Betapa hatiku takkan pilu. Telah gugur pahlawanku….
[ Gugur Bunga – Ismail Marzuki ]
Endra – 2017
Angin berembus menerjang kami. Mengirim bau tanah basah dan semerbak mistis bunga kamboja. Aku bersedekap, menahan–atau lebih tepatnya mencoba melindungi diri dari terpaan angin kencang dan gerimis.
Menyaksikan peristiwa di hadapanku, aku hanya mampu memejamkan mata dan mendesah. Aku terpaksa, meski sangat tidak menginginkannya, mengingat kembali tragedi itu. Hatiku remuk redam, seperti diremas-remas rasanya. Dan perutku, seolah ada ular yang menggeliat-geliat hingga membuat perutku mulas. Melilit.
Aku menggigit bibir. Menggeleng-gelengkan kepala dengan brutal sampai leherku pegal, mengenyahkan berbagai macam pikiran buruk. Baru kubuka mata setelah merasa lebih baik; menata hatiku nan kacau.
Kutilik ke bawah, pada sosok ayahku yang tengah bersimpuh. Sejumput surai keperakan di antara rambut hitam pendeknya tersapu tiupan angin, basah oleh hujan yang menderas. Semenjak tadi, entah berapa lama waktu telah berselang, ayah masih betah di sana. Di depan pusara yang masih segar dengan bebungaan, beliau mengusap-usap nisan marmer.
“Ayah,” panggilku, menyentuh pundaknya. “Yah, pulang, yuk. Hujan sudah mulai deras. Dan aku… aku… agak menggigil, nih.”
Dari bawah, ayah mendongak. Matanya yang sayu enggan menatapku, malah tertuju ke arah lain, tidak fokus. Lantas, ayah mengangguk samar. Beliau berdiri, merangkul bahuku dan mulai melangkah di antara pusara-pusara lain.
“Seharusnya dia ada di taman makam pahlawan. Itu tempat yang pantas baginya.”
Aku menoleh, melihat dari balik bahuku. Pada makam yang masih baru. Lalu aku menengadah, menatap raut letih di sebelahku. “Tapi, Yah. Eyang kan maunya dikubur di pemakaman biasa. Turuti sajalah, toh itu keinginan terakhirnya.”
Nada suaraku kubuat sebiasa mungkin. Namun, aku tidak tahu apakah ayahku masih sanggup menangkap nada getir yang jelas-jelas masih berbekas dan mengambang. Ayahku menunduk, membalas perkataanku dengan senyum pahit. Seakan beliau tahu aku sedang berusaha. Berusaha untuk menahan tangis yang menyesakkan dada ini. Dadaku bak dicengkeram tangan-tangan kesedihan.
Berdua, kami berjalan berdampingan membelah rinai hujan. Air mataku yang menggenang di pelupuk jebol, mengalir menuruni pipi chubby-ku. Aku menggigit lidah, berupaya keras untuk tidak meraung. Aku tidak peduli bakal ketahuan menangis—sungguh cengeng mengingat aku ini anak laki-laki—karena air mataku yang meluncur deras berbaur dengan hujan.
Telah gugur pahlawanku. Tunai sudah janji bakti…
Gugur bungaku di taman hati. Di haribaan pertiwi…
[ Gugur Bunga – Ismail Marzuki ]
Kuamati kain merah-putih yang terlipat rapi di genggamanku. Apa yang harus kulakukan dengan kain ini? Orang yang memegangnya terakhir kali, yang berusaha menurunkannya di tengah hujan lebat, tewas akibat terpeleset genangan di serambi.
Aku menghela napas berat, lantas merenggut kain itu dan melangkah keluar. Hari ini 10 November, hari pahlawan. Aku mengenakan seragam paskibraku, bersiap mengibarkan bendera merah-putih di sekolah nanti. Namun, tidakkah seharusnya aku mengibarkannya di rumah juga? Depan rumah tetangga-tetanggaku telah berkibar dengan gagahnya berderet sang saka merah-putih, menyambut kedatangan 10 November.
Di pagi hari yang sakral, kukibarkan bendera kebangsaan itu. Di puncaknya, kain dua warna itu berkibar liar oleh angin. Aku mengangkat tangan, menghormat. Kukerjapkan mata, berusaha menahan air mata yang hendak meluncur bebas. Bendera merah putih inilah saksi bisu wafatnya sang perwira.
Bendera merah putih, bendera tanah airku, Gagah dan jernih tampak warnamu. Berkibarlah di langit yang biru…. [ Bendera Merah Putih – Ibu Soed ]
Aku tak pernah benar-benar mengenalnya, bahkan tak mau repot-repot mendekatinya. Padahal kami tinggal satu atap. Setiap Eyang Jati memosisikan dirinya begitu dekat denganku, setiap itu pula aku berupaya menghindar tanpa bermaksud menyakiti hatinya. Aku selalu mengasingkan diri. Alasannya sibuk ada tugas sekolahlah, malaslah, capeklah, dan berbagai macam alasan lain. Padahal ujung-ujungnya aku paling cuma ndekem di kamar, sibuk berkutat dengan gadget: memperbarui status medsos, atau sekadar lihat video di youtube dan iseng-iseng nge-googling nggak penting.
Bukannya aku tidak menghormati Eyang, sih. Hanya saja di acara kumpul keluarga aku sempat curi-curi dengar—aku selalu mangkir dari acara kumpul seperti itu—kalau Eyang sering cerita-cerita soal dirinya di medan perang jika kiranya ada yang diajak bicara. Heh, medan perang begitu, lho? Ini bukan zamannya perang-perangan memakai senjata terus mati. Ini zaman globalisasi!
“Endra, Eyang di kampung tidak ada yang mengurus. Eyang Putri sudah meninggal. Sebagai anaknya, ayah harus berbakti, dong,” bujuk ayahku saat itu, di mana Eyang Jati masih belum berada di antara kami.
Kini, semenjak kehadiran Eyang Jati, aku merasa diduakan. Kasih sayang ibu dan perhatian ayah berbalik tercurah pada Eyang. Apalagi masih segar di ingatanku kejadian yang membuatku kesal dan sampai sempat menggerutu: peristiwa saat Eyang menjatuhkan piring makanan yang disodorkan ibu. Piring yang pecah membuat mood-ku jelek dan tidak bernafsu sarapan. Ibu membereskan piring yang pecah sementara Eyang Jati, dengan tangan kanan yang bergetar secara berlebihan, berkali-kali meminta maaf. Aku memutar bola mata dan menggertakkan gigi kala ibu hanya tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, Pak.”
Kemudian, di satu hari yang mendung, persis dengan suasana hatiku. Aku yang memang perasaannya sedang jelek jadi tambah jelek saat Eyang—akhirnya!—berhasil duduk tepat di sebelahku. Nah, sayangnya, ketika itu aku sedang tidak punya alasan yang bagus untuk menghindar. Jadilah aku terpaksa dan dengan berat hati, meski tetap menyunggingkan senyum sopan berlagak baik-baik saja, terjebak oleh ocehan kakekku tentang perang kemerdekaan. Namun, entah kenapa, kali ini sepertinya aku berhasil jadi anak baik dan mendengarkan penuturan beliau dengan saksama dan cermat.
Dan satu kenyataan mengubah seluruh pandanganku tentang Eyang. Satu fakta yang membuatku tercengang.
“Saat itu, Eyang yang masih muda berlari menembus area pertempuran. Dengan beraninya, atau mungkin bisa dibilang nekat.” Sampai di situ Eyang terkekeh. “Eyang mengibarkan bendera dengan kedua tangan Eyang ini.” Eyang menatap kedua belah telapak tangannya. “Tapi, kompeni itu marah. Ngamuk dia. Yah, tahu-tahu sudah begini. Eyang cacat. Karena bedil si kompeni.” Eyang memegang tangan kanannya, mengernyitkan dahi mengingat pada tempat luka kenangan pahit itu membekas. “Dan saat ini, Eyang berpikir. Kenapa Eyang nggak mati saja waktu itu, bukankah lebih mudah? Sia-sia Eyang hidup sampai saat ini hanya untuk melihat kebobrokan generasi muda. Eyang rindu mereka: Mbah Dhanu, atau si Sureno atau Sugeng itu. Apa yang akan mereka katakan jika di posisi Eyang saat ini? Lihat saja, mental anak bangsa benar-benar sudah rusak. Kecewa benar Eyang mempertahankan kemerdekaan!”
Yah, apa yang bisa kulakukan? Aku yang terhanyut dalam memori Eyang Jati hanya bisa menatap beliau, tercekat dengan mata terbeliak lebar.
Dengan seluruh angkasa raya memuji pahlawan negara. Nan gugur remaja di ribaan bendera, bela nusa bangsa. Kau kukenang, wahai bunga putra bangsa….
[ Mengheningkan Cipta – T. Prawit ]
Damarjati – 1945
“Tidak!” teriakku parau. Ngeri dan murka.
Seorang pria jangkung berperawakan khas eropa, rambut pirang dan kulit putih, terbahak-bahak di tengah medan pertempuran. Lagaknya seperti pemimpin, menyuruh-nyuruh beberapa orang yang penampilannya tak jauh berbeda darinya menyiapkan peluru dan mulai membidik. Dengan senapan di tangan, melenggang santai, ia menembaki warga pribumi. Gayanya sengak, seolah telah mengultuskan dirinya sebagai malaikat pencabut nyawa. Ia pasti senang. Penderitaan kami merupakan hiburan baginya. Tega nian dirinya merenggut nyawa orang-orang yang kusayangi.
Ini tidak bisa dibiarkan!
Aku beringsut mendekatinya, hendak maju keluar dari persembunyian. Kutatap dengan hati tercabik raga temanku, Sureno, yang tergeletak mati beberapa meter di depanku. Sudah kubilang agar tidak nekat, namun Sureno tak mengindahkan kata-kataku. Dengan gagah berani dan bodohnya, ia keluar dari persembunyian dan menantang kompeni Belanda gila itu.
“Memangnya kau tega, Jati, membiarkan kompeni gila itu menembaki orang-orang?! Di mana hati dan akal sehatmu?!”
“Reno, aku tahu. Aku tahu! Tapi, bukan begini caranya, Ren. Kalau kau menantangnya, sama saja kau mengantar nyawa. Kau bakalan mati konyol.”
Reno menatapku tajam, alisnya bertaut. “Terserah kaulah!”
Begitu selesai mengucapkannya, tahu-tahu ia sudah menghambur tanpa aku sempat mencegahnya. Reno berteriak menantang, akan tetapi kata-katanya sulit kutangkap akibat kecamuk perang di sekitar kami.
Pokoknya menurut sepenglihatanku, si kompeni gila tergelak lantas mengangkat senjata apinya. Targetnya adalah Sureno. Dan…
Dorr! Tiba-tiba saja Sureno sudah tersungkur.
Mataku jelalatan menyaksikan betapa teman-temanku ini rela berkorban demi yang namanya kebebasan, sebuah pengakuan kemerdekaan. Aku tak habis pikir, bukankah Indonesia sudah merdeka? Beberapa waktu yang lalu Bung Karno telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia ke seluruh penjuru dunia. Lalu, apa-apaan ini? Kami kini justru masih harus menumpahkan darah muda kami? Di mana bala bantuan? Di mana kebebasan yang seharusnya juga kami peroleh? Di manakah keadilan di dunia ini kalau begitu?! Mengapa harus begini jadinya?
“Kompeni Belanda ingin menguasai Indonesia lagi.” Aku mendadak teringat perkataan Mbah Dhanu.
“Tapi, Mbah. Indonesia kan sudah merdeka.” Si Sugeng waktu itu, aku masih ingat, membantah ucapan Mbah Dhanu.
“Iya, memang. Terus kalau Indonesia merdeka selesai begitu saja? Dengar ndak pertempuran di kota sana, kota situ? Indonesia merdeka, tapi masih perang, Cah.” Mbah Dhanu menghela napas berat. “Untuk itulah aku mengumpulkan kalian, para pemuda, di sini. Aku cuma mewanti-wanti, kalau pertempuran benar-benar pecah kuharap kalian sudah siap.”
Terdengar bisik-bisik ribut dan tolehan kepala ke sana ke mari. Jidat-jidat berkerut bingung.
Mbah Dhanu, lagi-lagi, menghela napas. “Cah, kuberitahu, ya. Kalian para pemuda harus siap menghadapi kemungkinan terburuk. Daerah kita ini hitungannya termasuk desa, wilayah pinggiran. Agak sulit meminta bantuan tentara-tentara bentukan Indonesia itu. Jikalau pasukan kompeni benar-benar mampir ke desa kita ini dan berniat bikin rusuh, ya mau nggak mau kita juga harus siap melawan.”
“Memangnya kenapa, Mbah? Biarin aja mereka lewat,” ujar Sureno yang dulunya masih lugu.
“Haduh, Bocah.” Mbah Dhanu geleng-geleng. “Kalau kita nggak lawan, kita mati. Aku mati, kalian mati, keluarga kalian juga mati. Semuanya bakal habis.”
