Indonesia dan Kutukan Sumber Daya Alam (1)

Kekayaan sumber daya alam di Indonesia sangat berlimpah. Hal ini terbukti dengan banyaknya hutan yang ada di Indonesia. Hutan-hutan ini menyimpan segala sumber daya alam yang dapat digunakan untuk mensejahterakan masyarakat. Ada kayu untuk membangun rumah. Ada beraneka macam satwa yang dapat diteliti. Ada berbagai flora yang dapat diidentifikasi demi kekayaan pustaka dan juga obat dari berbagai penyakit. Namun, yang dirasakan masyarakat justru sebaliknya.

Bukannya menjadi manfaat bagi rakyat, malah menjadi biang keladi kemiskinan yang semakin merajalela. Alih-alih mendapatkan tuah, masyarakat malah mendapat asap dari pembukaan lahan yang dilakukan oleh perusahaan asing dari negeri yang miskin sumber daya alam. Seperti halnya pembakaran hutan yang dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit asal Korea Selatan di hutan Papua.

Melihat fenomena semacam ini,  mengingatkan tentang  teori “Kutukan Sumber Daya Alam”. Richard Auty, pertama kali menggunakan istilah ini untuk menggambarkan kondisi  negara-negara atau daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam, tetapi pertumbuhan ekonominya tidak sepesat negara atau daerah yang sumber daya alamnya terbatas. Bahkan bisa dikatakan bahwa sumber daya alam tersebut menjadi dalang kemiskinan yang semakin merajalela.

Kekayaan hayati maupun non-hayati yang dimiliki Indonesia akan percuma jika kita tidak pandai merawat serta memanfaatkannya. Sebagai contoh sumber daya alam non hayati, kita memiliki tambang minyak yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Tapi mengapa kita tidak sekaya Arab Saudi? Negeri tandus dan gersang dengan banyak bukit gurun itu pun mampu menjadi eksportir minyak mentah dunia.

Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa karunia sumber daya alam yang dimiliki Indonesia tidak dapat dianggap remeh atau disepelekan. Jangan sampai karena terlena dengan sumber daya alam, mengakibatkan kita salah urus. Akibatnya akan kalah dengan teknologi yang kini kian canggih.

Sebagai contoh, mobil yang dulu memerlukan bahan bakar dari minyak bumi sudah digantikan oleh teknologi mobil dengan bahan bakar energi listrik yang terbarukan. Jangan sampai kita terkena kutukan sumber daya alam karena terlalu bergantung pada sumber daya alam yang dimiliki. Apalagi jika yang kita gantungkan adalah sumber daya alam non-hayati, sumber daya alam yang jelas tidak dapat diperbaharui lagi. Jika selalu kita eksploitasi, bukan tidak mungkin sumber daya tersebut akan habis dan akibatnya kita akan jatuh miskin karena  kita tidak punya cadangan sumber daya alam yang kita unggulkan.

Seperti roda yang berputar, permainan sumber daya alam ini kadang kala memang ada saatnya di atas dan ada saatnya di bawah. Tugas kita kini adalah memastikan bahwa ketika di atas, kita mampu memanfaatkan momentum tersebut sebaik mungkin dan menghindarkan diri dari ketergantungan yang berlebihan. Sehingga, ketiks berada di bawah kita tidak kesulitan mencari pengganti dan hidup dapat tetap berjalan dengan stabil sembari tetapmelakukan perawatan, konservasi, reboisasi demi sumber daya alam untuk masa yang akan datang. Ini belum kekayaan laut Indonesia.

Bersambung…!

Oleh: Muhammad Wildan Atqiya, Mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar