Hikmah Kisah Adam dan Strategi Pembinaan Ummat

Kisah Adam mempunyai parelisasi dan/atau kesamaan dengan perjalanan dakwah Nabi Muhammad. Perjalanan Dakwah hingga terbangunnya salah satu  tujuan akhir dakwah yaitu “Jannah” bernama Madinatul Munawwaroh.

Memahami kisah Adam ( dan kisah2 Nabi/Rosul yg lainnya)  harus memahami “konteks” perjalanan Dakwah Nabi Muhammad. Karena apa yg Allah turunkan/wahyukan kepada Nabi Muhammad sepanjang perjalanan dakwahnya adalah jawaban-jawaban  terhadap tantangan-tantangan  dan dinamika dakwah yg ditemuinya. Dan prinsip dan dinamika dakwah ini akan selalu sama sepanjang manusia ada, yang membedakan adalah cuma waktu dan jamannya saja.

Contoh, ketika menghadapi kaum yahudi yg “bandel”, Allah turunkan kisah “kebandelan” Bani Isroil dalam cerita penyembelihan sapi betina, dll. Fenomena Janda dan Anak Yatim  (korban perang), Allah turunkan surat An Nisa yg sering diributkan hanya urusan “poligami” nya😂. Menghadapi sistem perekonomian/moneter yg saling “menghisap” dan mendzolimi, Allah menurunkan perintah zakat dan larangan riba. Dan seabreg contoh lainnya.

Atau, kita bisa memahami konteks sejarah Nabi Muhammad dengan memahami dan menghayati ayat2 yg sedang kita baca.

Bacaan Lainnya

Konteks Sejarah

Kisah Adam yg ada dalam Al Baqarah (khususnya) adalah termasuk ayat2 madaniyah dan surat al Baqarah sendiri hampir sebagian besar ayat-ayatnya turun di tahun-tahun pertama periode Madaniyah.

Dimana, dalam periode Madaniyah Nabi Muhammad sudah berhasil membangun sebuah tatanan kehidupan masyarakat yang dilandasi oleh wahyu Allah.

Sebagaimana catatan sejarah, Masyarakat Madinah yang baru lahir tersebut mendapat gangguan serta cobaan baik dari luar maupun dari dalam.

Gangguan-gangguan  dari luar adanya upaya kaum musyrikin Makkah yg berusaha menghancurkan dengan jalan perang, dan gangguan dari dalam adanya upaya dari kaum munafik dan Yahudi yang dengan berbagai cara berusaha menghasut, mengadu domba bahkan melakukan sabotase dan pengkhianatan.

“Disisipkannya” kisah Adam dalam awal-awal surat Al Baqarah bisa dilihat dari konteks itu. Agar Nabi dan para pengikutnya bisa mengambil Ibroh/pelajaran dari kisah Adam dan mengaplikasikannya dalam realitas. Dan mengantisipasi upaya-upaya untuk “menghancurkan” Jannah yg mulai terlahir.

Konteks Ayat dan Surat

Dilihat sari susunan keberadaan kisah Adam dalam surat Al Baqarah, ada hubungan logis yg mengaitkan antara sub tema satu dengan sub tema lainnya.

Sepintas kalau kita membaca ayat2 Al Quran, misal dalam surat Al Baqarah saja,  “seolah-olah” tidak beraturan, banyak sekali tema,  dan itu disusun bercampur baur, antara tema taqwa, berbagai macam perintah, tiba-tiba loncat tentang Cerita Adam, terus kisah Bani Isroil, cerita Musa, ada juga sedikit kisah Ibrohim, Sulaiman, dll.

✅ Al Baqarah ayat2 awal ( ayat 2-5) mendefinisikan tentang  “Muttaqin”.

✅ Ayat 6-20 mendeskripsikan “lawan” para “Muttaqin” yaitu orang kafir dan munafik serta metafora2/perumpamaan2  untuk menggambarkan bagaimana saking kafir atau bebalnya mereka.

✅ 21-30 berisi :

– sambungan dari  tema sebelumnya (ayat 6-21);

– ayat  perintah/seruan agar menyembah Allah;

–  tantangan bagi orang kafir  bagi yg meragukan Wahyu;

– kabar gembira/ganjaran bagi orang berIman;

– orang2 yg rugi karena kembali kepada kesesatan yg sebelumnya mereka telah berIman.

– Dan informasi ttg ayat-ayat “amsal” ( jamak dari masal/Contoh2; perumpamaan2) yang berisi contoh2 dan perumpamaan-perumpamaan/metafora yg dengan ayat2 amsal  ini banyak yg disesatkan dan banyak juga yg diberi petunjuk.

 

✅ Ayat 30-39 ini tentang Kisah Adam ( tema pokok tulisan ini). Pertanyaannya, kenapa kisah Adam “menclok” disini ? Setelah Ayat2 sebelumnya menggambarkan “teori” tentang para Muttaqin,  para kafirun dan munafiqun. Allah langsung memberikan Contoh dari uraian “teori2” itu. Disinilah ketemu hubungan logisnya. Sebuah “pelajaran” bisa lebih nempel di otak, kalau diberikan contoh2 dan diulang-ulang. Kisah Adam (vs Iblis) adalah contoh kongkret tentang Muttaqin vs Kafirun dengan berbagai macam turunannya.

Antara Sejarah dan Sastra

Kisah Adam adalah “sejarah” yg diceritakan dengan gaya sastra yang tinggi, gaya penulisan  sastra berbeda dengan sejarah,    dia tidak  detil dan rinci, banyak menggunakan “tasybih” atau metafora/majaz. Kemudian yang terpenting  juga dibalik gaya penulisan seperti itu  adalah pesan ( ibroh; pelajaran; petunjuk) yang hendak disampaikan kepada si pembaca.

Sebagaimana sejarah yg di “sastrakan” Kisah Adam penuh dengan ungkapan-ungkapan metafora (tasybih).

Dua Tipe Ayat Al Quran

Dalam surat Ali Imron ayat  7 bahwa Allah menurunkan 2 jenis ayat yaitu

1⃣ Tipe ayat muhkamat ( ayat-ayat hukum atau berkekuatan hukum, ayat2 dengan bahasa yg jelas dan tegas) seperti  ayat2 perintah dan larangan

( Dilarang Mabok, berzina, BerRiba atau perintah shalat, zakat, puasa, haji, harus adil, dll)

2⃣. Tipe ayat-ayat mutasyabihat ( ayat-ayat yg berisi tasybih; perumpamaan2;  atau ayat-ayat yg berisi metafora2/analogi tertentu).

 

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ

آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ”

 

_Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (dari ayat2 mutasyabihat itu)  kecuali orang yang berakal.

 

Parelisasi Kisah Adam dan Nabi Muhammad sbb :

1⃣. Sebagai “bekal” dakwah, Setiap Nabi/Rosul diberi wahyu oleh Allah, baik itu wahyu  dengan penamaan baru maupun dengan melanjutkan wahyu2 nabi sebelumbya. Wahyu kepada Adam adalah ( الأسماء )”Al Asma”, kepada Muhammad adalah Al Quran, kepada Musa adalah Taurat, Injil kepada Isa, dll

 

Al Baqarah 31

 

وَعَلَّمَ آدَمَ *الْأَسْمَاء*َ  كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

 

Perhatikan kesamaan redaksinya :

 

Ar Rahman

الرَّحْمَٰنُ عَلَّمَ الْقُرْآنَ

 

Inilah yg seharusnya point penting bahwa Adam adalah seorang Nabi dan Rosul utusan Allah sama seperti Nabi2 yang lainnya, yg memperoleh/Diajarkan Wahyu oleh Allah.

“Perdebatan” tentang apakah Adam manusia pertama atau bukan, justru memelencengkan maksud dikisahkannya Adam.

Apalagi “model” retorika “genit” yg dilontarkan Cak Nur bahwa sebenarnya Iblis mahluk yg paling “taat” karena menolak “sujud” kepada Adam, dengan alasan “sujud” hanya kepada Allah. Ini jelas diluar konteks.