Mendengar itu, kami yang dulunya cuma pemuda naif tersentak. Kemudian tak sedikit yang akhirnya manggut-manggut paham.
Ya, seperti yang telah diprediksi, Belanda memang mampir. Niat banget cari gara-gara. Banyak sudah jadi korban, termasuk Mbah Dhanu sendiri. Kami para pemuda akhirnya merasa terpanggil, api bergelora di dalam dada kami. Bergejolak sampai kami tak kuasa menahan nafsu menghentikan kompeni-kompeni yang haus darah itu.
Sampai hari ini, di mana tekadku sekarang malah menguap. Rasa takut yang menjalar, kupu-kupu di perutku, memaksaku menghentikan langkah kaki. Kuintip si kompeni gila, merasa bagai pengecut. Kulirik tubuh tanpa nyawa Sureno. Akankah aku seberani dia, senekat dia? Sanggupkah aku mengorbankan nyawa, mati demi bangsa dan negaraku, tanpa pernah namaku dikenang? Menjadi seperti itu, pahlawan yang namanya tak akan pernah disebut-sebut.
Aku memejamkan mata, memberanikan diri dan bertekad. Harus! Aku harus! Aku bukan pecundang. Aku tidak mau mati sebagai pengecut, pecundang. Aku ingin membela bangsaku, negeriku, dan tanah air tercintaku yang kini kupijak.
Begitu membuka mata, ide segera terbetik di benak. Bergegas, aku jauhi si kompeni gila dan berlari: menembus hujan peluru, pekik kesakitan, cipratan darah, dan teriak campur baur bahasa Indonesia-Belanda. Di sudut itulah, aku pernah merasa melihat kain dua warna: merah dan putih. Dijahit, disatukan lantas diikat pada tongkat bambu yang cukup panjang. Bersyukurlah, aku akhirnya melihatnya, di sudut terjauh pinggir rumah mendiang Mbah Dhanu.
Segera kusambar dan berlari lagi, kali ini memutar menghindari arena pertempuran. Diam-diam kudekati area tempur dari arah tak terduga sekalian mengatur siasat. Kupanjat genteng salah satu rumah warga, berhati-hati mendekati area yang kutuju untuk menarik perhatian. Dengan sedikit cemas, aku berdiri, mengangkat tinggi-tinggi sang saka merah putih. Aku kemudian tersenyum jumawa, bangga dan terharu melihat kain merah-putih itu berkibar liar di tanganku.
Berkibarlah benderaku. Lambang suci gagah perwira…
Siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela. Sang merah putih yang perwira, berkibarlah selama-lamanya. [ Berkibarlah Benderaku – Ibu Soed ]
Itu pengalih perhatian, benar. Kompeni-kompeni belanda heran, menghentikan tembakan. Sementara itu, serasa mendapat kesempatan, kawan-kawan seperjuanganku menyerang dan menerjang para penjajah. Aku nyengir, girang karena ideku berhasil.
Akan tetapi, kegembiraan atas kesempatan gemilang itu tak berlangsung lama. Terlihat di sudut mataku, si pirang kompeni gila sok berkuasa murka. Ia berteriak-teriak dalam bahasa yang tidak kumengerti. Sejurus kemudian, bedil menakutkannya itu teracung padaku.
Aku kelu, terenyak. Bodohnya aku, kenapa tidak langsung lari saja! Tapi, aku tetap bergeming, menanti dengan waspada. Temanku-temanku berteriak heboh, jelas waswas. Sepersekian detik, bara panas menghantam bahu kananku. Aku menjerit kesakitan, terkulai, jatuh dari atap rumah.
Tidak! Aku tidak boleh mati begitu saja!
Kupaksa diriku bangkit. Berjalan tertatih-tatih sambil memegang bahuku yang kebas dan berdarah-darah. Kuseret diri bersembunyi sebelum kompeni-kompeni itu mendekat.
Tindakanku itu membuat mereka semakin ganas. Dengan membabi-buta, mereka tembakkan peluru ke segala penjuru. Kusaksikan teman-temanku terkapar, tak berdaya melawan amarah para kompeni. Kupejamkan mata, tak sanggup lagi melihat darah kawan-kawanku sekaligus pahlawan muda ini menggenangi bumi pertiwi.
Di sana tempat lahir beta. Dibuai, dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua. Sampai akhir menutup mata. [ Indonesia Pusaka – Ismail Marzuki ]
Oleh: Algazella Sukmasari, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang







