Air: Antara Berkah dan Musibah

Air adalah kebutuhan dasar hidup manusia. Tidak ada kehidupan tanpa air. Secara literal, al-Qur’an menyebut bahwa setiap makhluk yang melata di muka bumi ini, tercipta dari air.

وَٱللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَآبَّةٍ مِّن مَّآءٍ ۖ فَمِنْهُم مَّن يَمْشِى عَلَىٰ بَطْنِهِۦ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِى عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِى عَلَىٰٓ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (al-Nur: 45)

Dalam beberapa ungkapan lain, air juga disebut sebagai rahmat Allah. Yang dimaksud di sini adalah spesifik air hujan dengan fungsi untuk menghidupkan tanah yang mati dan memenuhi kebutuhan makan, minum, dan kebutuhan lain hewan ternak, manusia, dan makhluk hidup lainnya.

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا – نُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا

Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. (al-Furqan: 48-49)

Ini adalah di antara gambaran dalam al-Qur’an, bahwa air merupakan berkah dari Allah Swt. yang bisa dibukakan dari langit maupun bumi. Dan prasyarat untuk mendapatkan berkah ini adalah iman dan takwa kepadaNya.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (al-A’raf: 96)

Segala nikmat yang diberikan oleh Allah tersebut adalah untuk menunjang kehidupan manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Karena itu, manusia boleh memanfaatkannya, dengan catatan tidak berlebih-lebihan dalam arti yang luas.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (al-A’raf: 31)

Pendustaan kepada kebenaran dari Allah-lah yang telah membuat berkah yang melimpah bisa berubah menjadi musibah. Kejadian tentang berkah air berubah menjadi musibah telah terjadi berulang kali dalam sejarah. Dan ini menjadi semacam siklus yang seharusnya menjadi tanda-tanda yang harus dicermati oleh manusia, sehingga bisa mengulur waktu terjadinya dengan tindakan-tindakan yang sebaliknya. Bencana ini, pertama kali terjadi pada era Nabi Nuh, disebabkan oleh pendustaan kaumnya terhadapnya.

قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ –
وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim”. (Hud: 43)

Kisah lain tentang berkah yang berubah menjadi musibah terjadi pada masyarakat Saba’. Awalmnya mereka mendapatkan kehidupan yang penuh dengan kebaikan. Akan tetapi, mereka tidak bersyukur atas karunia tersebut, bahkan berpaling dari kebenaran.

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ- فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ – ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (Saba’: 15-17)

Bencana dengan air ini juga terjadi atas Bani Israel akibat pembangkangan mereka terhadap Nabi Musa. Bencana ini berupa air yang berubah, tidak lagi bersih, tetapi menjadi keruh dan berbau tidak sedap seperti darah.

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ

Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. (al-A’raf: 133)

Dari berbagai kejadian sejarah di masa lalu yang disampaikan oleh al-Qur’an, untuk menghindari musibah melanda, manusia harus melakukan beberapa hal:

Pertama, selalu memperbaiki iman dan takwa kepada Allah. Iman dan takwa akan menghindarkan dunia ini dari kerusakan. Sebab, setiap pembangkangan yang diteruskan akan mengundang bencana yang itu berarti kerusakan  terjadi.

Kedua, senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan olehNya dan jangan sekali-kali melakukan pendustaan. Jika manusia bersyukur, maka Allah akan menambahkan nikmat. Sebaliknya, jika manusia mengingkarinya, maka Allah akan menimpakan adzab yang sangat berat.

Ketiga, bersikap baik kepada lingkungan, dengan menghindari tindakan yang berlebih-lebihan, agar SDA yang ada saat ini juga bisa dimanfaatkan oleh generasi yang akan datang. Sikap hidup melampuai kebutuhan, di antaranya berupa kemewahan, akan menyebabkan lingkungan menjadi rusak, sehingga generasi di masa depan tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan manfaat yang sama.

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si., Dosen Ilmu Politik di Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ; Pengasuh Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *