Doc.Istimewa

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidh al-Qur’an Darun Nashihah Monash Institute, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ

Menyebut Islam sebagai agama toleransi, sesungguhnya tidak tepat. Yang benar, Islam adalah agama dakwah. Setiap pribadi muslim sesungguhnya memiliki kewajiban untuk berdakwah atau menyerukan kebenaran Islam kepada yang belum meyakininya. Namun, kewajiban itu sebatas menyampaikan, tanpa paksaan. Jika sudah diserukan, tetapi tetap tidak mau menerima, maka ia sudah sudah melaksanakan tanggung jawabnya.

Dia sudah sampai pada taraf boleh membiarkan orang yang diajak untuk menerima kebenaran Islam tetapi bertahan dalam kesesatannya. Jika itu yang disebut toleransi, maka bolehlah ia dimasukkan dalam bagian dakwah. Namun, sejatinya, toleransi adalah istilah yang lahir di Barat-Eropa dalam konteks untuk membiarkan penganut sekte lain, tanpa usaha untuk mengajak orang lain mau menerima keyakinan yang dianggap benar. Sebab, yang dibangun adalah paradigma bahwa semuanya salah, atau semuanya benar secara relatif bagi pemeluk-pemeluknya.

Jika pun demikian, toleransi dalam Islam memiliki batas-batas yang jelas. Itu ditegaskan oleh al-Qur’an dan juga sunnah Nabi Muhammad. Nabi Muhammad, baik di Makkah maupun Madinah berinteraksi sangat baik dengan orang-orang yang bahkan tidak menerima dakwahnya. Di Makkah, beliau berhubungan dengan Abu Thalib yang dalam pandangan Sunni, tetap kafir sampai ia meninggal.

Di Madinah, terkenal kisah Nabi Muhammad memberikan makan kepada seorang Yahudi buta yang bahkan selalu mencaci makinya. Juga Nabi meninggal dalam keadaan baju besinya masih tergadai pada seorang Yahudi. Itu adalah contoh-contoh yang nyata bahwa Islam dalam prakteknya benar-benar agama yang rahmatan li al-‘aalamiin. Itu karena dalam doktrin, Islam mengajarkan interaksi yang baik kepada pemeluk agama lain. Di antara doktrin tentang ini adalah:

Baca Juga  GPII Jateng Mendesak Pemerintah Usut Tuntas Kasus Perusakan Mushalla di Minasaha Utara

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqmaan: 14-15)

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Mumtahanah: 8)

Dalam ayat selanjutnya, al-Qur’an menunjukkan ketegasan yang menunjukkan adanya batasan bersikap baik kepada pemeluk agama lain karena ada sebab tertentu:

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim.” (Mumtahanah: 9)

Selain itu, al-Qur’an juga memiliki sikap yang tegas dan lugas tentang orang yang tidak beriman dalam konsepsi tauhid. Ini jelas dalam doktrin yang berisi larangan orang-orang musyrik masuk ke area tanah haram.

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (al-Taubah: 28)

Baca Juga  Kekuasaan untuk Apa?

Karena ayat itulah, maka pemerintah Arab Saudi sampai hari ini memberikan batasan area yang boleh dimasuki oleh orang yang beragama bukan Islam. Area yang disebut sebagai tanah haram, khusus untuk muslim saja, karena selain mereka, secara hakiki dianggap najis. Tentu saja, ini bisa dikatakan diskriminatif. Namun, demikian aturan yang berasal dari Allah. Hubungan dengan selain muslim bisa dilakukan, tetapi di luar area haram itu. Dalam konteks ini, tidak ada ulama’ yang tidak sepakat.

Contoh lain yang kalau menggunakan perspektif rasional dan juga perasaan mungkin bisa menyebabkan keanehan adalah larangan mendo’akan penganut agama lain ketika sudah meninggal. Saat masih hidup, mendoakan medekan mereka mendapatkan petunjuk, dibolehkan, bahkan dianjurkan. Namun, jika sudah meninggal, maka berdiri di kuburnya pun dilarang.

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (al-Taubah: 84)

Pada era sebelum Nabi Muhammad diutus, hal yang serupa juga terjadi pada Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim tidak lagi mendokan Azar setelah pasti bahwa Azar adalah orang kafir.

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (al-Taubah: 114).

Baca Juga  Mengapa Al-Qur'an Perlu Dihafalkan?

Islam telah memberikan koridor yang sangat jelas dan juga tegas. Tinggal dijalankan secara konsisten. Sebab, dengan panduan itu, Nabi Muhammad telah membuktikan bisa hidup bersama dalam sebuah negara yang berkebhinnekaan SARA. Sekarang ini tinggal ditiru saja. Wallaahu a’lam bi al-shawaab.

Millenial Ingin Kaya? Jangan Jadi PNS!!!

Previous article

Berbeda Dengan MUI Jatim, Ganjar Perbolehkan Salam Semua Agama

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi