Harus Kuat, Meski Masalahmu Berat; Sebuah Tips Menjalani Hidup

Manusia manusia kuat itu kita, jiwa jiwa yang kuat itu kita

Manusia sejak dalam kandungan sudah ditentukan oleh Allah takdir berupa kebahagiaan dan kesedihan. Tidak ada manusia yang selamanya senang dan sebaliknya selamanya mengalami penderitaan. Bagi muslim, kita selalu memegang semboyan alquran sebagai penguat hidup. Semboyan yang selalu jadi alasan kita masih berdiri dikala jatuh dan luluh. Firman Allah;

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ

Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, Q.S Asy-Syarh [94] : 5

Karena hidup tidak selamanya bahagia, ada sedih, kecewa, marah dan hampa, maka kita mesti menjadi manusia tangguh. Kata orang bijak, semakin tinggi sebuah pohon maka angin yang menerpa akan semakin kuat. Jika cobaan yang menerpa sangat berat, bisa jadi memang dahan kita terlalu tinggi. Atau bisa saja kita sedang menjalani ujian hidup untuk naik kelas ke kelas yang lebih tinggi. Tapi apapun itu, mari kita berbagi tips untuk menguatkan diri dikala masalah melanda

Pertama, lupakan masa lalu. Ini adalah penyakit yang tidak bisa lepas dari diri manusia begitu saja. Melepaskannya memang berat, tapi perlu dicoba. Seseorang akan keluar dari masa lalu ketika ia sudah menemukan cara untuk memperoleh kebahagiaan di masa depan. Lebih tepatnya adalah menerima seseorang yang dapat membawa kepada kebahagiaan masa depan. Jika masa lalu kita sangat indah, ciptakan masa depan yang jauh lebih indah. Selalu ingat satu hal bahwa kebahagiaan di masa depan tidak akan tercapai jika masih ada penyesalan akan tinggalnya kebahagiaan masa lalu.

Kedua, jangan terlalu ambil hati jika ada orang yang menyinggup perasaanmu. Berikan saja senyuman dan tetaplah berlaku baik padanya. Karena kebaikan akan datang kepada orang yang tulus memaafkan orang lain. Prinsip ini sering diajarkan Rasulullah kepada umatnya. Rasulullah tetap menyuapi pengemis buta yang menghardik dirinya di depannya. Meski itu tingkatan Rasul, sebagai umatnya kita mesti mengambil pelajaran dan mencoba sekuat tenaga agar dapat pada maqom tersebut. Terlalu ambil hati tidaklah baik, tapi terlalu abai juga tidak baik. Kita mesti membedakan antara ucapan orang lain yang menyakitkan karena hal yang salah dengan ucapan untuk mengoreksi kita. Kalau dikoreksi, meskipun sesakit apapun, mesti harus ditelan. Ibarat obat, itu akan menyembuhkan penyakit yang kita derita.

Ketiga, memaafkan orang lain saja belum cukup, sering kali orang melakukan kesalahan, dan kemudian dia sendiri enggak bisa memafkan dirinya. Memaafkan diri sendiri justru lebih sulit dari memaafkan orang lain. Kalau kamu enggak bisa memaafkan dirimu sendiri, gimana caranya kamu melanjutkan hidup, dan menjadi tangguh menghadapi cobaan lain? Biasanya hal ini terjadi karena penyesalan atas suatu kejadian. Dalam konteks ini, memaafkan diri sendiri bukan berarti membolehkan hal buruk terjadi lagi dan menganggap itu menjadi wajar. Memaafkan diri sendiri adalah upaya untuk menjalani hari secara normal tanpa beban penyesalan.

Keempat, mengurangi berbicara. Kalau enggak terlalu penting dan enggak diminta enggak usah kasih saran ke orang lain. Kurangi bicaramu supaya kamu bisa mendengar lebih banyak. Dengan banyak mendengar kamu bisa belajar lebih banyak lagi. Pada satu momen, saya yang aktif berbicara ini merasa iri dengan orang yang tidak aktif berbicara. Karena ketika berbicara terlalu banyak, orang akan menganggap kita omong kosong dan semakin tidak disukai. Berbeda dengan orang yang sedikit berbicara, mereka disukai meski cara berbicaranya saja terbata bata. Pepatah mengatakan, bicara adalah emas dan diam adalah mutiara.

Kelima, menghargai apa saja yang kita miliki. Bersyukur enggak cuma dimulut saja. Tapi juga ditunjukkan dalam sikap. Caranya dengan merawat apa saja yang kamu miliki. Termasuk barang-barangmu dan tanaman serta dirimu sendiri. Menghargai teman juga salah satunya. Teman adalah aset berharga kita, maka perlu kita hargai. Selain itu, orang tua dan guru juga menjadi hal penting untuk digaris bawahi. Namun maksud menghargai yang dimiliki lebih kepada konteks barang yang terlihat atau fisik. Seperti bersyukur memiliki motor saat orang lain punya mobil. Karena banyak orang yang sangat ingin memiliki motor disaat ia hanya punya sepeda. Begitu seterusnya.

Keenam, Jangan terlalu khawatir dengan masa depanmu. Kamu memang enggak bisa melihat masa depan seperti apa. Makanya yang kamu bisa hanya berusaha dan terus belajar. Lakukan apa yang harus kamu lakukan hari ini. Jalani hari ini sebaik mungkin dengan harapan hari besok akan menajadi lebih baik. Kalau kata Sudjiwo Tedjo, menghina Tuhan bukan dengan cara menghina kitab sucinya tapi kau khawatir besok makan apa itu juga termasuk menghina Tuhan. Karena pasti Allah memberi kita yang terbaik sesuai takaran ikhtiar kita.

Ketujuh, ketergantungan kepada orang lain. Contohnya, kamu mau belanja atau nonton film, terus kamu harus mengajak teman dulu baru bisa jalan. Kalau enggak kamu merasa seperti anak hilang di mall. Padahal kamu masih bisa melakukan berbagai hal sendirian. Untuk mengurangi ketergantungan ini, maka kita harus cukup dalam hal intelektual (pikiran, kecerdasan, menciptakan jalan keluar) dan juga finansial (uang, barang). Menggantungkan diri kepada orang lain tidaklah terlalu baik. Karena bisa mengurangi kebebasan atau kemerdekaan diri.

Delapan, keluar dari zona nyaman. Dengan begitu hidupmu menjadi lebih menarik. Jangan takut dengan segala resiko. Lakukan apa yang membuatmu takut dan buktikan kalau rasa takut itu hanyalah perasaan semu. Tinggalkan segala sesuatu yang menciptakan kenyamanan. Karena nyaman itu kadang menjadi racun. Misalnya saja malas, nonton YouTube, main game. Semuanya kenyamanan, tapi itu nyaman yang merusak. Maka keluar rumahlah, lihatlah betapa luasnya dunia ini. Berapa banyak tempat yang belum kita jelajahi. Lihat buku di perpustakaan, berapa banyak yang belum sempat kita baca.

Demikian sedikit tips agar kuat menghadapi hidup. Kamu dan aku adalah sama. Ada masalah yang Tuhan ciptakan dan yang kita ciptakan sendiri. Tugas kita sebagai hambanya adalah mencari jalan keluar sebaik baiknya. Agar kita masih bisa berdiri untuk menjalani hidup yang fana ini. Wallahu a’lamu bi al-shawwab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *