan pengikut fanatik sang ustadz serta sang habib segera menyerbu kolom komentar. Mereka membawa persenjataan purba mereka: tuduhan kurang ajar, cap sebagai kaum rasionalis yang kering iman, hingga ancaman melaporkan video tersebut atas tuduhan pencemaran nama baik ulama.
“Siapa kalian? Cuma anak-anak kemarin sore yang sok tahu! Berani-beraninya mengoreksi Ustadz peraih gelar doktor honoris causa yang hafal ribuan kitab!” tulis salah satu akun berfoto profil logo majelis.
Namun di era media yang terbuka ini, benteng kultus individu tidak lagi sekuat dahulu. Gelombang kedua muncul dari kalangan mahasiswa, santri muda dari berbagai penjuru negeri, dan masyarakat awam yang selama ini memendam keresahan yang sama namun tak tahu cara merumuskannya. Mereka melihat video esai anak-anak muda ini sebagai oase logika di tengah padang pasir mistisisme dakwah digital.
“Terima kasih atas koreksinya. Sebagai orang awam, saya selama ini merasa ada yang aneh dengan kalimat Ustadz tersebut, tapi baru kali ini saya mendapat penjelasan yang sangat ilmiah dan tetap santun,” tulis seorang netizen di kolom komentar, yang kemudian disukai belasan ribu orang lainnya.
Video itu viral bukan karena sensasi, melainkan karena data yang ditampilkannya tak terbantahkan. Keberanian anak-anak muda ini mengusik kenyamanan sang elite agama yang selama ini merasa tak tersentuh di atas menara popularitas mereka.
Kepanikan di Menara Pualam
Di sebuah ruang kerja mewah di Ibu Kota, asisten utama Ustadz Hidayatullah menatap layar monitor dengan wajah tegang. Grafik engagement sang ustadz menunjukkan anomali. Di kolom pencarian media sosial, nama sang ustadz kini mulai bersanding dengan kata kunci “koreksi ilmiah” dan “salah logika”.
“Ustadz,” lapor sang asisten ketika Ustadz Hidayatullah baru selesai mengisi sebuah kajian eksklusif. “Video dari kelompok anak muda di kota pinggiran itu mulai memengaruhi opini publik. Beberapa tokoh ormas muda dan akademisi mulai membagikan ulang video tersebut. Mereka mempertanyakan dasar ilmiah pernyataan Ustadz tentang senyum sang habib.”
Ustadz Hidayatullah terdiam. Wajahnya yang biasanya dipenuhi senyum presisi sesaat menegang. Sebagai orang yang terdidik secara akademis, ia tahu betul bahwa argumen anak-anak muda di video itu secara metodologis benar dan sulit dipatahkan dengan dalil kitab apa pun. Ia tahu telah melakukan blunder logika demi memenuhi estetika panggung.
“Apakah kita perlu membuat video jawaban?” tanya sang asisten ragu-ragu.
“Tidak perlu,” jawab Ustadz Hidayatullah setelah menghela napas panjang. “Jika kita membalasnya dengan argumen ilmiah, kita akan kalah di hadapan publik yang kritis, karena posisi kita memang lemah secara epistemologis. Menyuruh mereka datang langsung untuk tabayyun juga mustahil. Itu hanya akan memberi mereka panggung dan memperpanjang rantai viral yang merugikan kita secara digital.”
Sang ustadz berjalan menuju jendela besar ruang kerjanya, memandang kemacetan Ibu Kota di bawahnya. “Perintahkan tim kreatif merilis video-video pendek baru bertema kedamaian, akhlak menghormati ulama, dan bahaya sifat dengki terhadap karomah orang saleh. Gerakkan akun-akun pendukung untuk menenggelamkan video koreksi itu dengan narasi sentimen emosional. Umat kita masih lebih mudah digerakkan dengan air mata daripada dengan logika kitab.”
Namun sang ustadz tahu di dalam hatinya bahwa strategi defensif itu tidak akan pernah mengembalikan keadaan seperti semula. Ruang digital telah dirobek oleh nalar kritis anak-anak muda, dan setiap kebohongan atau hiperbola yang ia ucapkan di masa depan akan selalu diawasi ribuan mata yang siap memverifikasinya secara mandiri.
Senyum dari Bawah Jati
Matahari sore mulai tenggelam di balik cakrawala, memancarkan warna jingga yang hangat di atas atap kayu Pesantren Alam. Di teras pendopo, Ustadz Suud memperhatikan para santrinya menggiring kambing-kambing masuk kandang, sementara beberapa santri lain sibuk merawat tanaman hidroponik.
Di mejanya, laptop menampilkan draf akhir tulisan yang sedang ia susun. Tulisan itu adalah refleksi mendalam tentang bagaimana kekuasaan politik dan industri popularitas sering meminjam jubah kesucian agama untuk menciptakan kepatuhan buta di kalangan umat.
Ilham, Rian, Fahmi, dan Gibran berjalan mendekati sang pengasuh. Mereka tampak lelah, namun mata mereka memancarkan kepuasan setelah seharian mengawal gelombang dialektika di ruang siber.
“Bagaimana pertempuran digital kalian hari ini, anak-anak muda?” tanya Ustadz Suud sambil tersenyum hangat, menyodorkan sepiring pisang goreng hasil panen kebun pesantren.
“Riuh sekali, Ustadz,” jawab Rian sambil duduk di lantai kayu. “Pasukan pendukung mereka mencoba meruntuhkan argumen kami dengan sentimen emosional. Tapi untungnya banyak juga santri dan mahasiswa yang mulai sadar bahwa menjaga kemurnian ilmu jauh lebih penting daripada menjaga nama besar seorang tokoh.”
Ustadz Suud mengangguk-angguk, pandangannya beralih ke langit sore yang damai.
“Itulah konsekuensi dari ruang terbuka digital yang kita nikmati hari ini,” ujar Ustadz Suud dengan nada penuh hikmah. “Ketika ruang fisik dimonopoli oleh feodalisme jubah, di mana kritik dianggap dosa dan kepatuhan buta dianggap satu-satunya jalan keselamatan, maka siber adalah alun-alun publik tempat kebenaran bisa diuji secara mandiri oleh siapa saja.”
Ustadz Suud mengambil cangkir kopinya, lalu menoleh kepada para pemuda di depannya.
“Ustadz Hidayatullah dan para elite penceramah itu mungkin memiliki jutaan pengikut yang bisa digerakkan lewat satu senyuman buatan di atas panggung mewah. Tapi ingatlah, senyum Rasulullah yang sejati tidak akan pernah ditemukan pada wajah-wajah yang bisu terhadap ketidakadilan, atau pada lidah-lidah yang memanipulasi dalil demi popularitas. Senyum Rasulullah yang sejati tercermin pada setiap usaha ulama yang istiqamah mencerdaskan umatnya, pada keberanian anak-anak muda yang menolak dibodohi, dan pada keringat para santri yang bekerja menghidupkan bumi dengan kemandirian.”
Ustadz Suud kemudian mengetikkan kalimat terakhir di laptopnya, menutup tulisannya dengan ketegasan sosiologis: bahwa menara kepalsuan yang dibangun dengan jutaan buzzer sekalipun akan selalu goyah ketika berhadapan dengan satu baris kebenaran ilmiah yang disuarakan dengan ketulusan dan keberanian dari pinggir pematang bawang yang sunyi.
Malam pun jatuh, membawa kesunyian yang menenangkan, sebuah kontras abadi dengan kebisingan siber yang sibuk memuja berhala-berhala takhayul yang mereka ciptakan sendiri.
***







