Roda kehidupaan selalu berputar dan akan terus berputar hingga semesta menghentikan. Segala hal yang telah terjadi akan menjadi catatan tersendiri dalam memori yang entah kapan akan terhapus dan hilang dari relung hati. Begitupun dengan hati yang sama-sama sedang dalam masa yang tak bisa dijelaskan dengan kata.
Dengan segala hal yang menyertai, Juli menyapaku dengan sejuta rasa kecewa yang hingga kini masih membekas di dalam dada. Ia seolah tak mau mempersilakan hati untuk mengenyam bahagia. Namun, jiwa dan raga terus berusaha agar rasa senang nan bahagia terus bersemi dalam keringnya hati akibat kemarau panjang yang menyerang bumi.
Kata bundaku, perasaan itu ada kala hati masih sama-sama saling terpaut. Perasaan itu ada kala do’a masih seringkali diterbangkan bersama dengan harapan dan cita-cita masa depan. Kata bundaku pula, perasaan itu akan terus terjaga kala raga masih bisa sinergi dalam mewujudkan visi. Namun, jika semua itu sudah lenyap atau bahkan musnah masih adakah rasa yang mendasari untuk menggapai mimpi yang dahulu kita susun bersama?
Dalam rima yang masih tertata, pada angin yang terus menyejukkan hati, dan dari apa yang selalau menghampiri, juni merupakan saksi perjalanan dua hati yang sekarang sedang bersama-sama mencari ketenangan. Tenang dari segala rasa yang menghampiri atau mencoba menepi dari segala peritiwa yang tengah menyapa selama satu tahun lamanya.
Sekali lagi tak ada yang tahu takdir yang disuguhkan Sang Ilahi kepada kita, tak ada yang tahu juga kepastian sesungguhnya dari Sang Pencipta. Manusia bisa berencana dan Allah yang menentukan segalanya. Ikhtiar yang kita lakukan pun tak bisa begitu saja dibalas sesuai yang kita harapkan. Mungkin malah berbalik dari harapan kita. Percayalah, itu semua konsep dan scenario terbaik dari-Nya. Dialah yang Maha segala dari segalanya.
Juli, bulan yang memberikanku banyak sekali pelajaran yang sangat berarti. Bulan yang mampu menjadi saksi bahwa tekad kuat harus terus kita usahakan secara maksimal. Yakinlah bahwa Sang Ilahi akan memberikan kemudahan bagi hambanya yang terus melangkah tanpa lelah, terus bersyukur meski sebenarnya hancur dan terus berlari kencang dalam mewujudkan visi.
Pada semesta yang menjadi saksi perjalananku, kuingin menitipkan pesan pada jiiwa yang kini entah di mana keberadaanya. Pesanku sederhana cukup sederhana dan saya kira ini bisa dipahami setiap insan yang membacanya,
“jagalah kepercayaan, setidaknya jika tidak bisa meningkatkan, maka janganlah merusak. Apalagi memperburuk suasana. Jangan terlampau nyaman dengan keadaan yang tiba-tiba membuatmu lupa dengan segala hal yang seharusnya diperjuangkan. Jangan terlena dengan kenyamanan yang mungkin hanya sekejap saja kau dapat mengenyamnya.
Dalam segala kenang, selalu ada yang bayang yang terkenang. Lengkap dengan romatika dan serta komplikasi warna dari sang penderita rasa di masa terkekang. Lekaslah sembuh, dan segera bangkit dari kenang yang berhasil menggenangmu. Mari, terus melangkah meski kita berbeda arah. Kuharap itu tak akan membuatmu menyerah dan tetap dalam jalan yang terarah. Semoga usaha tanpa lelah mampu menggapai masa depan cerah.”
Rentang waktu dan jarak semakin jelas terlukis di kanvas perjalanan menuju masa depan. Segala impian yang sudah tertata rapi seketika luntur dan roboh. Hancur berkeping-keping yang kemudian terbungkus dalam balutan rasa kecewa dan hati yang terus bertanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Hingga saat ini pun, aku pun tak jua menemukan jawabnya.
Kini, semesta mulai menunjukkan taringnya. Ia tunjukkan jalan yang lain dalam mewujudkan visi dan cita. Tentu, itu semua tak lepas dari usaha dan do’a yang terus kupanjatkan pada-Nya dalam hembusan nafas di setiap detik, dalam pasrah di setiap sujud dan dalam lembaran hari yang terus berganti. Kukembalikan semua kepada-Nya, Dzat Yang Membolak balikkan hati.
Semarang, 28 September 2020







