Genealogi dan Transformasi Adab Berpolitik

Beberapa pekan terakhir, pubik digemparkan dengan munculnya surat rekomendasi dari Dewan Pimpinan Pusat PDIP untuk anak sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabumi Raka, untuk maju sebagai calon Wali Kota Solo pada pilkada mendatang. Sebab sebelumnya dia mengatakan keengganannya untuk masuk ke dalam dunia politik. Selain itu dia juga turut kasihan kepada masyarakat apabila politik dibuat menjadi politik dinasti.

Proses pencalonan Gibran juga mengundang sorotan publik. Sebab sebelumnya yang diajukan Dewan Pimpinan Daerah PDIP Kota Solo menjadi calon Wali Kota Solo adalah Wakil Kota Solo Achmad Purnomo. Dan nampaknya ada proses “penjegalan” yang dilakukan oleh Jokowi, sehingga Gibran sukses mendapatkan pra syarat utama untuk maju di pilkada mendatang.

Hal ini mengingatkan kembali kepada publik bahwa tradisi-tradisi politik dinasti selalu hadir menjelang pemilihan kepala daerah maupun pemilihan umum. Tentu yang dilakukan Gibran tidaklah salah, karena tidak ada undang-undang yang mengatur tentang itu. Dan ini pun sering dilakukan oleh anak-anak pejabat pada lazimnya.

Namun yang demikian kurang baik. Sebab di dalam sebuah organisasi memiliki sistem yang terstruktur. Dan sistem regenerasi yang sehat berdasarkan meritrokasi, bukan berdasarkan genealogis. Oleh karena itu, sesungguhnya Gibran telah menabrak sistem meritokrasi dengan genealogis orang tuanya. Jika dari awal proses pencalonannya telah menabrak sistem yang telah dibangun, maka produk yang akan dihasilkan adalah pemimpin medioker dan kualitasnya sangat jauh dari standar kualitas pemimpin. Dengan demikian, tidak bisa diharapkan perubahan ke arah yang lebih baik dapat terwujud.

Bacaan Lainnya

Khumul

Di dalam kajian keislaman, terdapat istilah khumul. Khumul berarti suatu kondisi saat seseorang terhalang dari zona keramaian. Kata khumul dapat ditemukan di dalam kitab Al-Hikam karangan Ibnu Athaillah as-Sakandari. Berikut bunyi kalimatnya, “udfun wujudaka fi ardil khumul, fa ma nabata mimma lam yudfan la yatimmu nitajuhu”. Yang artinya, “kuburlah dirimu di dalam bumi ketidaknampakkan (khumul). Sebab sesuatu yang tumbuh dari benih yang tidak ditanam di balik ketidaknampakkan, tidak akan sempurna buahnya”.

Ulil Abshar Abdalla memberikan syarh atas ungkapan Ibnu Athaillah di atas. Dia menjelaskan bahwa ungkapan di atas memiliki dua pengertian; pengertian khusus dan umum. Pengertian khusus dapat dilihat dari bab pembahasan sebelumnya dalam kitab Al-Hikam. Hal ini erat kaitannya dengan unsur-unsur teologis.

Sedangkan pengertian umum dapat dikaitkan dengan kehidupan seseorang. Jika seseorang hendak sukses, maka hendaknya dia memulai pekerjaan dengan sendiri, sunyi, soliter, dan jauh dari sorotan kamera pencitraan. Usaha dan waktu yang akan menjawab semua hasil kerja kerasnya. Sebab pada fase ini, dia akan terus belajar, mengevaluasi, membenahi berbagai kekurangan yang dia jumpai.

Namun jika seseorang tersebut memulai pekerjaan dengan cara yang sebaliknya, sekali pun nanti dia sukses, tidak akan bertahan lama. Sebab jalan yang dia tempuh adalah jalan instan. Produk yang dihasilkan dari cara instan adalah ketidakmatangan. Kondisi ini dapat ditemui pada kebanyakan kasus orang yang secara tiba-tiba melejit, namun secara tiba-tiba juga hilang dari peredaran.

Dalam konteks tulisan ini, penulis mengaitkan peristiwa munculnya Gibran ke panggung politik bertolak belakang dengan konsep khumul. Dengan menggunakan istilah lain, yang dilakukan Gibran adalah Zuhur, yang berarti kemunculan di permukaan. Konsekuensi dari apa yang dilakukan Gibran adalah ketidakkompetenan jika kelak dia memimpin. Sebab dia tidak berproses di dunia politik dengan baik.

Untuk itu, jika memang Gibran memiliki keinginan yang kuat untuk mengikuti jejak ayahnya, maka hendaknya dia memulai prosesnya dari akar rumput terlebih dahulu. Apalagi dia pernah berkata bahwa dia tidak memiliki kapasitas di bidang politik. Dengan demikian, setidaknya dia telah berusaha untuk menempa dirinya dengan sekuat tenaga, walaupun prosesnya membutuhkan waktu yang cukup lama. Waalahu a’lam bi al-shawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *