Sebelum Menghafal Al-Qur’an, Pahami Makna Literal

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pembangun Qur’anic Habits Camp di Monash Institute dan Sekolah Alam Planet NUFO Pilanggowok Mlagen Rembang

Bergelut bersama para penghafal al-Qur’an di Monash Institute Semarang dan beberapa associate membernya di beberapa kota/daerah selama kurang lebih sewindu, mendatangkan pengalaman-pengalaman baru dalam upaya menghafalkan al-Qur’an. Monash Institute mulai beroperasi pada medio 2011 dengan merekrut lulusan SMU berkualitas akademik di atas rata-rata. Pada tahun pertama dan kedua, menghafal al-Qur’an baru sekedar menjadi himbauan, dan diiringi penekanan bahwa hafalan al-Qur’an sangatlah penting sebagai modal dasar bagi cendekia muslim.

Sebab, seorang muslim harus memiliki paradigma yang bersumber jelas dari al-Qur’an dan juga hadits. Dalam setiap kajian tafsir, selalu diberikan contoh kasus yang semuanya bisa diberi solusi dengan al-Qur’an. Beberapa mahasantri, terutama yang sudah mengenal miliu menghafalkan al-Qur’an mengajukan diri dan berkomitmen menghafal.

Karena suasana menghafalkan al-Qur’an sudah makin berkembang, maka pada tahun 2014, menghafalkan al-Qur’an resmi diwajibkan. Namun, kira-kira tahun 2016, mulai terlihat sebagian mereka mengalami kepayahan dalam menghafal, dan menyatakan atau tidak, mereka tak sanggup lagi melanjutkan “perjuangan”. Hafalan tertinggi dalam tiga tahun hanya 23 juz.

Bacaan Lainnya

Bagi mayoritas orang, terutama yang tidak hafal al-Qur’an atau tidak mengamati perilaku para penghafal al-Qur’an, ini bisa dianggap sudah menjadi capaian yang sangat membanggakan.

Namun, kalau dilihat dengan analog bahwa menghafalkan al-Qur’an laksana panjat pinang, yang jika tidak sampai puncak, maka tak akan mungkin terus bertahan dan pasti akan melorot kembali ke bawah, maka capaian ini bisa menimbulkan kekhawatiran. Karena itu, keadaan tersebut jadi tantangan.

Langkah pertama untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah mencari tahu, apa yang menyebabkan capaian pada umumnya penghafal tidak sampai puncak 30 juz dalam waktu 3 tahun?

Ada dua jawaban utama yang muncul, dan keduanya nampaknya berhubungan, yaitu: pertama, sulit hafal dan mudah lupa, dan kedua, makin banyak hafalan, terasa makin banyak beban. Dua hal inilah yang nampaknya menjadi pokok permasalahan bagi sebagian para penghafal dalam masyarakat non-Arab (‘ajam), termasuk dan khususnya Indonesia.

Sulit hafal dan mudah lupa terjadi karena menghafal dilakukan tanpa didahului dengan memahami arti. Sesungguhnya ini adalah masalah umum dalam menghafal. Apa pun yang dihafalkan, jika makna teks yang dihafalkan tidak diketahui maknanya, maka menghafalkannya akan terasa lebih sulit. Tingkat kesulitannya bisa sampai rata-rata tujuh kali lipat.

Itu berarti, menghafalkan teks yang tidak diketahui artinya, berlipat-lipat lebih berat.

Nah, karena tidak diketahui maknanya, maka hafalan itu tidak memiliki cantolan kuat dalam ingatan. Itulah yang menyebabkan hafalan yang sudah diperjuangkan dengan mengerahkan segenap pikiran dan tenaga mudah jatuh dan tercecer.

Tentu saja, keadaan yang demikian akan menyebabkan beban psikologis yang bisa sampai pada taraf sangat berat. Sebab, para penghafal al-Qur’an dituntut untuk segera menyelesaikan hafalan. Namun, kenyataannya mereka mengalami kesulitan menambah hafalan dan mempertahankan yang sudah dihafal itu dalam ingatan.

Ibarat yang bisa digunakan adalah mereka ibarat Sisipus dalam legenda Yunani Kuno yang harus mendorong batu besar ke atas puncak gunung, tetapi belum sampai ke puncak, batu itu menggelundung ke bawah. Dan kejadian demikian terjadi secara berulang-ulang. Jika tidak memiliki daya tahan ekstra, keadaan ini tentu saja bisa menyebabkan keputuas-asaan. Jika putus asa sudah hinggap, maka usaha keras tidak akan lagi dilakukan dan bahkan usaha menghafal al-Qur’an akan ditinggalkan.

Karena itu, sebelum menghafalkan al-Qur’an, tidak cukup bacaan yang bagus sebagai modal. Yang harus dilakukan adalah memahami makna literal teks al-Qur’an agar pikiran memiliki imajinasi tentang apa yang dinyatakan al-Qur’an. Ini juga mendatangkan dua keuntungan. Di samping memudahkan untuk menyambukan satu kata dengan kata yang berikutnya, atau bahkan satu ayat dengan ayat berikutnya, juga membuat penghafal mengetahui hal-hal baru, terutama jika ayat-ayat yang dihafalkan menggunakan gaya bahasa yang lugas dan bukan kiasan.

Pengetahuan baru ini bisa melahirkan motivasi tersendiri, sehingga setiap ayat yang dihafalkan melahirkan energi baru yang melahirkan semangat atau motivasi yang lebih kuat. Sebab, semakin banyak ayat yang dihafalkan, akan semakin banyak pengetahuan yang bisa didapat. Berbeda jika tidak diketahui artinya, ayat-ayat yang dihafal hanya bagaikan mantra yang tidak pernah menunjukkan keampuhannya.

Menghafal al-Qur’an, disebabkan oleh jumlah lembarannya yang tebal, secara umum bisa dikatakan tidak mungkin mengandalkan “ingatan alami”. Karena itulah diperlukan “ingatan buatan” yang memerlukan pengetahuan makna untuk memudahkan.

Untuk bisa mengetahui artinya, tidak ada jalan lain kecuali memulai dengan terlebih dahulu mempelajari bahasa Arab dari yang paling dasar. Bahasa Arab yang dimaksud di sini adalah bahasa Arab yang fushhah, bukan bahasa Arab pasaran. Sebab, bahasa yang digunakan oleh al-Qur’an adalah bahasa Arab dengan kualitas sastra tertinggi. Belajar bahasa Arab ini setelah mulai berjalan, bisa langsung disinergikan dengan menghafal dengan cara mencari contoh-contoh kalimat dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Selain itu, kekuatan logika harus juga terlatih. Sebab, untuk menghubungkan satu ide dengan ide yang lain di dalam ayat-ayat al-Qur’an, diperlukan kecanggihan logika yang bisa lebih membantu daya ingat.

Penggabungan ingatan alami dengan ingatan buatan itulah yang bisa membantu hafalan al-Qur’an menjadi lebih cepat dan lebih lama melekat. Menghafal secara lebih cepat ditambah pemahaman-pemahaman baru yang didapat bisa menyebabkan semangat berlipat-lipat, sehingga capaian hafalan menjadi lebih akseleratif.

Bahkan menghafalkan dalam hanya 10 bulan menjadi sangat mungkin. Hitungannya juga mudah. Al-Qur’an telah dibagi menjadi 30 juz. Setiap juz terdiri atas 20 halaman. Jika setiap hari menghafalkan 2 halaman secara konsisten dan kontinue, maka hanya dalam 10 hari, 1 juz terselesaikan. Dalam sebulan, 3 juz bisa dihafalkan. Jika bisa menghafalkan 3 juz per bulan, maka dalam 10 bulan saja total 30 juz bisa dihafalkan.

Jangan mau ketinggalan! Jika tidak sekarang, kapan lagi? Siapa yang menjamin usia kita panjang? Klick monashinstitute.or.id. Wallaahu al-haadii ilaa shiraathin mustaqiim.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *