Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO Rembang, Guru Utama di Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang; Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI
Berbagai komentar pro dan kontra tentang seorang ustadz terkenal yang bermasalah karena diduga melakukan penipuan investasi telah membuat saya memiliki bukti lebih nyata dan kuat bahwa sebagian umat Islam berpandangan bahwa seorang ustadz/kiai/tuan guru, mestinya tidak berbisnis. Menurut mereka, orang yang mengajarkan agama Islam harus hanya fokus mengajar dan tidak perlu mengurus urusan duniawi, termasuk di dalamnya usaha atau bisnis untuk menghasilkan uang. Inilah pemahaman keliru yang sudah mendarah-daging, yang karena itu membuat umat Islam tertinggal dalam aspek ekonomi. Dan sesungguhnya pandangan itu lahir dari kalangan elite agama Islam sendiri.
Lalu bagaimana sesungguhnya pandangan Islam tentang masalah ini? Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad yang merupakan sumber ajaran Islam telah memberikan panduan yang sangat jelas. Namun, sebagian besar umat Islam, karena masih rendah dalam literasi kepada keduanya, dan terpengaruh oleh ajaran-ajaran agama atau paham lain, kemudian berpandangan berbeda, bahkan bertentangan dengan Islam.
Dakwah Islam dilakukan oleh seorang rasul yang berprofesi sebagai pedagang, atau setidaknya fund manager yang sangat hebat. Nabi Muhammad sejak kecil telah ikut dalam perjalanan dagang ke luar negeri. Dan setelah muda, beliau mendapatkan kepercayaan dari seorang investor kaya raya bernama Khadijah. Dari sinilah, Khadijah mengenal pribadi Muhammad sebagaimana dikenal oleh masyarakat Makkah sebagai al-Amin, dan kemudian tertarik untuk menikah dengannya. Khadijah yang dalam beberapa referensi dikatakan sebagai orang terkaya di Makkah dengan kekayaan 2/3 dari kekayaan kota itu, menikahi Muhammad karena dia sudah sejak lama ingin menjadi istri rasul yang terakhir dan dia mendapati ciri-cirinya terdapat dalam diri pemuda yang dipercayanya untuk menjalankan uangnya. Karena Khadijah menyadari tugas seorang rasul sangat berat, maka setelah menikah ia mengatakan kepada suami yang baru saja dinikahinya itu bahwa ia boleh menggunakan hartanya untuk apa pun yang ia suka. Dan benar. Kekayaan Khadijah dihabiskan untuk mensupport dakwah Nabi Muhammad pada persis satu decade kerasulan yang penuh dengan tantangan. Karena menghadapi keadaan yang sangat sulit, harta kekayaan Khadijah sampai habis, sampai-sampai banyak sejarawan yang menggambarkan Khadijah meninggal dengan hanya memiliki baju yang ada 80 tambalan. Baju tambalan ini nampaknya adalah ungkapan bahwa Nabi dan sahabat dakwahnya, terutama istrinya harus menanggung risiko sangat besar, termasuk harta kekayaan yang sebelumnya mereka miliki harus habis. Khadijah menghadiahkan seorang budak bernama Zaid kepada suaminya, yang kemudian dimerdekakan, dan bahkan menjadi anak angkat yang nasabnya pernah disandarkan kepada Nabi dan termasuk golongan orang-orang pertama masuk Islam. Bahkan Zaid bin Haritsah sampai menolak ikut keluarganya untuk ikut mereka kembali ke kampungnya. Ketika mendapat tawaran itu, dia dengan tegas ingin tetap ikut Nabi Muhammad.
Abu Bakar yang merupakan sahabat terdekat Nabi Muhammad juga mengeluarkan banyak uang untuk dakwah Islam. Di antaranya digunakan untuk memerdekan budak yang mengalami penyiksaan tuannya karena diketahui memeluk Islam. Bilal misalnya, dimerdekakan oleh Abu Bakar dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga pasaran, karena tuannya meminta itu. Utsman bin Affan masuk Islam juga karena ajakan Abu Bakar.
Kisah-kisah di atas menjadi bukti bahwa dakwah Islam oleh Nabi dan para sahabatnya dilakukan dengan mengorbankan harta kekayaan yang tidak sedikit. Mereka mengajarkan Islam, tanpa berharap imbalan material. Bahkan karena ingin agar ajaran kebenaran Isalam diterima oleh lebih banyak orang dan bisa melaksanakannya secara leluasa, mereka mengorbankan apa pun materi yang mereka punya.
Tentu saja, untuk mendapatkan materi tersebut, mereka juga menjalankan aktivitas bisnis. Bahkan, Abu Bakar sampai menjadi khalifah pun tetap menjalankan bisnis. Hanya karena kemudian dilarang oleh Umar dan mulai diatur mekanisme penggajian pejabat, Abu Bakar menghentikan aktivitas dagangnya dan lebih fokus mengurus urusan kaum muslimin. Walaupun ia mengambil hanya yang benar-benar diperlukan untuk bisa bertahan hidup. Tidak ada lebihan untuk hidup bergelimang kesenangan. Kehidupan mereka, baik sebagai bisnisman maupun pejabat adalah kehidupan yang sangat asketik.
Ini selaras dengan al-Qur’an yang menegaskan berulang-ulang bahwa para nabi dan rasul menyampaikan ajaran kebenaran dari Allah tidak memungut bayaran dan memerintahkan untuk mengikuti orang yang demikian. Di antara ayat yang menegaskan ini bahkan diulang-ulang dalam konteks rasul-rasul yang berbeda-beda yang itu menunjukkan bahwa para penyampai agama Allah memang memiliki kemandirian ekonomi.
اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Yasin: 21).
وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (al-Syu’ara’: 109, 127, 145, 164, 180)
Tidak mungkin mereka bisa bertahan hidup dan bahkan mendapatkan kehormatan dalam masyarakat, kalau mereka hanya mengandalkan pemberian, baik itu berbentuk bisyarah, hadiah, atau apalagi zakat, infak, dan shadaqah dari umatnya. Mereka memiliki sumber penghasilan yang membuat mereka terbebas dari tindakan meminta-minta yang bisa menyebabkan kehormatan mereka rusak dan hilang. Nabi Ibrahim misalnya, adalah seorang yang jelas kaya raya. Perintah untuk menyembelih putera yang sudah lama ditunggunya adalah karena beliau mengucapkan semacam nadzar. Saat itu, Nabi Ibrahim mengorbankan 1000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Nilai rupiah saat ini tidak kurang dari belasan milyar. Jumlah fantastis kurban Nabi Ibrahim ini membuat orang terkagum-kagum dan memuji Nabi Ibrahim. Nabi dengan julukan kekasih Allah itu merespon pujian itu dengan mengatakan: “Jangankan hanya binatang, jika saya punya seorang anak dan Allah memerintahkannya untuk disembelih, maka akan saya lakukan juga”. Ucapan Nabi Ibrahim ini kemudian diuji oleh Allah dan ternyata lulus. Inilah kekayaan yang sesungguhnya.
Gaya Hidup
Setelah menjalani kehidupan dakwah, praktis kehidupan Nabi Muhammad menjadi tidak mudah. Harta kekayaan melimpah bisa dikatakan total untuk berjihad. Dan sebagai pemimpin umat, Nabi Muhammad makan makanan yang mereka makan dan berpakaian sebagaimana pakaian mereka. Karena itu, orang yang belum pernah bertemu dengan Nabi, kalau yang dilihat adalah pakaian, maka tidak akan bisa membedakan mana yang nabi dan mana yang sahabat. Sebab penampilan luar mereka sama. Walaupun Nabi Muhammad sesungguhnya adalah seorang pemimpin politik, atau raja pada saat itu, tetapi tidak pernah ada cerita dalam hadits Nabi atau dalam al-Qur’an bahwa Nabi Muhammad menggunakan mahkota. Yang diceritakan adalah unta atau kuda untuk memenuhi kebutuhan berkendaranya yang kebanyakan orang juga memilikinya.
Seorang pemuka agama memang dimuliakan bukan karena kualitas baju dan kendaraannya, melainkan ketinggian ilmu dan akhlaknya. Dan untuk menjaga hati umat, maka yang harus dilakukan adalah berpenampilan sebagaimana kebanyakan umat berpenampilan. Bukan sebaliknya, berpenampilan kontras dengan umat yang berpakaian lusuh, karena mereka lemah dalam hal ekonomi sementara elitenya berpakaian glamour. Mereka menggunakan kendaraan super mewah, sementara umatnya menggunakan transportasi umum dengan pelayanan yang buruk. Apalagi bersikap pamer kepada mereka tentang kemampuan untuk membeli barang mewah itu, sementara umat sedang berjuang mempertahankan kehidupan dengan bekerja di luar negeri.
Sikap curang elite agama sesungguhnya sudah diingatkan oleh al-Qur’an. Tentu saja ini adalah simbol bahwa kejadian yang sama bisa terjadi dalam agama apa pun.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, (al-Taubah: 34)
Para elite agama mestinya bersikap menjaga diri, jangan sampai menggunakan posisinya yang dipercaya oleh umat secara sembarangan. Apalagi menggunakan cara-cara manipulatif demi untuk menyedot sumber daya dari mereka untuk kepentingan dan ambisi pribadi. Inilah yang dilarang oleh Islam, karena tindakan ini justru adalah tindakan yang membodohkan masyarakat. Sedangkan tugas utama elite agama adalah mencerdaskan dan memberdayakan mereka. Wallahu a’lam bi al-shawab.