2⃣. Setiap perjalanan Da’wah Nabi/Rosul pasti ada “penentangnya”. Dan biasanya “sang  penentang”  dakwah mengklaim lebih tinggi, lebih unggul, lebih tahu/paling benar  baik dalam kedudukan; jabatan; atau ras maupun keilmuan.

Al-An’ām : 112

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

 

Dan demikianlah untuk setiap Nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan.

Al-Furqān : 31

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

Begitulah, bagi setiap nabi, telah Kami adakan musuh dari orang-orang yang berdosa. Tetapi cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.

Dalam kisah Adam, sang penentang Dakwah adalah  Iblis yg berlaku  sombong ( Aba wastakbaro wa kana minal kafirin),  merasa lebih unggul dan hebat karena diciptakan dari api.

 

Dalam kisah Musa, sang penentang dakwah adalah  Firaun. Dia merasa terusik dengan dakwahnya Musa.  Kekuasaan Firaun terancam tergusur jika Dia mengakui kebenaran dakwahnya Musa, karena dia merasa dialah sang penguasa tidak ada yg lebih hebat darinya  (sombong). Firaun menjadi “simbol” kesombongan dan kesewanang-wenangan hingga kini.

Dalam sejarah dakwah Nabi Muhammad, pemuka2/tokoh2 Quraisy adalah para penentang yang merasa terganggu kedudukan dan kepentingannya secara sosial, keagamaan dan politik. Yang fenomenal sang penentang Dakwah Nabi di periode Makkah adalah Abu Lahab, yg diabadikan menjadi salah satu surat dalam al Quran yaitu Al Lahab.

Dalam periode dakwah makkiyah, Nabi berusaha utk mengembalikan ajaran Allah yg Murni/Asli. Perlu diingat bahwa “term-term” (istilah)  keagamaan di jaman pra kenabian Muhammad seperti “Allah”, “Jin”, “malaikat”, “Shalat”, “Haji”,  dll sudah ada dan dikenal tapi bercampur dengan berbagai macam ajaran termasuk paganisme.

Ketika Nabi berdakwah utk memurnikan itu semua kepada kaumnya, maka banyak yg marah dan menganggap Nabi Muhammad  gila, sesat dan kerasukan Jin.

3⃣. Dimanakah “Al Jannah” yg disebut dalam kisah Adam itu berada ?

Dalam rangkaian kisah Adam dalam surat Al Baqarah ayat 30 ditegaskan bahwa Allah akan menjadikan Khalifah di Bumi

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ *إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً* ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

 

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Jannah & Surga ?

Arti Jannah secara harfiah adalah kebun. Sebagaimana halnya kebun (sebidang tanah/lahan subur) yg ditumbuhi oleh  tanaman-tanaman/pohon yang rindang,  berbuah,  teduh dan sejuk serta sistem pengairan yg baik, sehingga membuat betah siapapun yg tinggal di dalamnya.  Begitulah metafora/gambaran Mukmin yg hidup bersatu dalam sebuah komunitas dan dilandasi ajaran Allah. Bagai hidup disebuah ” kebun” yg semuanya betah di dalamnya.

Āli ‘Imrān : 15

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَٰلِكُمْ ۚ *لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ*

 

 

Kesimpulannya adalah “Jannah” adalah sebuah tatanan/sistem kehidupan dunia yg berdasar ajaran wahyu Allah. Dalam sejarah dakwah Adam, Dia berhasil membangun tatanan itu. Begitu juga Nabi Muhammad berhasil membangun sebuah tatanan “Jannah” yg disebut dengan Madinatul Munawwaroh.

Surga

Kata Jannah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi surga (Sawarga). Konsep surga ini berasal dari ajaran hindu/budha. Konsep inilah yg dipakai untuk menerjemahkan konsepn”Jannah” dalam Al Quran. Dalam agama hindu konsep surga “tidak objektif ilmiah (tidak bisa dibuktikan kebenarannya), karena surga yg dipersepsikan ada di antah berantah (kayangan).

 

Sedangkan konsep ” Jannah” sangat Ilmiah dan objektif, secara teori dan praktek sudah bisa dibuktikan oleh para Nabi dan Rosul, dan tentunya kita, kalau mau !!!.

