Teka Teki Rasa

Selama ini, aku tak pernah mengira bahwa sajak yang sering kau kirimkan itu merupakan ungkapan tulus yang timbul dari hati kecilmu. Begitu rendah tingkat kepekaanku tak bisa membaca perasaanmu lewat sajak dan segala bentuk perilaku sebagai implementasi dari perasaanmu. Bahkan, menganggap itu hanya sebuah gombalan tanpa makna dari seorang penyair yang seringkali mengumbar kata-kata ke banyak perempuan. Itulah alasan kenapa aku tidak mudah terbawa perasaan sebelum kau benar-benar membuktikannya.

Rangkaian kata yang berjajar begitu indah, lengkap dengan puisi yang tertulis rapi dalam kertas maupun blog pribadi. Binar mata yang menunjukkan ketulusan serta keteduhan untuk memberi segala yang kau punya. Lukisan nyata maupun imajinasi selalu menjadi kepuasan tersendiri  bagimu ketika melihat bulan sabit terlukis indah di kedua bibirku. Ya, aku baru berhasil melihat itu ketika rasamu tak dapat lagi kau pendam.

Disitulah aku merasa bersalah karena telah menimbulkan multi tafsir yang begitu rumit bagi dirimu. Terlebih ketika kau tak mampu lagi mencintaiku dalam do’a dan diammu. Aku menerima beban yang teramat berat bagaikan memikul beban 20 kg dengan kondisi yang sudah down. Karena aku adalah orang yang paling paham dengan karakter dan semua masa lalumu. Itulah alasan aku menyetopmu ketika sajak mulai menunjukkan perasaan cintamu kepadaku. Namun, semua itu sudah terlanjur dan aku tak bisa munafik dengan keadaan bahwa aku telah mengetahui segala perasaanmu.

Layaknya ketika aku membaca cerpenmu yang ku kira adalah sebuah “settingan” dan itu ternyata memotivasiku untuk membuat sebuah balasan. Tapi ada satu hal yang aku jadikan pelajaran bahwa ketika kau mengungkapkan sekarang, maka banyak resiko yang akan terjadi. Karena kita sama-sama belum tahu sampai kapan rasa yang dianugrahkan itu akan bertahan. Terlebih saat ini hati yang masih sama-sama dipenuhi dengan kebimbangan. Bahkan sangat mudah untuk berpindah jika Allah telah berkehendak.

Aku menghargai itu, jika kamu yakin, teruslah berusaha untuk agar semua menjadi bermakna. Tapi, jangan lupakan tujuanmu dan kesepakatan kita  bahwa kita harus bersama-sama saling memotivasi guna memperbaiki kualitas diri. Aku merasa bersalah jika kamu sibuk mencinta tapi lupa akan target yang telah ada. Aku akan merasa bersalah juga jika karena cinta kau terlalu mengistimewakanku. Di situlah aku merasa berdosa kepada Sang Pencipta yang telah membukakan pintu agar aku masuk ke dalam kehidupanmu.

Dari situlah aku banyak belajar tentang sebuah posisi. Aku juga banyak belajar tentang seharusnya yang dilakukan terutama manajemen hati. Aku belajar juga bagaimana cara menyikapi rasa yang telah diungkapkan kepada tujuannya. Terutama aku banyak belajar bagaimana cara menyikapi semua hal tentangmu. Termasuk tentang komitmen bahwa kamu akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Sekali lagi, aku tak ingin waktu kita terbuang sia-sia hanya karena cinta yang belum pasti. Mungkin matahari dan bulan sekarang sedang terpisah oleh jarak yang telah jauh terbentang. Tapi, disitulah ada pesan tersirat yang ingin disampaikan, bahwa hidup tak selamanya bersama. Seperti halnya diriku yang ingin selalu menjadi suporter hingga kesuksesan menemuimu. Namun, di sisi lain aku dibenturkan dengan keadaan yang membuatku harus memilih. Sekaligus aku belajar bahwa tak selamanya hidup harus bergantung pada orang lain. Komitmen pada diri sendiri dan Sang Pencipta itulah yang lebih utama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *