Blora, kota yang sering dijuluki dengan Kota Samin merupakan penghasil kayu jati dengan kualitas yang sudah tidak diragukan. Sehingga Blora juga dinamakan dengan kota jati karena hampir di setiap penjuru ditumbuhi pohon jati.
Selain kayunya, masyarakat Blora juga memanfaatkan daun jati dalam kehidupan sehari-hari. Selama ini, daun tersebut baru dimanfaatkan sebagai pembungkus tempe dan makanan, seperti pembungkus nasi pecel serta lontong tahu khas Blora.
Tak hanya itu, ternyata daun jati juga dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami pada tekstil. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ainur Rosyida dan Didik Achadi W dengan judul “Pemanfaatan Daun Jati Muda untuk Pewarnaan Kain Kapas pada Suhu Kamar” yang menyebutkan bahwa kain yang telah dicelup dengan ekstrak daun jati tidak luntur warnanya setelah dilakukan beberapa kali pencucian, sehingga dapat memenuhi persyaratan untuk digunakan sebagai zat warna tekstil.
Bicara manfaat jati, ada minuman khas Blora yang disebut es jati. Minuman ini sering dijajakan di Alun-alun kota dan sepanjang jalan Pemuda, yang merupakan jalan utama Kota Blora. Dari namanya kita tahu bahwa es jati terbuat dari salah satu bagian dari pohon jati. Es ini terbuat dari campuran ekstrak pucuk daun jati yang diberi pemanis gula jawa yang dicairkan serta santan.
Umumnya, orang-orang menganggap bahwa daun jati hanya bisa dimanfaatkan sebagai pembungkus dan tidak dapat diolah menjadi makanan karena daun jati memberikan rasa gatal bila tersentuh kulit serta memberikan rasa pahit jika tertelan. Namun, daun jati ternyata aman jika diolah menjadi makanan.
Seperti halnya es jati ini, yang terasa hanya nikmatnya saja, tidak ada rasa pahitnya sama sekali. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Candra Dwipayana Hamdin, Dheni Cahyo, dan Dandiko Galanova dengan judul “Ketoksikan Akut Oral Zat Pewarna Makanan Daun Jati (Tectona grandis sp.) pada Tikus Wistar”. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa pemberian ekstrak daun jati dosis 2000 dan 5000 mg/kg BB tidak memberikan efek toksik pada organ hati, ginjal, usus halus, jantung, lambung, limpa, dan paru-paru.
Minuman jati ini biasa dijual seharga tiga ribu rupiah per bungkus. Di dalamnya berisi irisan cincau sebagai isian es jati. Sehingga Ketika diminum terasa seperti es cincau pada umumnya. Bedanya sari daun jati lebih terasa. Selain harganya yang merakyat, beberapa senyawa yang terkandung di dalamnya sangat bagus untuk kesehatan. Sesuai penelitian Ika Buana Januarti, Arifin Santoso, dan Akhdan Sultrawan Razak yang berjudul Ekstraksi Senyawa Flavonoid Daun Jati (Tectona grandis L.) dengan Metode Ultrasonik (Kajian Rasio Bahan: Pelarut dan Lama Ekstraksi), daun jati mengandung senyawa flavonoid, saponin, tannin dan alkaloid.
- Flavonoid, bermanfaat untuk melancarkan peredaran darah keseluruh tubuh, mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah, mengurangi kandungan kolesterol dan mengurangi penumbuhan lemak pada dinding pemuluh darah serta mengurangi resiko penyakit jantung coroner.
- Saponin, mempunyai fungsi sebagai antioksidan yang memiliki manfaat untuk melawan berbagai radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu, saponin dapat mencegah penuaan dini dan dapat memperlama penuaan.
- Tannin, berfungsi sebagai zat anti bakteri. Dengan adanya kandungan tannin maka daun jati mempunyai manfaat sebagai pelindung luar dari bakteri dan dapat menjaga sistem kekebalan tubuh.
- Alkaloid, memiliki manfaat untuk memacu sistem saraf, menaikkan atau menurunkan tekanan darah dan melawan infeksi mikrobia.
Terkait dengan adanya berbagai macam minuman yang kurang sehat, es jati ini bisa menjadi solusi sehat untuk kita. Selain itu, di masa pandemi seperti ini es jati agaknya menjadi cara paling tepat untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Dan bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa risau harga yang tinggi.
Oleh: Eva Fitria Nur Setianingsih, Mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Walisongo Semarang.





