Generasi Z : Melek Teknologi Tapi Sudahkah Melek Literasi?

Perkembangan saat ini menjadi suatu fase yang tidak dapat ditolak. Nyatanya arus teknologi digital berkembang dengan sangat pesat. Generasi muda tumbuh dengan sangat akrab dengan teknologi. Mereka dengan mudah mengoprasikan berbagai perangkat pintar, mengkakses informasi dari seluruh dunia, dan menciptakan konten digital. Namun, dibalik kecanggihan teknologi yang mereka kuasai, muncul pertanyaan besar: sudahkah mereka benar benar melek literasi?

Melek teknologi merupakan kemampuan untuk memahami, menggunakan dan berpatisipasi dalam pengembangan teknologi. Sedangkan melek literasi digital memiliki cangkupan yang lebih luas. Mencangkup untuk memahami, mengevaluasi, menggunakan informasi secara bijak dan bertanggung jawab di dunia maya. Sayangnya, tidak semua generasi muda memiliki kemampuan literasi yang memadai. Mereka seringkali terjebak dalam arus informasi yang deras tanpa mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Beberapa tantangan dalam literasi digital di era saat ini, diantaranya: Maraknya konten negative seperti isu SARA dan poronografi, Kebohongan dapat menyamar menjadi kebenaran, Banyaknya gaungan narasi di media sosial.

Pada contoh berita penyebaran berita palsu tentang covid-19. Penyebaran berita palsu tentang asal usul virus, cara penularan, hingga obat obatan yang tidak terbukti efektif menyebar luas di media sosial. Sehingga dampaknya menimbulkan kepanikan dan memperburuk situasi. Namun generasi muda yang membagikan berita berita palsu ini tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu, sehingga mempercepat penyebaran beritanya.

Jurnal “Model Literasi Media Sosial Bagi Mahasiswa” bahwa tantangan yang memiliki resiko negative didunia digital, dapat dicegah melalui melek digital atau literasi digital. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara sosialisasi maupun pelatihan tentang literasi informasi, literasi media, literasi teknologi, dan etika digital.

Dengan memiliki ketrampilan literasi digital yang kuat, generasi z dapat memanfaatkan potensi teknologi secara maksimal dan menjadi warga digital yang cerdas dan bertanggung jawab.

*Oleh: Nailis Sa’adah, mahasiswa Universitas Islam Negeri Abdurrahman Wahid Pekalongan, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *