KARENA POLITIK, MENYERIUSI PENDIDIKAN HOLISTIK

 

Profil Singkat Dr. Mohammad Nasih, M.Si., (Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Rembang, Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an MONASMUDA INSTITUTE)

Lahir di Mlagen, sebuah desa tertinggal di Kabupaten Rembang, pada 01 April 1979, membuat Mohammad Nasih memiliki pengalaman hidup awal bersama masyarakat yang terpinggirkan. Manis getir pernah dilaluinya di desa yang terletak di kira-kira 13 KM dari pusat kota itu, memberikan kepadanya banyak kenangan yang tak terlupakan. Kadang memang muncul pertanyaan dalam hatinya kenapa ia dilahirkan di desa yang tidak ada dalam peta itu? Namun, ia justru sadar bahwa tak ada satu pun yang bisa memilih untuk dilahirkan di mana dan oleh siapa. Keduanya murni sebagai anugerah Allah Yang Maha Kuasa. Baru setelah lahir dan bertumbuh kembang, setiap orang memiliki kesempatan untuk memilih; akan tetap stagnan dan menerima apa adanya atau menjalani perjalanan hidup yang dinamis walaupun harus menghadapi banyak gelombang. Ia memilih yang kedua.

Lahir dalam keluarga yang sangat religus dengan nuansa pendidikan yang kuat, karena bapak ibunya adalah hafidh-hafidhah (penghafal al-Qur’an) yang menjadikan rumah dan mushalla di depannya sebagai tempat belajar baca tulis al-Qur’an, ia syukuri sebagai sebuah anugerah yang sangat besar. Lingkungan keluarga itu membuatnya “dipaksa” memiliki bekal ilmu alat untuk belajar al-Qur’an, hadits, dan khazanah intelektual Islam yang umumnya berbahasa Arab dengan belajar khusus kepada bapaknya sendiri. Bapaknya adalah sarjana tahun 70-an yang tidak tertarik menjadi PNS dan lebih memilih berwirausaha pertanian tebu karena ingin menjadi manusia merdeka. Dengan tanah yang cukup luas, berupa tanah warisan, tanah bengkok sebagai kepala desa, maupun tanah sewaan, menjadikan ayahnya berkecukupan secara finansial. Bapaknya beberapa kali menjelaskan makna wiraswasta sebagai pekerjaan yang ditulis di dalam rapot sekolahnya dengan: “Bapak bisa membaca al-Qur’an dari setelah aktivitas shubuh sampai pukul 07.00, lalu pergi ke lahan pertanian, lalu ke balai desa, lalu pulang istirahat pukul 11-an dan setelah shalat dhuhur bisa istirahat lagi sebentar, lalu ke madrasah mengajar, melihat lahan pertanian lagi, dan setelah aktivitas maghrib bisa membaca al-Qur’an sampai malam, tanpa ada yang mengatur-atur, itu namanya wiraswasta.” Pelajaran sederhana dari bapaknya ini sangat membekas dalam dirinya dan memacunya untuk selalu berpikir besar dan tak malu memulai dari yang nampak sepele. Bapaknya juga seorang yang keras dalam mendidiknya dengan menerapkan sistem reward dan punishment untuk membangun karakternya.

Sejak kelas IV, pada hari-hari tertentu setelah isya’, ia sudah mengikuti kelas nahwu dan tashrif yang menjadi pembuka kajian fikih Imam al-Syafi’i yang diberikan oleh bapaknya bersama para santri kalong di rumahnya. Saat kelas VI, bapaknya sudah mulai mengajarinya membaca Tafsir Jalalayn secara privat, dan juga di madrasah diniyah, karena bapaknya adalah kepalamnya. Bahkan kemudian menjadi salah satu pendiri utama MTs Darul Huda Mlagen. Letak kantor/balai desa dan madrasah yang berseberangan memudahkan bapaknya untuk memimpin lembaga pemerintahan dan pendidikan itu tanpa kendala waktu.Semua berjalan sangat sinergis.

Selain sekolah dan mengaji, ia mengisi waktu dengan memelihara domba, berbagai unggas mulai dari ayam, bebek, mentok, sampai burung, dan pernah juga sapi pemberian neneknya. Hampir setiap pagi buta, sejak ia bisa naik sepeda motor, ia menjadi kurir pengantar “SMS” bapaknya yang ditulis di atas papir rokok untuk para pekerja sebagai instruksi pekerjaan yang harus mereka kerjakan di lahan pertanian yang kemudian hampir secara keseluruhan ditanami tebu. Kadang ia juga mengantar kertas berasa manis itu ke areal persawahan atau tegalan jika ada pesan susulan. Bermotor di pematang sawah dan tegalan membuatnya berimajinasi menjadi pembalap professional. Namun, imajinasi itu kemudian hilang karena tidak mendapatkan dukungan. Dia kemudian menyadari bahwa dari menggembala dan mengurus binatang inilah, dia mendapatkan pelajaran secara langsung dan riil tentang seni memimpin dan mendidik, selain pelajaran yang dilihatnya dari kehidupan keseharian bapaknya memimpin perangkat desa, para guru/ustadz/ah di madrasah, juga para pekerja untuk menggarap lahan pertanian. Karena aktivitas yang padat itu, ia banyak belajar untuk mengatur waktu. Selesai menjalani aktivitas shubuh berjama’ah di mushalla depan rumahnya dan bahkan juga menjadi petugas adzan, ia mengurus binatang ternaknya dengan cepat, dan langsung berangkat sekolah. Pulang sekolah pada saat setelah dhuhur langsung kembali mengurus peliharaannya itu, lalu berangkat kembali belajar di madrasah diniyah sampai senja. Waktu yang sempit itu ia gunakan untuk menggembalakan domba-dombanya di tepi areal tegalan sebelah timur rumahnya yang terletak di ujung desa. Ketika hampir waktu maghrib, ia mengarahkan ternaknya pulang dan melakukan persiapan untuk shalat maghrib dan mengajar mengaji puluhan anak lelaki yang tinggal di sekitar rumahnya. Ini dilakukannya sampai kelas III sekolah menengah.

Modal ilmu-ilmu dasar yang diperolehnya dari orang tua, madrasah, dan sekolah, membuatnya mendapatkan kemudahan untuk menyerap pelajaran ketika melanjutkan pendidikan menengah di MAN Lasem dan mondok di Pesantren an-Nur Lasem. Kajian Tafsir yang lebih intensif di pesantren yang diasuh oleh Kiai Manshur Khalil membuatnya makin menyukai ilmu pengetahuan dan membuat keinginannya menjadi ilmuan makin kuat, terutama sekali setelah bapaknya meninggal. Obsesinya adalah mereintegrasikan antara ayat-ayat kawniyah dengan ayat-ayat qawliyah. Utamanya kajian tiga kitab tafsir dasar, yaitu: Jalalayn, Tafsir Munir (Marah Labid), dan Tanwir al-Miqbas, di samping kitab-kitab yang lain dalam bidang fikih dan tasawuf, membuatnya semakin termotivasi dan mudah menghafalkan al-Qur’an dan selesai sebelum ia naik kelas III. Di sekolah ia mengambil jurusan IPA, untuk mewujudkan obsesinya itu. Dan benar saja, tahun 1997 ia diterima PMDK di Jurusan Pendidikan Fisika IKIP Negeri Semarang (kini Unnes) dan Jurusan Tafsir Hadits IAIN Walisongo Semarang. Namun, ia baru benar-benar kuliah di Jurusan Tafsir hadits setahun setelahnya.

Di Unnes inilah perkenalannya dengan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dimulai hingga menjadi aktivis tulen dan mengikuti latihan kader sampai menjadi instruktur perkaderan dan dikenal sebagai pemateri NDP (Nilai-nilai Dasar Perjuangan) HMI. Bahkan HMI seolah menjadi kampus utamanya dan makin menguatkan keinginannya menjadi akademikus dan ditambah lagi dengan aktivis politik. Kemampuannya secara akademik tidak hanya ditunjukkan dengan menjadi wisudawan dengan IPK tertinggi (3,9), tetapi juga penulis di berbagai media, baik lokal maupun nasional sejak semester III. Dinamika kehidupan kampus, terutama di IAIN, yang disebabkan oleh persaingan tidak sehat karena dorongan fanatisme afiliasi ormas keagamaan, membuatnya tercerabut dari akar tradisi NU dan menjadi aktivis Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah (2001-2003). Lalu berlanjut menjadi Pengurus PP Pemuda Muhammadiyah pada era kepemimpinan Dr. Abdul Mu’ti dengan berkhidmat di departemen pengembangan pemikiran Islam saat ia hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan studi di Pascasarjana Ilmu Politik UI (2003) setelah tak lagi menjadi aktif di PB HMI.

Sebelum lulus S2, ia menjadi Staff Ahli di Fraksi PAN DPR RI membidangi masalah-masalah social, agama, dan politik. Setelah menempuh studi S3 di program yang sama (2006), ia mulai mengajar di Pascasarjana Ilmu Politik UI, FISIP UMJ, dan pernah juga di FISIP UIN Jakarta atas permintaah Prof. Dr. Bachtiar Effendy dengan konsentrasi utama pemikiran politik Islam. Tesis “Evolusi Gagasan Politik Muhammadiyah: Dari Negara Islam ke Negara Bangsa” dan disertasinya “Dinamika antara Islam dan Nasionalisme di Turki dan Indonesia (2000-2010) menjadi bukti perhatiannya yang makin mendalam kepada pemikiran politik Islam. Ia juga aktif di ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia) dengan menjadi Ketua Presidium Masika ICMI (2006-2009), lalu menjadi Wakil Sekretaris Dewan Pakar PP ICMI.
Pergaulannya yang lintas batas daerah, tradisi, orpol, dan ormas, membuatnya menjadi pribadi yang sangat terbuka. Tidak ada lagi fanatisme dalam pikirannya sebagaimana pada masa awal keluar dari daerahnya. Loyalitas penuh hanya diberikan kepada umat dan bangsa. Fanatisme firqah dan ormas dipandangnya hanya menyebabkan orang terjerembab ke dalam sikap jahiliyah. Bahkan ia kritis sekali terhadap fenomena-fenomena yang sesungguhnya merupakan eksploitasi umat oleh elite agamanya sendiri, baik itu kiai, ustadz, dan panggilan lain semacamnya. Ia merasa prihatin karena masih saja ada elite agama yang memanipulasi kesadaran umat awam untuk menjadi fanatik buta dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Itu ia anggap sebagai faktor yang menyebabkan umat Islam mengalami ketertinggalan semakin jauh, terutama dalam sains dan teknologi, yang kemudian berimplikasi kepada aspek ekonomi dan politik.

Menjelang Pemilu 2009, ia memenuhi panggilan tanggung jawab ilmuan dan aktivis politiknya dengan maju menjadi caleg DPR RI dari PAN Dapil III Jateng. Karena dia sudah tahu dengan baik konstalasi politik Dapilnya, maka ia tidak terkejut sama sekali tidak masuk ke Senayan. Namun, itu tidak membuatnya kapok menjadi aktivis politik. Bahkan justru makin semangat untuk menjadi ilmuan dan aktivis politik. Hanya saja, ia mengubah strategi dengan menyeriusi pendidikan politik. Sebab, tanpa pendidikan politik yang cukup, politik Indonesia tidak akan berubah menjadi lebih baik. Dan tanda-tandanya justru sebaliknya cenderung menjadi lebih buruk. Dalam sistem politik yang kian liberal, kualitas politisi tidak dijadikan sebagai preferensi rakyat untuk memilih. Mayoritas rakyat memilih karena uang. Logika kalah oleh logistik yang digunakan untuk praktik money politic yang merusak mentalitas publik. Karena itulah pada medio 2010 ia merintis sebuah lembaga perkaderan dan tahun berikutnya benar-benar berdiri Mohammad Nasih Institute atau sering disebut Monash Institute yang mulai beroperasi dengan 25 kader. Dengan modal zakat pribadi dari hasil tebu di tanah warisan alm. bapaknya, ia memulai dengan memberikan beasiswa kepada kader-kader yang rekrutnya dan ditempatkan di beberapa rumah kontrakan di seberang kampus III UIN Semarang. Kini Monash Institute telah memiliki beberapa gedung megah sendiri dengan ratusan mahasantri kader yang digembleng di dalamnya.
Monash Institute sejak awal mengusung visi besar untuk melahirkan kader-kader muslim berkualitas ‘ilm al-‘ulama’ (ilmu para ulama’), amwâl al-aghniyâ’ (harta para trilyuner), dan siyâsat al-mulûk wa al-mala’ (ketrampilan politik para penguasa dan elite politik), karena melihat Nabi Muhammad adalah seorang pribadi lengkap (insân kâmil) dengan ilmu berbasis wahyu, harta hasil usaha yang dihabiskan untuk berjuang, dan kekuasaan yang digunakan untuk menolong semua orang. Lembaga perkaderan ini memang telah mengantarkan para mahasantrinya menjadi pribadi yang mengalami perubahan signifikan. Tidak kurang dari 60 persen di antara mereka yang telah menyelesaikan studi S2 baik di dalam maupun luar negeri menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi. Capaian ini membuat ia melakukan evaluasi. Sebab, prosentase mahasantri yang menjadi pengusaha amat sangat rendah. Dan walaupun cukup banyak yang menjadi lulusan terbaik saat wisuda di kampus, tetapi ia melihat kualitas keilmuan mereka masih di bawah harapan. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, bersama dengan seniornya yang juga Ketua KAHMI Rembang, Alm. Arief Budiman, didukung oleh belasan mahasantri angkatan 2014 yang sedang menempuh studi pascasarjana yang menyediakan diri mereka menjadi guru, mendirikan Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) di desa kelahirannya. Ia membangun harapan yang lebih besar dengan membina kader-kader belia yang diharapkan bisa hafal al-Qur’an dan memahami artinya sebelum lulus SMU. Tahun terakhir di SMU bisa digunakan untuk mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi excellent yang bisa menopang mereka dengan profesi yang riil.

Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO didesain sebagai lembaga pendidikan dengan kurikulum holistik, tidak hanya menekankan keilmuan dan kaderisasi kepemimpinan, tetapi juga memberikan penekanan lebih kepada aspek wirausaha. Kelemahan yang masih terjadi di Monash Institute dan dianggapnya sebagai masalah paling akut umat Islam ini diberi perhatian lebih di sini, dengan mengarahkan para santri memiliki usaha-usaha riil di bidang pertanian dan peternakan. Di Planet NUFO, para santri memelihara domba, kambing, sapi, ayam, bebek, maggot, dan menjadikan kotorannya sebagai pupuk organik untuk berbagai tanaman, mulai sayuran sampai buah-buahan. Semua usaha tersebut dijalankan secara terintegrasi, sehingga memiliki peluang lebih besar mendapatkan keuntungan, dan terutama untuk membangun karakter wirausaha para santri. Kepada para santri belia ini, ia selalu berpesan untuk belajar dan bekerja keras untuk menguasai dunia dengan sains dan teknologi. Kerja tidak cukup hanya dilakukan dengan keras dan ikhlas, tetapi juga harus cerdas dengan basis sains dan teknologi. Para santri tidak cukup hanya dengan menjadi kaya, tetapi harus kaya raya dan memiliki paradigma untuk membawa harta kekayaan yang mereka miliki ke akhirat. Caranya dengan menggunakan harta kekayaan itu sebagai sarana perjuangan di jalan Allah. Dengan cara itu, harta kekayaan itu akan menjadi teman baik di akhirat. Semakin banyak harta yang digunakan untuk itu akan semakin baik. Dan yang juga selalu ditekankan adalah bahwa sarana perjuangan yang paling efisien adalah kekuasaan politik. Jika para santri dengan kecerdasan intelektual, emosional, finansial, dan spiritual sekaligus berhasil menguasai struktur kekuasaan politik, maka bisa diharapkan kekuasaan politik akan menjadi sarana untuk menolong seluruh warga negara.

Dengan dukungan keluarga dan teman-temannya, Pesantren Planet NUFO yang didirikan dan beroperasi pada tahun 2019 berkembang dengan sangat akseleratif. Awalnya ia hanya menggunakan lahan pribadinya seluas kira-kira 1500 M2 untuk membangun asrama dan bilik-bilik berbentuk kapsul yang unik dari gorong-gorong raksasa. Namun, tahun berikutnya ditambah dengan tanah wakaf dari ibu kandungnya seluas hampir 2000 M2 untuk membangun rumah kayu untuk rumah-rumah kayu dan bilik-bilik unik untuk para guru dan green house, tahun berikutnya ditambah tanah hibah dari istrinya seluas hampir 2500 M2 untuk membangun lima lokal kelas untuk memenuhi standar akreditasi nasional, kandang kelinci, dan toilet umum, tahun 2021 ditambah hibah dari temannya sesama mantan aktivis HMI tanah seluas lebih dari 2000 M2 untuk kandang sapi yang terintegrasi dengan lahan pertanian, lalu tanah seluas 2300 M2 untuk lahan pertanian, dan tanahnya sendiri seluas lebih dari 2500 M2 untuk membangun replica ka’bah yang sekaligus berfungsi sebagai studi yang dikelilingi oleh sarana olah raga, dan masih ditambah dengan beberapa hektar tanah yang disewa dari warga sekitar. Planet NUFO benar-benar telah bermetamorfosis untuk mewujud seperti yang dicita-citakannya. Tanah yang menjadi hak milik Planet NUFO digunakan untuk membangun sarana dan prasarana tetap, seperti bilik-bilik santri, gedung sekolah, dan kandang hewan ternak. Sedangkan tanah sewaan digunakan untuk aktivitas yang relative fleksibel, terutama untuk usaha di bidang pertanian.

Pendidikan holistik ini telah menarik perhatian banyak orang dari seluruh penjuru nusantara. Walaupun baru beberapa tahun berdiri, santri Planet NUFO sudah berjumlah ratusan dan datang dari berbagai pulau di nusantara. Sebagian mereka adalah anak-anak temannya sesama mantan aktivis mahasiswa, baik HMI maupun yang lainnya. Melihat perkembangan ini, ia menjadi semakin optimis, bahwa usahanya untuk melahirkan pribadi yang cerdas, kaya, dan berkuasa akan menemukan jalannya. Itulah yang membuat makin bersemangat sampai-sampai selama masa pandemic Covid-19 mengunjungi Planet NUFO dan mengajar langsung para kader belianya dua kali dalam sepekan. Dengan usaha keras sepenuh kesabaran dan do’a sepenuh tawakkal, Allah akan memberikan pertolongan untuk melampaui yang diinginkan. Itulah keyakinan yang sering ditekankannya. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *