Kesenangan adalah Racun

Kebanyakan orang, kekayaan, kebahagiaan di dunia, dan hidup serba cukup merupakan tujuan hidup, sehingga mereka berusaha mati-matian untuk meraihnya. Apalagi di zaman sekarang ini, hampir dapat dipastikan semua orang menginginkan kesenangan dunia. Menginginkan mobil mewah, gemar belanja pakaian mahal, liburan ke luar negri, makan makanan yang modern dan lain sebagainya, merupakan keinginan yang umumnya diimpikan manusia.

Menurut Collins Gem (1993:97), pengertian hedonisme adalah sebuah doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup. Dengan kata lain, hedonisme adalah paham yang dianut oleh orang-orang yang semata-mata mencari kesenangan hidup.

Manusia cenderung pada kesenangan. Hal tersebut didorong oleh nafsu yang senantiasa memburu kehidupan materi semata. Jika sudah mendapat apa yang diinginkan, akan timbul kesenangan dan kepuasan dalam dirinya. Kesenangan itu akan menjadikan luka bagi kehidupan mendatang. Luka yang sulit ditemukan obatnya, bahkan bisa jadi luka yang timbul karena kesenangan tersebut tidak mempunyai obat penawar.

Sekarang ini, berbagai jalan menuju kesenangan semakin banyak tersedia bagi penikmatnya. Namun, juga harus diketahui bahwa terlalu lama bersenang-senang akan dapat menimbulkan kebosanan. Tidak hanya rasa bosan, bersenang-senang juga akan mendatangkan berbagai penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pola  makan yang tidak teratur. Sikap cinta dunia akan terus tumbuh menjadi sikap akut yang sulit dihentikan.

Bacaan Lainnya

Kesenangan dunia ini adalah kesenangan yang amat payah. Sekilas membuat perut buncit kekenyangan, tetapi setelah beberapa jam berlalu, perut akan kembali merasa lapar. Setiap bentuk dari sekian bentuk kesenangan di dunia, mempunyai batas akhir yang disebut dengan ‘batas kekenyangan’. Semua itu akan menjadi sesuatu yang sia-sia, bahkan memberikan mudarat yang akan berdampak pada dirinya, maupun pada orang-orang di sekitarnya.

 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran : 14).

Semua yang disebutkan dalam ayat ini adalah kehidupan dunia. Laki-laki suka terhadap wanita dan sebaliknya, manusia berharap memiliki keturunan, adalah bagian dari kesenangan. Cinta emas, perak, rumah yang indah, dan kendaraan yang bagus. Manusia senang dan berharap memiliki ternak yang banyak dan ladang yang luas, itu  juga termasuk kesenangan. Allah SWT. memberikan fitrah kepada manusia suka pada semua itu, menjadikannya indah dalam pandangan mereka.

Semua kesenangan-kesenangan semu itu akan merujuk pada konsep hidup hedonisme. Sikap hedonis bisa diukur dari lebih banyaknya kesenangan dari pada penderitaan pada hidup seseorang. Saat ini hedonisme bukan lagi sebuah pandangan, melainkan gaya hidup konsumtif  yang dipilih masyarakat urban (kekotaan). Gaya hidup yang menonjolkan kemewahan, kesenangan dan berfoya-foya serta menghamburkan uang.

Berbeda dengan pandangan Abana Nasih, Ia memiliki pemikiran lain mengenai kesenangan dunia. Baginya, kesenangan duniawi tak perlu dikejar dengan cara berlebih-lebihan yang akan membawa pada sifat isyraf. Bahwa kesenangan yang ada di dunia ini adalah racun. Bagaimana tidak? Kesenangan membawa pada kelalaian yang akan membuat lupa bahwa hidup ini bersifat sementara.  Lebih berbahaya dari racun ular yang berbisa. Racun yang akan membunuh masa depan dengan cara perlahan.

Orang yang hidup secara hedonis akan terindikasi sebagai orang yang gagal. Lembaran-lembaran rupiah dan segudang waktu, mereka habiskan hanya untuk mencari kesenangan-kesenangan. Saat orang lain menyibukkan diri mempersiapkan hidup yang lebih baik di masa mendatang, ia malah bersantai ria dan beranggapan bahwa hidupnya akan selalu dilimpahi kenikmatan seperti yang mereka rasakan sekarang. Padahal itu adalah pemikiran yang salah.

Abana tergolong orang yang super sibuk. Jakarta-Semarang-Rembang selalu menjadi rantai rutinan perjalanan Abana setiap minggunya. Meskipun demikian, Abana hampir tak pernah membeli makanan di kereta saat ia pergi ke Jakarta, ia lebih suka membawa bekal sendiri dari rumah. Bukan berarti Abana tidak mampu membeli makanan ataupun semacamnya ketika bepergian. Namun,  Abana menerapkan sikap pelit terhadap dirinya, ia selalu ingat bahwa ada hal lain yang lebih penting, yang lebih harus ia biayai daripada sekedar membeli makan di pinggir jalan.

Ketika mendapat undangan lintas kota sekalipun, undangan nikahan santri-santrinya, ceramah, atau yang lainnya, Abana tak pernah menyempatkan mampir ke warung makan. Abana sudah lebih dulu makan di rumahnya atau kalau tidak, ia akan makan setelah sampai ke tempat tujuan. Sebab, Abana selalu memastikan komposisi makanan, ia hanya akan makan makanan yang terjamin kesehatannya. Hal itu yang selalu Abana ajarkan kepada para santrinya.

Seorang santri ataupun mahasiswa harus menghindari kesenangan. Sebab, seorang santri harus hidup sederhana, menjauhkan diri dari kemewahan dunia. Sebab, mahasiswa adalah agent of change, hidup manusia harus dijalani dengan penuh perjuangan demi perubahan (dari keburukan menuju kebaikan). Jadi, sikap hedonis tidak patut ada pada diri mahasiswa. Apapun yang berhubungan dengan kesenangan semu, Abana selalu berusaha menghindari. Abana memposisikan diri sama seperti santri-santrinya, jauh dari kemewahan. Kamar yang biasa Abana gunakan istirahat seusai kajian di Monash Institute sangat sederhana dan jauh dari kata mewah, begitu pula di Planet Nufo (SMP Alam, yang terletak di desa Mlagen, kecamatan Pamotan, kabupaten Rembang), Abana memilih beristirahat di dalam mobil, sebelum ada rumah kapsul.

Abana seolah tak pernah merasa lelah menapaki perjuangannya untuk umat. Dia tak tanggung-tanggung meninggalkan keluarganya, karena anggapan dia berkumpul bersama keluarga termasuk kategori kesenangan. Abana hanya bertemu dengan keluarganya hanya 2 sampai 3 kali dalam seminggu yaitu ketika weekend, itupun terkadang harus meninggalkan keluarga ketika ada kepentingan dadakan di luar kota. Abana sempat berbincang-bincang dengan beberapa pegawainya di Planet Nufo saat mereka mulai mengeluh perihal hidup mereka, “Hidup kalian lebih enak daripada saya, kalian bisa tidur di rumah bersama keluarga setiap hari, kalian harus banyak bersyukur atas nikmat Allah,” ucap Abah dengan nada bercanda.

Abana berpikir demikian  bukan berarti ia tak mempunyai kesenangan dalam hidup. Namun, cara yang dipilih untuk menikmati kehidupan tak sama dengan orang-orang pada umumnya. Ia mengayomi keluarga dengan memberikan kebahagiaan yang juga dapat memberinya pelajaran. Misal saja pada anaknya, Abana mengajak anaknya untuk berlatih menunggang kuda, karena menurut dia menunggang kuda merupakan olahraga bahkan kebiasaan yang dilakukan nabi Muhammad SAW. Sebagai latihan ketahanan tubuh, saat menunggang kuda dibutuhkan ketahanan agar tetap duduk dengan tegap mengikuti hentakan kuda yang tentunya menguras tenaga dan butuh konsentrasi penuh pula. Bukan hanya menunggang kuda, Abana juga menyempatkan waktu di sela-sela kesibukan untuk mengajak buah hatinya berenang dan juga memanah. “Ajari anak-anakmu: berkuda, berenang dan memanah”. Kalimat yang pernah diungkapkan oleh Umar bin Khattab RA. Jika  ditilik, kegiatan tersebut menyumbangkan manfaat yang sungguh baik untuk tubuh. Oleh karena itu, Abana memilih kesenangan yang berfaedah, yakni bagi kesehatan anak-anaknya.

Menikmati kebahagiaan hidup tak berarti haram hukumnya untuk dilakukan, justru kehidupan ini harus dinikmati sebagaimana mestinya, memilih kesenangan dengan batas kewajaran. Merasa cukup atas apa yang dimiliki, tak perlu mewah, tak perlu dengan harga mahal. Membaca, memahami, dan mengkaji al-Qur’an merupakan cara tepat dalam mensyukuri nikmat dunia. Mencintai dunia dengan mengkaji sejarah manusia-manusia terpilih yang ada dalam al-Qur’an.

Abana tak pernah lepas dari ayat-ayat al-Qur’an dalam kesehariannya. Dengan merangkul al-Qur’an setiap saat, kesenangan muncul pada dirinya. Abana selalu menancapkan dalam dada kami, bahwa saat merasa bosan, bukan jalan-jalan solusinya, melainkan membaca al-Qur’an, sebagai refreshing terampuh yang bisa menjernihkan jiwa dan pikiran. Tak bisa dipungkiri, al-Qur’an memang ladang dari berbagai ilmu. Orang yang cinta dengan ilmu tak akan membuang sedikit pun waktu untuk bersenang –senang. Sebab, bagi mereka kesenangan yang sesungguhnya adalah mencintai al-Qur’an.

Oleh: Wahyuningsih, Disciple 2019 Monash Institute Semarang,  Penerima Beasiswa Prestasi Pendidikan Tinggi Kabupaten Rembang Tahun 2019.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *