Oleh : Dr. AI Hamzani, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal
Pergantian tahun dalam penanggalan Hijriyah telah tiba. Kiranya tidak terlambat untuk menyelami hikmah di balik rutinitas pergantian tahun, di samping sebagai angka-angka untuk menghitung umur yang semakin bertambah.
Patut direnungkan setiap moment pergantian tahun yaitu ibrah yang dapat diambil dari kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah Swt., sehingga dapat menghirup udara segar awal Muharram 1442 Hijriyah. Allah Swt masih memberikan kesempatan untuk melakukan muhasabatu al-nafsi (introspeksi diri) secara total. Berapa manfaat selama menjalani kehidupan selama 1 tahun yang lalu.
Introspeksi diri merupakan kunci utama untuk meningkatkan kapasitas. Dengan introspeksi seseorang dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan pada waktu yang lalu, perbaikan hari ini dan persiapan serta perencanaan waktu yang akan datang. Kelemahan masa lalu dapat ditutupi dengan tetap meningkatkan kualitas pada hari ini dan masa yang akan datang. Hidup pun akan terus dinamis ke arah yang lebih berkualitas. Bahkan dengan introspeksi diri, akan dapat diketahui kapasitas pribadi secara pasti, untuk terus ditingkatkan sebagai bekal dalam menempuh perjalanan yang panjang, yaitu di akhirat nanti.
Introspeksi diri pada hakikatnya merupakan sikap yang sangat penting dalam menjalani kehidupan di dunia. Umar bin Khathab pernah berkata: Hisablah diri kamu sebelum dihisab oleh Allah Swt.”.
Setidaknya ada tiga hal yang perlu dihitung untuk terus meningkatkan hidup agar lebih berkualitas, yaitu: Pertama, bagaimana dalam menyikapi kehidupan dunia ini? Apakah terlalu mencintainya dan dijadikan sebagai tujuan? Ataukah berbagai fasilitas kehidupan diposisikan hanya sebagai sarana kehidupan dan tidak mencintainya melebihi cinta pada Allah dan Rasul-Nya? Rasulullah Saw. mengajarkan kepada manusia bahwa zuhud pada dunia adalah kunci mendapat cinta Allah Swt.
Kedua, dari mana asal usul semua harta yang dimiliki? Apakah harta yang dimiliki benar-benar berasal dari sumber yang halal dan tidak tercampur dengan yang haram seperti riba, menipu, korupsi, dan sebagainya, atau syubhat (belum jelas halal atau haram)? Harta yang haram dan syubhat menyebabkan hati sakit dan bahkan bisa mati serta do’anya tidak dikabulkan oleh Allah Swt. Hidup di dunia pun akan kehilangan berkah, dan di akhirat akan dilemparkan ke dalam neraka. Sebab itu, Allah Swt. dan Rasul-Nya menyuruh manusia agar memakan, meminum dan menggunakan harta dari sumber yang halal dan dari benda dan jenis yang dihalalkan.
Ketiga, kemana membelanjakan dan manfaatkan harta yang dimiliki? Meskipun harta yang dimiliki didapatkan dengan cara yang halal, jenisnya pun halal, bukan berarti bebas membelanjakan dan memanfaatkannya. Agama Islam mengatur sistem belanja, distribusi dan pemanfaatan harta yang dimiliki. Harta tersebut pada hakikatnya titipan Allah Swt. agar menjadi modal investasi akhirat kelak. Allah Swt. memotivasi agar harta yang dimiliki dibelanjakan di jalan-Nya setelah dikeluarkan kewajiban yang ada di dalamnya yaitu dikeluarkan zakatnya.
Dengan demikian, dalam memasuki tahun baru hal yang paling penting dilakukan adalah bermuhasabah atau introspeksi. Makna lain dari bermuhasabah adalah bertaubat yaitu meninjau dan menyadari perbuatan kekeliruan yang pernah dilakukan, kemudian menyesali perbuatan dan tidak mengulang lagi.







