Oleh: Dr. Mohammad Nasih

Pengasuh Pondok Pesantren & Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Rembang; Pengajar di Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ

Dhalim, adil, dan musyrik di dalam al-Qur’an merupakan tiga kata yang kalau dikaji secara serius dengan menggunakan pendekatan semantik sangat menarik. Sebab, walaupun setelah mengalami ideologisasi setelah kedatangan Islam memiliki makna sinonim, tetapi sebelumnya bermakna sangat berbeda, bahkan adil dan dhalim bermakna berlawanan. Adil dan musyrik awalnya memiliki makna positif kemudian menjadi negatif. Sedangkan kata dhalim sejak awal berkonotasi negatif, dan setelah mengalami ideologisasi dalam ranah teologis setelah kedatangan Islam kemudian menjadi makin negatif.

Kata dhalim (dha-la-ma, ya-dh-li-mu, dhu-l-mun) menurut Ibnu Mandhur di dalam Mu’jam Lisan al-‘Arab berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Kata ini digunakan dalam ranah yang sangat luas. Dalam kontek kehidupan sosial, secara umum, sering dimaknai dengan penganiayaan. Melakukan tindakan yang tidak baik, tanpa ada sebab keburukan yang mendahului, merupakan kedhaliman. Melakan penindasan terhadap lawan politik, atau rakyat banyak, merupakan kedhaliman. Dalam ranah hukum, nenjatuhkan vonis yang tidak sesuai dengan fakta-fakta di pengadilan. Al-Qur’an menyebut kata dhalim dalam makna ini di sangat banyak ayat. Konteksnya yang paling banyak adalah Allah tidak akan mendhalimi manusia dengan menyiksa bukan karena tindakan kejahatan. Beberapa ayat menjelaskan tentang tindakan dhalim yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, misalnya:

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dhalim kepada orang lain dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat adzab yang pedih. (al-Syuuraa: 42)

Dalam konteks mu’malah, tepatnya ekonomi, al-Qur’an mengkritik keras praktek riba sebagai sebuah kedhaliman. Kalau para pelakunya bertobat, dan hanya mengambil modal mereka saja, maka itu adalah tindakan yang tidak menyebabkan diri sendiri terdhalimi, juga tidak mendhalimi orang lain.

Baca Juga  Islam dan Masa Depan Peradaban Dunia*

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (al-Baqarah: 278-279)

Konteks tersebut menampakkan kedhaliman dalam makna antonim keadilan. Namun, setelah mengalami ideologisasi, masuklah paradigma baru ke dalam kata dhalim, yakni menempatkan yang bukan Tuhan sebagai Tuhan. Akibatnya, yang bukan Tuhan diposisikan setara dengan Tuhan. Posisi setara ini mirip dengan konsepsi keadilan komutatif. Dalam konteks teologis, paradigma ini merupakan kekeliruan besar yang dilakukan oleh orang kafir dari golongan yang menganggap bahwa ada tuhan-tuhan lagi selain Allah. Menempatkan secara setara inilah yang oleh al-Qur’an disebut dengan berbuat adil, sebagaimana dalam al-An’am: 1.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ۖ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. (al-An’aam: 1)

Kata ya’diluun yang ada pada ujung ayat al-An’am: 1 merupakan makna baru yang berkonotasi negatif. Padahal makna paling awal kata adl adalah positif sebagaimana juga masih dipakai oleh al-Qur’an, di antaranya dalam al-Nisa’: 58 dan al-Nahl: 90.

Baca Juga  Batas-batas Toleransi

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (al-Nisa’: 58)

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (al-Nahl: 90)

Dari sini nampak bahwa kata adl, mengalami perubahan konteks dari positif menjadi negatif, karena berkaitan dengan penyetaraan yang bukan Tuhan dengan Tuhan.

Dalam konteks praktek penyembahan kepada berhala-berhala atau nama-nama yang dianggap Tuhan selain Allah itulah, kata dhulm kemudian juga menjadi bersinonim dengan kata syirk atau isyraak (penyekutuan atau menyekutukan). Ada cukup banyak ayat dengan kata yang berasal dari dhulm dengan makna syirk atau isyraak ini. Di antara yang bahkan membuat shahabat sempat salah paham adalah:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-An’am: 82)

Mendengar ayat ini dibacakan oleh Rasulullah, salah seorang sahabat kemudian menanyakan: “Siapa yang mampu untuk tidak berbuat dhalim?” Rasulullah langsung menangkap kesalalahpahaman sahabatnya, lalu mengatakan bahwa yang dimaksud dhalim dalam ayat di atas adalah sebagaimana terdapat dalam Luqman: 13.

Baca Juga  Komunikasi Efektif Keluarga Khalilullah Ibrahim

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Luqman: 13)

Kata syirk, awalnya berkonotasi positif karena berkaitan dengan hal teknikal, yakni persekutuan dagang yang umum, tidak hanya saat itu, tetapi bahkan sampai sekarang. Dalam fikih misalnya dikenal kata syirkah. Di Indonesia, muncul kata sarekat dan persyarikatan dalam konteks organisasi sosial. Demikian pulan dalam konsepsi kenegaraan, yang melahirkan istilah Amerika Serikat untuk membahasa Indonesiakan United State of Amerika.

Setelah mengalami ideologisasi dengan konotasi khusus, yakni menyekutukan Allah dengan yang lain, maka makna syirk menjadi negatif. Orang yang melakukan penyekutuan, diancam dengan terhapusnya seluruh amal kebajikan yang dilakukan, sehingga tidak akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah Swt..

ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (al-An’aam: 88)

Itulah di antara permasalahan pergeseran makna semantik yang “berbelit” di dalam al-Qur’an. Karena itu, untuk memahami makna al-Qur’an dengan tepat, diperlukan kemampuan untuk mengkoneksikan berbagai ayat dan juga menjadikan konteks historis sebagai di antara basis pemaknaan kontekstual. Banyak ayat dalam al-Qur’an yang jika dipahami secara mandiri, menyebabkan kesalahan pemahaman, bahkan pemahaman yang ditarik bisa berkebalikan dari yang diinginkan oleh al-Qur’an sendiri. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

Palestina, Israel dan Tanah yang Dijanjikan

Previous article

Pandemi Covid-19 dan Meningkatnya Angka Perceraian dan Pernikahan Dini

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi