Namaku Mawar, aku bekerja sebagai salah satu perawat panti jompo di kota Bogor. Sedari kecil,aku sama sekali tidak mengetahui bagaimana asal-usulku, siapa ibu dan ayahku. Panti asuhan menjadi surgaku selama ini, hingga sepasang suami istri nan baik hati mau mengangkatku sebagai anak dan menunjang pendidikanku sebagai sarjana jurusan Psikologi di Bogor.
Tuhan nampaknya sangat mengasihiku karena setelah S1 salahsatu rumahsakit swasta merekrutku menjadi salah satu perawat di sana. 5 tahun berlalu akhirnya aku berhasil mencapai impian terbesarku, yaitu membangun sebuah panti untuk para lansia yang kuberinama “Angkasa’’. Nama yang indah bukan? Seindah alasan utama ku membangun panti ini. Aku membangun panti ini tentu bukan tanpa alasan, aku tergerak membangunnya karena sebuah kisah pilu yang ku saksikan sendiri lewat mata kepala ku.
Ini adalah kisah yang mewakili berbagai rasa. Disini aku bukanlah peran utama, hanyalah sekelabat bayangan yang sesekali muncul menemani jasad. Aku hanya ingin membagi sebuah luka pada kalian. Memang bukan luka ku, namun luka milik seorang wanita berwatak sutra berhati baja. Wanita yang lapang dada terjun dengan permainan takdir yang rumit, kokoh berdiri di antara hembusan cobaan yang kencang, gegap gempita menyambut luka demi orang terkasihnya, permata hatinya. Entah berapa persen kesabaran yang telah tuhan berikan padanaya, entah mengapa takdir rasanya begitu kejam .
***
Seorang wanita dengan rambut panjang berwarna putih itu memekik kegirangan setelah menerima telepon dari putranya, pasalnya putra kesayangannya itu berniat menjenguknya di panti sore ini. Ia adalah Gretta. Ia masih termasuk junior di panti itu karena baru satu bulan ia bergabung. Ya, mereka adalah tiga sekawan di panti jompo ini, Sekar, Sari dan Gretta.
Rasa iri, ya hanya kata itu yang tertanam di hati Sekar dan Sari kini. Sudah lama mereka tidak merasakan sebuah kehangatan keluarga, jangankan mendapat kunjungan, menerima telepon dari putra nya saja tidak pernah.Mereka bahkan sudah lupa kapan terakhir kali berkumpul dengan kehangatan keluarga.
Sebelum kita melangkah lebih jauh ijinkan aku memperkenalkan satu persatu tiga sekawan ini. Anggota pertama sekaligus tertua, Sari. Usianya mulai menginjak kepala sembilan tahun ini, masuk ke panti jompo karena di telantarkan putri nya di jalanan kota Jakarta tanpa secuil bekal pun dan tanpa rasa bersalah sama sekali. Bahkan kala Sari memohon-mohon untuk tidak meninggalkannya pergi, anak durhaka itu bahkan mendorong sari hingga tersungkur seraya berkata, “Saya nggak sudi menampung sampah di rumah saya. Sampah itu dibuang bukan di pelihara”. Setelah satu bulan terlunta-lunta dijalan dengan bergantung belas kasih warga, akhirnya salah satu petugas panti menemukannya dan mengajaknya bergabung ke panti.
Selanjutya Gretta, wataknya yang ceria dan aktif dengan wajah berbinar-binar khas etnis tionghoa membuat siapapun tidak menyangka bahwa dalam ceria nya tersimpan duka mendalam. Masuk panti karena saran dari putra nya dan kemauan sendiri, menurut Gretta ia harus tetap mandiri walapun diusia hampir kepala delapan. Namun ternyata pilihannya bergabung ke panti ialah pilihan tersalah yang pernah ia ambil. Apa sebab? Tunggu kisahya.
Dan terakhir Sekar. Sekar dalam Bahasa jawa berarti bunga yang Indah, dan memang benar adanya di usianya yang ke 80 ini garis kecantikannya masih melintang jelas membuatnya terlihat 20 tahun lebih muda dari usia sebenarnya. Kasusnya hampir sama dengan Sari, ditelantarkan permata hati satu-satu nya. Putra yang ia besarkan seorang diri tanpa nama ayah kala itu. Ia diceraikan sang suami kala putra nya masih berusia 3 tahun. Alasannya satu, ia tidak mau menerima anak yang bisu. Putra mereka sebenarnya tidak bisu hanya terlambat saja perkembangannya dikarenakan sebuah kelainan genetika. Kuasa tuhan, saat putra nya berusia 6 tahun berkat ketelatenan Sekar dalam melatih putranya, anak itu akhirnya dapat berbicara layaknya anak lain. Segala cemoohan dari orang sekitar karena memiliki anak yang belum bisa berbicara kala itu seakan menjadi makanan sehari-hari baginya. Namun itu tidak lah mengurangi sedikitpun rasa sayangnya pada putra kebanggaannya itu.
***
Panti Jompo Syahdu…
Sore itu Gretta menata penampilanya serapi mungkin, ia ingin memperlihatkan penampilan terbaiknya dihadapan putra nya yang akan bekunjung sore ini. Sekar dan Sari ikut berbahagia melihat raut wajah sahabat mereka yang nampak berseri-seri itu. Dengan langkah tertatih khas wanita senja Gretta melangkah menuju raung tamu dengan sebilah tongkat ditangan kanan guna menopang tubuhnya yang terseok-seok.
Setengah jam, Satu jam, dua jam, hingga enam jam pun berlalu sampai kini sang surya sudah bertukar posisi dengan rembulan. Gretta masih setia menatap gerbang panti dengan sabar, namun sedari tadi wajah yang di rindukannya itu tak kunjung hadir. “Mungkin putraku masih dalam perjalanan dari kantor” hibur Gretta mengenyahkan rasa kecewa nya. Badannya terasa pegal karena sedari tadi berdiri di kursi taman tanpa beranjak sedikitpun. Langit Nampak mendung berselimutkan awan hitam gempal mengandung air hujan yang berebut turun dari singgasananya, kilatan petir pun menggantikan rembulan memberi cahaya pada dunia. Hujan turun dengan derasanya menghantam bumi yang kering keronta, Gretta masih setia berdiri disana dengan penuh harap sang putra akan datang dengan senyuma khasnya. Hujan semakin dasyat melebur ke wajah bumi, tubuh Gretta pun mulai gemetar kedinginan. Ponselnya bergetar tanda masuknya pesan, perlahan ia baca pesan itu. Tubuhnya ambruk ke tanah usai membaca pesan yang lebih mirip panah yang meampu menembus jantung.
Malam itu ketika aku hendak membeli obat penurun panas bagi salah satu lansia di apotek, aku menangkap siluet tubuh gemetar Gretta di atas tanah. Segera ku berlari ke arahnya dengan payung ikut terseok-seok tertiup angin. Sorot mata nya kosong memandang ke depan tanpa ekspresi, ketika aku memapahnya menuju panti pun ia hanya menurut tanpa perlawanan apapun, seakan ia terjebak dalam fikirannya sendiri. Dengan telaten aku membantu membersihkan badannya yang basah kuyup serta memberi baju ganti baginya. Aku menyuapi nya dengan telaten sambal sesekai mengajukan pertanyaan ringan namun hanya dibalas oleh kehampaan oleh nya.
Gretta menyodorkan ponsel nya padaku agar membacakan pesan masuk di dalamya. Aku tersenyum melihat nama pengirim SMS disana ternyata dari Marko, putra beliau. Aku pun dengan ringan mengambil ponsel itu dari genggaman Gretta unyuk membacakan isi nya. Mata ku memanas membaca isi SMS tersebut, hatiku terasa hancur membaca nya, lalu bagaimana aku akan menyampaikan kalimat menyakitkan ini pada Gretta yang malang? Gretta memang tidak bia membaca namun mata nya tentu saja bisa dengan mudahnya menangkap gelagat aneh pada raut wajahku. Tak kusangka wanita itu membentakku keras agar segera mebaa kan pesan itu tanpa ditutup-tutupi sedikitpun. Maka dengan pasrah aku membacanya , “Cukup sampai disini nama ibu terselip di bibirku saat mengucapkan namamu, aku tidak inginlagi berhubungan dengan manusia tak berguan sepertimu, yang bias nya hanya pikun, buang air sembarangan, dan mengomel tanpa alasan yang jelas. Saya tau kamu sudah berjasa merawat saya dulu, maka saya menempatkanmu di panti ini dengan fasilitas terbaik dan uan yang setara dengan nominal yang pernah kau keluarkan duu untuk mengasuhku, 500 juta, Aku sudah menghitugnya matang-matang, biaya sekolahku dulu, biaya pengobatanku dulu, biaya makan ku, dan lain sebagainya. Bahkan mungkin uang yang kau keluarkan dulu kalah jauh dengan nominal yang kuberikan ini. Namun taka pa anggap saja hadih terakhir dariku. Terimakasih atawqs bantuan mu dulu, jangan pernah berharap aku akan kembali mengunjungimu, karena mulai sekarang aku telah memutuskan hubungan kita sebagai keluarga. Jaga diri, jangan kabari aku jika kau mati, karena aku tidak akan pernah datang”.
Gretta menghela nafas panjang, pipinya sudah basah oleh airmata. Padaku ia berkisah tentang sepak terjag hidupna, tentang putra kebanggaannya yang nyatanya hanya menganggap Gretta sebagai sampah keluarga. Menerawang jauh mengingan masa terindahnya bersama sang putra, hari diana untuk pertama kali nya ia bergelar sebagai ibu. Dengan penuh sukacita ia menimang malaikat kecilnya, merawatnya, mendidiknya. Putra nya pernah mengalami gagal ginjal sehingga membutuhkan pendonor ginjal, maka saumi nya pun dengan ikhlas mendonorkan ginjalnya pada sang putra. Operasi berhasil namun sang suami mendalami pendarahan hebat sehingga maut datang menjemputnya. Dengan begitu Gretta lah retta lah ang menjadi satu-satunya kepala keluarga bagi anaknya, ia berjuang keas menghidupinya, segala usaha terbaiknya telah ia kerahkan demi sang putra. Hingga kesulian itu membuahkan hasil yang sempurna. Malaikat kecilnya menjadi orang sukses, tersohor dimana-mana. Namun sungguh Gretta kecewa segala peluh perjuangannya berbalaskan pahitnya tuba. Apakah malaikat nya itu tak ingat bagaimana ayahnya dulu meninggal demi dirinya? Apakah ia lupa bagaimana keras perjuangan Gretta demi dirinya?
Seminggu pun berlalu berganti sebulan, kesehatan Gretta menurun drastis. Bahkan ia sudah tak kuasa lagi untuk berjalan kini, Sari dan Sekar pun dengan setia menemani Gretta. Entah mengapa belkangan ini Gretta Nampak lebih sering diam, sesekali seperti mengigau soal sang suami yang ingin mengajaknya berbuan madu ke tempat terindah di seluruh dunia. Padahal nyataya sang suami telah tiada bukan.
Maka hari itu terjawab lah segala keanehan Gretta, sang malaikat maut ternyata merindukannya. Gretta meninggal dunia dengan meinggalkan sebuah kotak yang berisi tabunagn miliknya selama ini agar diberikan kepada putra nya, ia ingin setidaknya memberikan pengabdian terakhirnya pada sang putra, anaknya itu tidak boleh kekurangan sedikitpun, ia tak boleh menjadi orang susah seperti Gretta dulu.
Pemakaman berlangsug khidmat, para pelayat satu persatu mulai meninggalkan area pemakaman tak terkecuali Sekar dan Sari. Aku masih setia berdiri disamping nissan bertuliskan namanya, hingga sebuah dorongan keras mendorong bahunya. Seorang pria yang berajah seperti Gretta duduk tersungkur bersimbah air mata. Tangis nya pilu menggabarkan dalamny penyesalan yang ia rasakan. Berkali-kali ia ucapkan maaf pada Gretta namun tentunya hanya dibalaskan angin kosong saja. Dan itu lah penyesalan, ia begitu mahir menyiksa batin seseorang dengan datang setelah semua kenyataan tak mungkin lagi diubah, ia lebih suka dating saat hal yang disebut perpisahan menjemput, sehingga membuat luka seakan tersiramkan air cuka, pedih , perih tak terkir.
Kini personil sahabat senja tinggal dua orang saja. Dua tubuh renta itu berjalan menyusuri taman dengan duka yang masih menyelimuti hati dan fikiran mereka. Sahabatnya telah pergi namun sayang tak satu pun anggota keluarga Gretta terlihat saat pemakaman tadi. Bahkan tidak dengan putra nya sendiri. Satu pertanyaan muncul dalam benak mereka, apakah mereka akan bernasib sama dengan Gretta? Di momen terakhir dalam kehidupannya tiada sanak saudara yang berjaga, menaburi bunga atau sekedar meneteskan airmata. Namun sepertinya benar, 2 bulan lalu Sekar masuk rumah sakit, pihak panti sudah menghubungi pihak keluarga nya entah berapa kali namun tak satupun anggoota keluarga nyayang dating membesuk.
Takdir nampaknya suka sekali bermain-main dengan persahabatan sahabat senja ini, karena seminggu setelah meninggalnyaGretta, Sari menyusul Gretta kealam sana. Sari meninggal pada waktu solat subuh sedang khusyuk dijalankan, tepatya pada posisi yang melambnagkan seorang hamba yang dekat dengan Allah, yaitu dalam posisi sujud. Sungguh kematian yang indah, membuat sispapu iri. Dan sesuai dengan dugaan mereka sebelumya, pemakaman Sari pun sama sepi nya dengan pemakaman Gretta. Pihak keluarga yang dihubungi berkata bahwa mereka sedang sibuk dan tidak sempat mengurus jenazah, mereka pasrahkan semua pada pihak panti.
Kini tinggal Sekar seorang diri sebagai personil sahabat senja. Ia masih terduduk diantara makam Sari dan Gretta yang sengaja dibuat berdampingan sesuai dengan permintaan SARI. Sekar mengusap tanah dibawahnya, tinggal menunguu waktu ia pun juga akan terbaring di dalam sana, berkumpul dengan kedua sahabat kesayangannya itu. Tangan Sekar mulai menuliskan sebuah surat di atas kertas kecil beralaskan nisan milik Sari. Surat itu ia tujukan pada sang Khalik.
Tuhan, dimanakah letak keadilan itu? Aku telah berkelana dari ufuk timur hingga barat, namun tak kunjung kudapati keadilan itu. Aku telah mengarungi lautan usia namun belum juag kumenemukannnya. Tuhan, setan apa yang kau ciptakan sehingga membutakan hati banyak anak dari keluarga panti kai, anak-anak yang seharusya mengabdikan diri pada orangtua mereka dikala senjanya malah berlaku sebaliknay. Membuang ayah ibu mereka ke panti ini tanpa sedikit rasa kasih saynag pun, menganggap mereka sampah yang tak pantas di pertahankan. Tidakkah meeka ingat barang sedikit bagaimana ayah ibu mereka telah berkorban demi kesuksesan mereka? Tuhan, satu pintaku padaMu, jikalau benar keadilan itu tidak bias kami temui di dunia ini, maka berjanjilah di alam sana engkau sudi kiranya mempertemukan kami dengan keadilan itu.
***
Sosial media kini tengah gempar akan sebuah berita besar, pasalnya salah satu suraty kabar memuat berita ‘Aktifis Kemanusiaan Kondang Indonesia Rega Armada, Menelantarkan ibunya di panti Jompo’.
Entah darimana berita itu muncul pertama kali, namun hal itu sudah cukup berimbas besar pada karir Rega yang notaben nya aktifis kemanusiaan. Tentunya masyarakat sangat kecewa mendengar berita tersebut karena seorang Rega yang biasanya selalu memberi motivasi soal kemanusiaa, keadilan dan kasih sayang ternyata hanya baik di muka publik saja. Pada kenyataannya ia bahkan menelantarkan ibu kandungnya sendiri. Dan satu yang membuat masyarakat kecewa ialah kebohongan Rega, selama ini ia mengaku bahwa ibu nya telah meninggal dunia bersama sang ayah dalam sebuah kecelakaan mobil ketika ia masih kecil. Namun apa fakta nya? Ibu nya sehat-sehat saja namun ditelantarkan olehnya di panti jompo.
Kini wartawan tengah berlomba-lomba menguak sosok wanita malang yang yang ditelantarkan putra kandungnya itu. Sedangkan Rega? Kini tiada satu pun job pekerjaan menghampirinya. Tujuannya kini hanya satu, Sekar. Ia yakin ibu tidak bergunanya itu lah yang membocorkan rahasia ini pada publik. Jangan tanya apa alasannya, pasti perempuan itu merasa dendam atas perlakuan Rega selama ini. Siapa bilang kasih ibu sepanjang masa? Mungkin hal itu berlaku bagi ibu lain di luar sana tapi tidak bagi ibunya. Ibunya dengan bodoh merusak reputasi anaknya sendiri yang kini sedang ada pada puncaknya. Seharusnya wanita itu berterimakasih pada Rega karena tidak menelantarkannya di jalanan, Rega masih berbaik hati menitipkannya dipanti jompo. Bahkan ia merasa jijik pada ibu kandungnya itu karena segala bentuk kepikunannya dan kecerobohannyya.
Rega menyambar jaket kulit nya dengan sebilah pisau diselipkannya dalam saku. Sekali lagi iblis berhasil menutup mata batin anak cucu adam, sama seperti dulu ia menjerumuskan Qabil dalam jurang dosa.
***
Halaman panti jompo Syahdu kini dipenuhi wartawan yang berebut masuk, hingga membuat satpam kewalahan menghadang mereka. Mereka tak henti-hentinya berkata ingin menemui bu Sekar, ibu kandung Rega Armada. Karena penasaran aku mendekat ke arah mereka dan mencoba menertibkan keadaan. Aku meminta salah satu wartawan untuk menyampaikan maksud mereka. Salahsatu dari mereka pun maju menjelaskan kronologi permasalahan.
Hatiku tersentak mendengar penjelasannya, ternyata wanita tua yang selama ini aku asuh ialah ibu dari tokoh besar indonesia, Rega Armada. Namun betapa malangnya nasib Sekar, dikala putranya hidup dalam gelimang kesuksesan, Sekar hanya nbisa mendekam di panti jompo ini tanpa peluk hangat dari keluarga nya sendiri tanpa secuil kabar apapun. Aku pun meminta mereka menunggu kembali saat siang tiba, karena para penghuni panti saat ini tengah megikuti kegiatan kerajinan tangan.
Aku melangkahkan kaki ku menuju ruangan Sekar, hatiku menghangat melihat foto Sekar dengan kedua sahabat senja nya yang tbertengger manis di atas meja di sudut ruangan. Foto itu diambil sehari sebelum Gretta meninggal dunia, namun entah kenapa hatiku terasa ganjal melihat wajah sekar disana. Aku membuang jauh-jauh ilusi itu dan bergegas berlari menuju kamar Sekar.
Pemandangan di depanku sukses meremukredam hatiku, disana kulihat Sekar telah bersimbah darah diatas lantai dengan pisau yang menghunus jantungnya. Seseorang dengan wajah Sekar dalam wujud pria tengah berdiri dengan raut wajah kaku seakan baru menyadari perbuatannya barusan. Lelaki itu hanya memandang tubuh bersimbah darah itu dengan penyesalan yang mendalam. Pria itu lalu duduk tergugu disamping Sekar. Direngkuhnya tubuh Sekar erat membuat darah Sekar mengotori pakaian pria itu. Wajah pucat Sekar sama sekali tidak menampakkan raut kesakitan disana, hanya senyum bahagia terlukis. Aku segera menghampiri tubuh ringkih Sekar, tanganku terangkat untuk menelpon ambulance namun ditahan olehnya. “Jangan Mawar, malaikat izrail sudah menantikan ibu disini. Berjanjilah untuk merahasiakan hal ini dari siapapun. Ibu tidak ingin Rega mendapatkan kesialan lagi. Ibu sudah cukup bahagia kini, karena diujung hayatku bisa melihat wajah putra hebatku, terimakasih Rega.” Usai mengucapkan sederet kalimat panjang itu, nafasnya mulai terputus putus tanda ruh nya sudah sampai ubun-ubun. Dan benar detik itu juga Sekar kehilangan ruh nya, kembali pada sang pencipta. Tangisanku berpadu dengan tangisan Rega. Berbeda dengan jasad itu, sungguh ruh Sekar tengah berbahagia kini. Setidaknya ia bisa mendengar kata maaf Rega dengaan tulus walau di ujung nafasnya. Tuhan maha baik, ia kabulkan harap hambanya yang lemah itu.
***
Tiang gantung melintang anggun dihadapan Rega. Ya, hari ini ia akan menjalani hukuman yang di tetapkan pengadilan agama untuknya. Kasus pembunuhan yang ia klakukan pada ibnu kandungnya sendiri kini menyeretnya pada sebuah kematian tak terhormat. Saat sidang putusan pun Rega denagn tegas nya mengakui perbuatan keji nya tanpa di tutup-tutupi sama sekali. Namun rasanya bahkan hukuman mati tidaklah cukjup bagui pendosa seperti nya, dosanya lebih besar dari sekedar pembunuhan anmun ia juga telah durhaka pada ibu kandung nya sendiri. Air mata tidak hentinya melintas di pelupuk matanya.
Tubuh Rega kini telah terangkat tinggi oleh tiang eksekusi, saluran pernafasannya mulai menyempit oleh tali di lehernya. Ruh nya perlahan di tarik keluar oleh sang malaikat keluar, hukuman di alam sana pun jug sudah menantikan jiwa berdosa itu.
Hari ini tuhan menampakkan kuasa nya pada seluruh hamba-hambaNya, Ia ingin memperlihatkan sebuah pelajaran berharga secara langsung melalui kisah yang di perankan oleh orang-orang pilihannya. Semoga duka ini mampu menggerakkan hati tiap insan yang melihat mendengar dan menyaksikannya agar tidak pernah lagi terulang kembali di masa depan.







