Perilaku tantrum terjadi saat usia anak prasekolah, sering disertai dengan beberapa tingkah laku seperti menangis dengan keras, melempar barang yang ada di dekatnya, memukul, menendang, menjerit, berguling-guling di lantai, atau bahkan diiringi dengan muntah dan buang air kecil di celana. Perilaku tantrum merupakan perilaku umum dan normal yang sering terjadi pada anak-anak. Namun, banyak dari orangtua yang merespon perilaku anak tantrum dengan cara yang kurang tepat dengan menganggap sebagai suatu hal yang mengganggu dan distress.
Hasil penelitian yang dilakukan pada anak berusia 6 tahun menunjukan bahwa anak-anak tersebut mengalami amukan yang berupa fisik dan verbal. Para orangtua juga berkata bahwa anak mereka mengalami tantrum minimal tiga kali dalam seminggu. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa sebagian orangtua berkata bahwa anak-anak mereka mengalami tantrum dengan perilaku seperti melempar, mengamuk, merengek, atau menolak berhenti menggunakan smartphone, sementara itu sebagian orangtua melaporkan bahwa penggunaan smartphone pada anak biasanya akan diakhiri dengan perkelahian.
Pada kasus tertentu, tantrum pada anak mungkin bisa disebabkan oleh gangguan perilaku atau masalah psikologis seperti autisme dan depresikologis. Selain itu, tantrum menjadi ajang anak untuk melakukan observasi dan cara mengenali mendapatkan keinginannya. Misalnya, jika saat anak ingin mendapatkan sesuatu dengan cara mengamuk dan si Ibu menuruti kemauannya, maka ia akan mengulanginya lagi di kemudian hari. Jika terus dibiarkan maka hal tersebut menjadi kebiasaan buruk bagi anak.
Lalu bagaimana cara mengatasi tantrum bagi anak-anak?
Tantrum pada anak tidak boleh dibiarkan secara terus menerus karena bisa menjadi kebiasaan yang buruk dan memengaruhi perkembangan anak di kemudian hari. Orangtua bisa mencoba mengehentikan tantrum dengan melakukan berbagai cara. Salah satunya yaitu dengan bersikap tenang. Saat anak tantrum orangtua harus tetap tenang dan jangan membalas berteriak atau memaksa anak untuk menghentikan amukannya. Sikap yang tenang membuat anak akan lebih mudah untuk diatasi.
Cara yang kedua yaitu cari tahu penyebab anak tantrum. Banyak hal menjadi penyebab anak tantrum, seperti keinginan yang tidak terpenuhi atau merasakan lapar dan mengantuk, bagi anak yang masih sulit untuk mengungkapkan. Jika anak belum bisa berbicara, coba tanyakan secara langsung dengan cara mengatakan “Kamu lapar?” atau “Kamu masih mengantuk?”. Sebagai jawaban anak mungkin akan mengangguk atau menggeleng sebagai jawaban. Ketika penyebabnya sudah diketahui, pastinya akan lebih mudah saat mengatasinya.
Cara yang ketiga yaitu jangan memukul anak. Cara mengatasi tantrum dengan pola asuh otoritatif lebih cocok untuk diterapkan. Jadi, jangan coba-coba memukul atau mencubitnya. Jika orang tua memukul atau mencubit justru membuat anak jadi suka memukul untuk menyampaikan keinginannya. Sebagai gantinya, orangtua bisa memeluk anak untuk menenangkan amarahnya. Selain menenangkan, pelukan juga bisa menjadi sebuah cara bahwa orangtua benar-benar peduli dan mencintai mereka.
Jika tantrum pada anak sering terjadi atau membuatnya menyakiti dirinya sendiri atau orang lain, orangtua bisa berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendiskusikan perilaku anak dan bagaimana cara mengatasinya.





