Tiktok adalah sebuah aplikasi jejaring sosial dan platform video music yang penggunanya bisa membuat, mengedit, dan berbagi klip video pendek. Saat ini, Indonesia mendapat predikat sebagai negara dengan pengguna Tiktok nomor dua terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat. Pengguna Tiktok di Indonesia sudah mencapai 109,9 pengguna. Lantas apa hubungannya hal ini dengan Generasi Pancasila?
Warga Indonesia terutama remajanya sering menggunakan Tiktok untuk hal yang kurang bermanfaat. Hal ini dapat kita buktikan sendiri. Aplikasi ini pun sering kali digunakan sebagai media penyebaran hoaks. Penyalahgunaan ini dapat merusak masa depan bangsa Indonesia.
Memang benar, aplikasi ini memberikan informasi dalam bentuk berita ataupun video, komunikasi bentuk interaksi manusia yang memberikan pengaruh antara satu sama lain, baik sengaja maupun tidak sengaja, baik verbal maupun non verbal. Namun keberadaan media sosial telah menimbulkan banyak pertanyaan mengenai dampak penggunaannya, terlebih jika dikaitkan dengan pancasila. Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang lahir pada tanggal 1 Juni 1945 dan telah menjadi pacuan hidup bagi rakyat Indonesia. Pancasila mengandung lima sila yang memiliki nilai-nilai penting tersendiri, namun nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya mulai melemah seiring perkembangan teknologi.
Media sosial menarik perhatian siapapun. Apalagi dengan menggunakan sosial media kita bisa berkomentar dan berbagi tanpa batas. Pemuda saat ini tentulah sangat bergantung dengan gadget mereka. Bagi mereka, tanpa gadget sama dengan tidak hidup ‘No gadget no life’.
Kita harus berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Jangan pernah asal berkomentar. Sebab, hal ini dapat menyebabkan cyberbullying. Cyberbullying adalah salah satu perilaku yang merusak nilai-nilai pancasila. Terkadang, kita bisa tanpa sadar melakukannya. Komentar buruk kita dapat menyakiti hati orang lain bahkan orang yang tak kita kenal.
Sebagai Generasi Pancasila yang diharapkan Indonesia, seharusnya kita bisa memanfaatkan aplikasi-aplikasi seperti Tiktok untuk menerapkan nilai-nilai pancasila. Bukan malah merusak nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai pancasila dibuat dengan susah payah, penuh pertimbangan dan perdebatan oleh tokoh-tokoh proklamasi Indonesia. Ideologi pancasila pun berkali-kali ingin diselewengkan bahkan diubah oleh pihak lain.
Ada baiknya Generasi Pancasila membuat konten-konten yang sesuai dengan nilai-nilai ideologi pancasila. Saat ini, banyak terjadi perpecahan antar umat beragama. Entah itu berbentuk cacian atau makian, ujaran kebencian, bahkan tindakan anti toleransi. Hal ini amat tidak sesuai dengan pancasila sila pertama yang berbunyi ‘Ketuhanan yang maha esa’. Kita sebagai generasi pancasila seharusnya tidak boleh ikut andil dalam hal tersebut. Kita harusnya bisa membuat konten yang menyatukan pihak yang sedang terpecah. Setidaknya, kita sudah berusaha meminimalisir perpecahan yang terjadi.
Tak hanya itu, konten yang bermanfaat seperti tutorial, musik, atau blog pribadi pun dapat membangun nilai-nilai nasionalisme. Konten yang dapat membangun masyarakat. Dengan itulah kita bisa memanfaatkan sosial media dengan sebaik-baiknya. Sosial media bukanlah tempat untuk membangun perpecahan, akan tetapi untuk membangun persatuan.
Di era ini pun banyak remaja yang salah pergaulan karena sosial media. Film-film pornografi yang disebarkan di media sosial membuat para remaja hilang akal, sehingga marak kasus hamil di luar nikah. Hanya memikirkan kesenangan sesaat yang kemudian berdampak hal fatal yang bisa merusak masa depan mereka. Jika pihak laki-laki tak mau bertanggung jawab, maka Si Perempuan akan menanggung malu dan dianggap sebagai aib keluarga. Atau, jika Si Perempuan juga tak mau merawat bayi yang dikandungnya, maka ia akan menggugurkan kandungannya. Ini adalah dosa besar. Ini sama seperti dengan membunuh. Walaupun bayi yang dikandung belum lahir, akan tetapi itu tetaplah hal yang kejam.
Karena hal ini juga, banyak pemuda Indonesia yang kebelet nikah. Banyak remaja baru lulus SMA yang memutuskan untuk langsung menikah. Tak memikirkan masa depan mereka. Tak tahu betapa pentingnya pendidikan di masa ini. Jika yang seperti ini terus berlanjut, siapa yang akan melanjutkan perjuangan pahlawan-pahlawan yang memerjuangkan ideologi pancasila?
Jika para pemuda masih terus asyik dengan media sosialnya masing-masing, menjadi individual, boleh jadi Indonesia akan dikuasai oleh bangsa-bangsa dari luar negeri. Semuanya mulai dari pengetahuan, produk-produk, dan pemasaran akan dikuasai pihak luar negeri. Lantas, pemuda Indonesia hanya akan menjadi kacung dari bangsa-bangsa luar. Hal ini tak boleh dibiarkan. Indonesia harus menjadi negara maju dengan pemimpin-pemimpin yang hebat.
Netizen Indonesia adalah netizen paling tidak sopan se Asia Tenggara. Dalam laporan berjudul ‘Digital Civility Index (DCI), netizen Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara, alias paling tidak sopan di wilayah tersebut. Kemunduran tingkat kesopanan paling banyak didorong pengguna usia dewasa dengan persentase 68 persen. Sementara usia remaja disebut tidak berkontrubusi dalam mundurnya tingkat kesopanan digital di Indonesia pada 2020.
Berawal dari 67 poin pada 2019 kemudian naik 8 poin menadi 76 pada 2020. Sistem penilaian laporan tersebut berkisar dari skala nol hingga 100. Di mana semakin tinggi skor maka semakin rendah kesopanan daring di negara tersebut. Laporan itu berdasarkan survei yang diikuti oleh 16.000 responden di 32 negara. Sebanyak 503 responden survei berasal dari Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada April dan Mei 2020 dan baru dipublikasi pada Februari 2021. Survei tersebut menanyakan tentang keterpaparan mereka terhadap 21 risiko online yang berbeda dalam empat kategori: perilaku, seksual, reputasi, dan pribadi/mengganggu.
Seharusnya sebagai pemuda kita merasa malu dan mencoba untuk memperbaiki hal tersebut. Jangan asal berkomentar, menyebar konten hoaks, bahkan berdebat hanya karena hal-hal yang tidak penting. Perbaikan akan hal ini tentunya tidak bisa dilakukan sendiri. Kita harus saling bahu membahu agar Indonesia menjadi negara yang sopan.
Oleh: Rosaida Artha Kusumanova (KYoo)
Peserta Ujian Praktik PPKn Kelas 9 SMP Alam Nurul Furqon Mlagen Pamotan Rembang






Good job Inop