Ayah dan Status Sosial di Masyarakat

Dalam hidup bermasyarakat, secara tidak langsung banyak sekali yang beranggapan bahwa peran seorang ayah tidak terlalu berat layaknya peran seorang ibu dalam mengasuh anak. Dalam kehidupan berumah tangga, ayah dianggap sebagai orang yang cuek apabila sudah berurusan dengan urusan domestik.  Ayah dianggap tidak pernah atau tidak perlu terlibat dalam urusan rumah tangga. Menurut Pleck, peran seorang ayah dalam keluarga dibagi menjadi tiga perspektif yaitu perspektif tradisional, perspektif eksploitasi dan perspektif perubahan peran.

Pertama yaitu perspektif tradisional. Dalam perspektif ini, dijelaskan bahwa seorang ayah tidak mempunyai tanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga seperti memasak, membereskan rumah dan mengasuh anak dalam keluarga. Suami hanya bertanggung jawab untuk mencari nafkah bagi keluarga saja. Laki-laki tidak berurusan dengan tugas domestik dan anak-anak, ia lebih berkaitan dengan lingkungan dan menjadi pencari nafkah bagi keluarganya.

Kedua yaitu perspektif eksploitasi. Hasil penelitian Pleck menunjukkan bahwa jumlah waktu yang digunakan suami dalam pekerjaan rumah tangga lebih sedikit dari pada jumlah waktu perempuan, baik yang bekerja maupun yang tidak bekerja. Para suami yang bekerja di luar rumah tidak banyak meluangkan waktu untuk urusan rumah tangga. Keadaan demikian menempatkan istri yang bekerja di luar rumah mengalami kelebihan beban dalam kombinasi kerja dan peran keluarga dibandingkan para suami. Inilah yang disebut sebagai beban ganda yang diperoleh oleh seorang istri. Kelebihan beban peran istri berpengaruh negatif berupa kurang waktu tidur dibandingkan suami, meningkatnya perasaan tertekan dan menurunnya kesejahteraan psikologis.

Ketiga yaitu perspektif perubahan peran. Dalam perspektif ini, peran laki-lali yang awalnya sebagai pencari nafkah kemudian berbanding terbalik sehingga peran ayah menjadi pengurus rumah tangga misalnya mengurus anak dan sebagainya. Perubahan ini bisa menuai kontroversi di kalangan masyarakat, bahkan cibiran selalu datang silih berganti. Padahal, tidak ada yang salah dengan perubahan peran ini. Seorang ayah juga bisa menggantikan peran ibu sebagai pendidik anaknya ketika di rumah.

Bacaan Lainnya

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Robert I Watson dan Yenry Caly Lindgren terhadap perkembangan anak yang tidak mendapatkan asuhan dan perhatian ayah akan menyebabkan perkembangan anak menjadi pincang. Kelompok anak yang kurang mendapat perhatian ayahnya cenderung memiliki kemampuan akademis menurun, aktivitas sosial terhambat, dan interaksi sosial terbatas. Bahkan bagi anak laki-laki, ciri maskulin (kelakian) yang seharusnya ada pada dirinya bisa menjadi kabu.

Salah satu faktor yang mendorong munculnya anggapan negatif dari masyarakat terhadap laki-laki yaitu ungkapan Rasulullah ketika ada seseorang yang bertanya kepada beliau. Orang itu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang pertama yang harus saya hormati? Beliau menjawab, kepada ibumu. Orang itu bertanya lagi kepada Rasulullah, kemudian kepada siapa lagi ya Rasulullah? Kepada ibumu. Untuk yang ketiga kalinya orang itu bertanya lagi, setelah itu kepada siapa lagi ya Rasulullah? Kepada ibumu. Setelah itu baru ayahmu, ucap Rasulullah saw.

Jika kita renungkan bersama, ungkapan di atas dapat menurunkan elektabilitas seorang ayah sebagai kepala rumah tangga. Dalam hal penghormata saja, ayah selalu di nomor duakan bahkan di nomor empatkan. Dalam artikel ini, penulis tidak bermaksud untuk menggiring pembaca untuk membuat gerakan maskulinisme. Artikel ini lebih kepada menyadarkan kepada masyarakat bahwa antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan dalam hal kehebatan.

Sejak abad ke 19 hingga awal abad 20 an, dunia ini dihebohkan dengan gerakan feminisme. Gerakan ini muncul karena adanya ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Mereka terus menggaungkan tentang penindasan, kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan. Perempuan berhak untuk mendapatkan keadilan dalam segi apapun, padahal tidak dipungkiri bahwa laki-laki sebenarnya bisa saja mendapatkan perlakuan semacam itu. Perempuan juga bisa melakukan kekerasan kepada laki-laki. Sehingga muncul anekdot “suami takut istri”. Kalimat ini bisa muncul, karena pasti ada sesuatu di balik itu. Bisa jadi kekerasan dan eksploitasi terjadi pada laki-laki yang menyebabkan laki-laki tidak mempunyai daya untuk melakukan pengelakan.

Wallahu A’lam bi al-Shawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *