Berjalan menuju tempat keberangkatan. Disakuinya kata-kata. Ditaburkannya. Hingga masing-masing tumbuh menjadi Akasia. Taklagi hanya tinggi, ia berjajar membentuk pagar.
Eyang, membahagiakan benar tak selalu dengan kecupan. Engkau cukup memanggilku hujan, meski hanya rutin kau ucap di bulan Juni.
Sekarang. Hujan reda, tidak kata-kata. Tinggal gigil sebab udara yang dingin. Rasanya bukan. Sebab, ini karena sebuah kepergian.
Sastrawan Indonesia, Sapardi Djoko Damono (SDD), meninggal dunia pada Minggu (19/7/2020) pukul 09.17 WIB. SDD mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Eka Hospital BDS, Tangerang.

Semasa hidupnya, SDD dikenal sebagai seorang sastrawan ulung yang berhasil menelurkan sajak-sajak luarbiasa. Sajak-sajak tersebut beberapa diantaranya berhasil dikumpulkan dalam beberapa buku. Seperti diantaranya : “Hujan Bulan Juni”, “Kolam”, “Arloji”, Perahu Kertas”, “Mata Pisau”, “Lukamu Abadi, dan “Ayat-ayat Api”.
Beberapa sajak ciptaan SDD juga acapkali dijadikan sebagai sebuah pembuka sebuah undangan pernikahan. Tidak jarang pula sajak-sajak SDD juga dijadikan oleh para kaum muda-mudi untuk merayu pasangannya.
Berikut ini merupakan beberapa sajak karya Sapardi Djoko Damono yang paling sering dikutip :
1. Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
2. Sajak Kecil Tentang Cinta
Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintaimu harus menjadi aku
3. Hanya
Hanya suara burung yang kau dengar
Dan tak pernah kaulihat burung itu
Tapi tahu burung itu ada di sana
Hanya desir angin yang kaurasa
Dan tak pernah kaulihat angin itu
Tapi percaya angin itu di sekitarmu
Hanya doaku yang bergetar malam ini
Dan tak pernah kaulihat siapa aku
Tapi yakin aku ada dalam dirimu
4. Yang Fana adalah Waktu
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
Memungut detik demi detik
Merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu. Kita abadi
5. Karena Kata
Karena tak dapat kutemukan
Kata yang paling sepi
Kutelantarkan hati sendiri
Karena tak dapat kuucapkan
Kata paling rindu
Kubiarkan hasrat terbelenggu
Karena tak dapat kuungkapkan
Kata yang paling cinta
Kupasrahkan saja dalam doa
6. Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau tak akan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati
Pada suatu hari nanti Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau tak akan letih-letihnya kucari
7. Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu,
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.
Selamat jalan, Eyang Sapardi. Semoga Tuhan menempatkanmu di sisi-Nya.
Yang fana adalah waktu, sedang karyamu akan tetap abadi.