 

4⃣. Setiap Nabi/Rosul mempunyai “pasangan” ( زوج  )(Jauz : yg sering diartikan istri), pasangan Nabi/Rosul ini adalah Umatnya/Para Pengikutnya ( Para Muthahharun : orang2 yg hati/jiwanya suci bersih, tulus ikhlas, berfikiran objektif, tidak culas,  sehingga mau dan mampu menerima kebenaran serta ajakan dakwah). Karena adopsi dari  cerita2 bibel (cerita-cerita israiliyat) banyak para penafsir menuliskan istrinya Adam adalah Hawa. Padahal dalam Al Quran, tidak pernah sekalipun disebutkan Oknum dari “Jauznya” Nabi Adam adalah Hawa.

Makna Muthohharun

Al Waqiah 79

لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Tidak akan menyentuhnya ( Al Quran) kecuali para Muthohharun

 

Al Quran ketika diturunkan melalui malaikat Jibril tidak langsung ujug2 berbentuk “buku/mushaf” seperti yg kita kenal sekarang. Al Quran adalah abstrak, tidak terlihat mata dan di pegang secara fisik. Al Quran yg diwahyukan kepada Nabi, kemudian Nabi menyampaikan kepada umatnya( berupa bunyi berbahasa Arab Quraisy), adapun yg sering kita lihat dan pegang sekarang adalah mushaf/dokumentasi dari Al Quran. Oleh karena Dia abstrak, makna menyentuh di ayat tsb lebih tepat dimaknai “memahami” Al Quran sehingga menjadi petunjuk hidup.

Orang2 Quraisy banyak yg “memahami” Al Quran, dan karena mereka faham akhirnya mereka bereaksi ada yang menerima dan bahkan marah ( menolak).

5⃣. Adam diganggu dan digoda oleh setan agar “tergelincir” dari Jannah. Begitupun Nabi Muhammad dan JauzNya ( para pengikutnya) diganggu oleh para setan, agar tatanan masyarakat Madinah  hancur. Dalam Al Quran, para setan itu adalah kaum munafik dan Yahudi. Bentuk gangguannya bermacam2 : penghasutan, penghiatan sampai pemberontakan.

Makna اهبطوا

Ihbitu (  اهبطوا  ) adalah kata perintah berbentuk jamak ( perintah untuk orang lebih dari 2), perintah untuk satu orang adalah ihbit ( اهبط ), sedangkan untuk 2 orang saja adalah Ihbito ( اهبطا ).

Beberapa makna هبط  kata kerja bentuk I ( Fi’il Madhi) dari اهبطوا  yg ada dalam kamus adalah turun, berpindah, kemerosotan/jatuh harga, jatuh dalam kejelekan, demoralisasi, roboh, runtuh, kerendahan, kehinaan,dll.

6⃣. Dalam kisah Adam diceritakan, agar Adam dan para pengikutnya jangan sampai “mendekati” “Sajarotul khuldi”, tapi Adam dan Pengikutnya karena godaan dan tipu rayu setan melanggar aturan itu sehingga mereka terusir dari Jannah dan hidup bermusuh-musuhan ( ba’dukum li ba’din aduwwan).

Allah ingin memberikan metafora/gambaran dengan larangan mendekati sajarotul khuldi tsb  bahwa jangan sampai tatanan jannah Madinatul Munawwaroh hancur gara2 ” termakan” godaan setan untuk mendekati Pohon Khuldi  (    شَجَرَةِ الْخُلْدِ  ) Itulah salah satu Ibroh/pelajaran dari point ini.

( Sejarah Abadi (    شَجَرَةِ الْخُلْدِ ) sejarah kelam dan kekal/abadi sepanjang hidup manusia bahwa tanpa bimbingan wahyu mereka akan selalu hidup kekal dalam permusuhan dan perkelahian).

Kata شَجَرَةِ  sering diartikan pohon. Dalam Kamus al Munawwir  salah satu artinya adalah silsilah keturunan. Silsilah ini kalau di gambarkan akan berbentuk pohon, terdiri dari akar, batang, dahan, ranting dan daun.

Dalam kehidupan sehari2 kita sering menggunakan kata2 “Sejarah”. Satu akar kata yang sama.

Kata ‘Pohon’ sering dilukiskan sebagai gambaran perjalanan sebuah peradaban. Berasal dari satu benih yg tumbuh hingga menjulang beranting, berdaun, dan menghasilkan buah, tua dan akhirnya mati. Begitulah sunnatullah berjalannya sebuah peradaban yg dilukiskan dg sebuah pohon.

Qarinah/Indikasi Ayat dan Kronologis “Kejatuhan/Kemerosotan”

 

– Adam diajarkan Wahyu oleh Allah ( الاسماء  ). al Baqarah 31.

– Adam diperintahkan untuk mengabarkan/mendakwahkan ajaran Allah ( Al Asma) kepada para ” Malaikat” (Al Baqarah 31-32).

Hal ini adalah perlambang bahwa dalam sejarah dakwah para Nabi/Rosul akan selalu berhadapan dengan para “Mala” ( الملا ) yg bisa berwujud raja, tokoh masyarakat, pemimpin, Pemegang otoritas keagamaan/keilmuan ( para rahib, pendeta, atau “kiyai”), kepala suku, dll.

– Diantara para “المالا” ada yg patuh/sujud,  ada yg kafir yaitu “Iblis”. Kekafiran Iblis lebih karena “gengsi” karena kedudukannya sehingga dia bersikap sombong. Al Baqarah 34.

– Karena Kafir, Iblis di “usir” dengan perintah اهبط.  Al A’ raf ayat 12-13. Dengan sikapnya itu “Kualitas” Iblis turun/jatuh menjadi hina. (Al A’raf 13).

– Adam dan para pengikutnya (  زوج ) di perintahkan untuk “tinggal” ( mendiami) Jannah ( Al Baqarah 35,  Al A’raf 19).

– Setan berhasil menggoda/menghasut Adam agar memakan  “buah khuldi” ( شجرة الخلد ). al A’raf 20-22.  Maka setelah “kedua” nya memakan buah itu, terbukalah aurat “kedua”nya. Hal ini merupakah metafora bahwa melanggar aturan/ajaran  Allah adalah perbuatan yg hina, rendah dan memalukan, ibarat manusia tanpa pakai baju.

– Karena Perbuatannya itu, akhirnya Adam dan Para Pengikutnya jatuh dalam ” kemerosotan moral, kehinaan ( di usir dari Jannah, turun dari  Hidup yg bernilai tinggi/Jannah menjadi hidup yg bernilai rendah/hidup menurut selain ajaran Allah).

Perhatikan,  kata perintah yg dipegunakan bukan kata perintah untuk 2 orang yaitu اهبطا TETAPI  اهبطوا ( bentuk jamak lebih dari 2). Ini menjadi salah satu  petunjuk bahwa Jauz nya Adam bukan hanya satu tetapi banyak. Kalau kita fahami Adam adalah sebagai rasul/Nabi, sebagaimana Nabi/Rosul yang lainnya, maka jauz Nya Adam adalah pengikutnya.

Kisah Adam dan Sejarah Umat Islam

Ketika mencermati kisah Adam,  kita bisa mencermati persamaannya dengan sejarah panjang Umat Islam.

Sepeninggal Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin, Umat Islam seolah “jatuh” ke dalam sejarah “kelam” tak bertepi hingga kini.

Hidup penuh drama pertikaian, perkelahian, permusuhan dan pembunuhan. “Ramalan” dalam kisah Adam “Ihbitu ba’dukum li ba’din aduwwun”  seolah tak pernah lepas dari perjalanan Umat ini.

Begitulah “kebaikan” ditakdirkan untuk selalu timbul dan tenggelam dalam waktu relatif cepat, sedangkan sejarah “Kekelaman” akan selalu Abadi sampai kapanpun.

Demikianlah,  mudah-mudahan kita mengambil pelajaran.

*Penulis: Ahmad Syafiudin, Fcebook.com/asyafiudins, yafiudin.ahmad@gmail.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *