Aku Terfasilitasi Bukan Memberi

Pada awalnya, aku merasa bingung ketika mendapati istilah di berbagai media, terutama di sebuah situs bimbingnan online yang menampilkan kata-kata “mengajar merupakan cara yang terbaik dalam belajar”. Bahkan, ada kata-kata yang membuatku semakin tercengang, yaitu “mengajar itu bukan membuatmu memberi tapi terfasilitasi”.

Bagaimana tidak bingung? Kurasa mengajar itu merupakan hal yang dapat membuat kepala pusing karena harus membuat poin-poin  dan menyiapkan materi dan hal itu kurasa merupakan bentuk “memberi” yang sangat besar karena dapat mencerahkan banyak orang. Terlebih, aku tak mendapatkan upah atas apa yang kuajarkan. Ternyata hal tersebut merupakan bentuk kekeliruan.

Jika ditinjau dari segi waktu menurut perspektif Barat, aku harus mendapatkan uang atas apa yang kulakukan.

Namun, perspektif itu hanya bersifat duniawi dan yang harus diingat adalah firman Allah:

Bacaan Lainnya

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dan di antara mereka ada yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka.”

Pernyataanku sebelumnya mengandung makna bahwa bukan berarti uang tidak penting. Dimensi akhirat memang belum terverifikasi. Namun, keyakinan akan hadirnya hari kiamat merupakan hal yang wajib dipercayai.

Kembali lagi ke topik mengajar. Dalam Islam, mengajar merupakan hal yang sangat penting dan bagi yang mengajar kebaikan akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).

Selain mendapatkan pahala, si pengajar akan mendapatkan keuntungan dan itu yang selama ini saya rasakan setelah beberapa waktu menjadi pengajar di sebuah lembaga pendidikan. Ketika mengajar, aku  mendapatkan ilmu baru dari hasil diskusi ataupun ayat yang dibaca. Mengajar juga akan membuat pelakunya menjadi lebih mempersiapkan diri baik jauh-jauh hari maupun beberapa waktu sebelum memulai mengajar. Jika hal tersebut secara terus menerus diulang, maka pengajar akan terbiasa dan bahkan, apa yang diucapkannya udah berada diujung mulut, tanpa pemikiran yang panjang.

Selain keuntungan berupa pahala dan latihan diri, mengajar akan menambah silaturrahmi.

Banyak sekali keuntungan dadi mengajar. Oleh karena itu, hal yang penting untuk kita perhatikan adalah jangan sampai dengan mengajar, kita dianggap telah memberi, padahal sejatinya kita telah terfasilitasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *