*Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Pengajar Ilmu Politik FISIP UMJ Jakarta, Pengasuh Pesantren & Sekolah Alam Nurul Furqon (PLANET NUFO) Rembang Jawa Tengah.
Benar bahwa membaca dan merenungkan al-Qur’an tidak akan pernah bertemu dengan kata bosan. Bahkan, makin dalam perenungan, makin memantik rasa penasaran. Bukan hanya rimanya yang membuat hati serasa dalam buaian, tetapi juga kandungannya yang menggetarkan dan sering membalik pikiran.
Sejak awal diturunkan, al-Qur’an langsung menghentak dengan rima yang menghunjam perasaan. Lima ayat awal yang kini terdapat dalam QS. al-‘Alaq: 1-5 benar-benar tersaji sebagai kalimat-kaliman yang penuh keindahan.
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١
Iqra’ bismi rabbika al-ladzî khalaq
Lantunkanlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! (al-Alaq: 1)
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢
Khalaqa al-insâna min ‘alaq
Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. (al-Alaq: 2)
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣
Iqra’ wa rabbuka al-akram
Lantunkan! Dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, (al-Alaq: 3)
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤
Al-ladzî ‘allama bi al-qalam
Yang mengajar (manusia) dengan pewahyuan. (al-‘Alaq: 4)
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥
‘Allama al-insâna mâ lam ya‘lam
Dia mengajarkan manusia sesuatu yang ia tidak mengetahuinya. (al-‘Alaq: 5)
Rima yang serasi tetapi terbentuk dari jenis kata yang berbeda. Ayat pertama berujung dengan huruf qâf yang terdapat pada kata kerja. Sedang ayat kedua berakhir dengan huruf yang sama, tetapi pada kata benda.
Ayat ketiga berakhir dengan huruf mîm yang terdapat pada kata benda superlatif. Ayat keempat berakhir dengan huruf yang sama yang terdapat pada kata benda bisa. Dan ayat terakhir berakhir huruf yang sama yang terdapat pada kata kerja. Akhir yang seragam, dengan jenis kata yang seragam pun sangat mengagumkan, apalagi berasal dari jenis kata yang beragam.
Perhatikan lagi ayat yang pasti dihafal oleh setiap muslim yang menegakkan tiang agama Islam, al-Fatihah. Anggap saja basmalah adalah bagian dari surat pembuka ini dan ujungnya diulang di ayat ketiga. Yang membuat rima pada surat yang disebut sebagai induk al-kitab sangat menyentuh adalah dua huruf di akhir setiap ayatnya.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١
Bismillâhi al-raḫmâni al-raḫîm
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (al-Fatihah: 1)
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢
Al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam (al-Fatihah: 2)
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ٣
Al-raḫmân ar-raḫîm
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, (al-Fatihah: 3)
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ٤
Mâliki yaumi al-dîn
Pemilik hari Pembalasan. (al-Fatihah: 4)
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ٥
Iyyâka na‘budu wa iyyâka nasta‘în
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (al-Fatihah: 5)
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦
Ihdinâ al-shirâth al-mustaqîm
Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (al-Fatihah: 6)
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ ٧
Shirâth al-ladzîna an‘amta ‘alaihim ghairi al-maghdlûbi ‘alaihim wa lâ al-dlâllîn
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat. (al-Fatihah: 7)
Ayat pertama berakhir yâ’ dan mîm pada kata benda yang menunjukkan makna pelaku (isim fa’il). Ayat kedua diakhiri dengan yâ’ dan nûn yang merupakan pananda kata benda yang bermakna jama’. Keduanya hanyalah sekedar tambahan. Ayat ketiga berakhir dengan huruf yâ’ dan mîm seperti pada basmalahnya. Lalu diikuti ayat keempat yang berakhir dengan huruf yâ’ dan nûn yang keduanya adalah huruf asli dalam kata itu.
Ayat kelima berakhiran huruf yâ’ dan nûn yang merupakan huruf asli kata itu, tetapi berada pada kata kerja. Lebih menarik lagi ayat kelima yang berakhir yâ’ dan mîm yang merupakan huruf asli tetapi huruf yâ’nya sesungguhnya adalah perubahan dari huruf asli waw. Makin menakjubkan. Dan ayat berikutnya diakhiri dengan yâ’ dan nûn untuk kembali menandakan jama’.
Bukti orientasi bahasa sastrawi al-Qur’an makin nampak pada beberapa ayat yang di dalamnya terdapat kata yang dibalik untuk membangun rima yang sesuai dengan ayat-ayat sebelumnya.
Pada tujuh ayat di dalam al-Qur’an, ada nama Nabi Musa yang didahulukan dibandingkan Nabi Harun. Dalam tiga ayat (al-An’am: 84, Yunus: 75, al-Anbiya’: 48) dua nama yang beriringan itu terletak bukan di ujung ayat. Sedangkan dalam empat yang lainnya (al-A’raf: 122, al-Syu’ara’: 48, al-Shâffât: 114 dan 129) kata Harun terletak di ujung ayat dan itu sesuai rimanya dengan ayat-ayat sebelumnya dan/atau sesudahnya.
وَاُلْقِيَ السَّحَرَةُ سٰجِدِيْنَۙ ١٢٠
Wa ulqiya al-saḫaratu sâjidîn
Para penyihir itu tersungkur dalam keadaan sujud. (al-A’raf: 120)
قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ١٢١
Qâlû âmannâ birabbi al-‘âlamîn
Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (al-A’raf: 121)
رَبِّ مُوْسٰى وَهٰرُوْنَ ١٢٢
Rabbi mûsâ wa hârûn
(yaitu) Tuhannya Musa dan Harun.” (al-A’raf: 122)
قَالَ فِرْعَوْنُ اٰمَنْتُمْ بِهٖ قَبْلَ اَنْ اٰذَنَ لَكُمْۚ اِنَّ هٰذَا لَمَكْرٌ مَّكَرْتُمُوْهُ فِى الْمَدِيْنَةِ لِتُخْرِجُوْا مِنْهَآ اَهْلَهَاۚ فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ١٢٣
Qâla fir‘aunu âmantum bihî qabla an âdzana lakum, inna hâdzâ lamakrum makartumûhu fil-madînati litukhrijû min-hâ ahlahâ, fa saufa ta‘lamûn
Fir‘aun berkata: “Mengapa kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya ini benar-benar tipu muslihat yang telah kamu rencanakan di kota ini untuk mengusir penduduknya. Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini). (al-A’raf: 123
Namun, jika ini diterapkan di surat Thâhâ akan membuat rimanya menjadi tidak sesuai. Maka kata Harun diletakkan terlebih dahulu dibandingkan kata Musa. Nampaknya ini adalah satu tema yang mestinya melahirkan perspektif tentang taqdim dan ta’khir dalam kajian Ulum al-Qur’an.
وَاَلْقِ مَا فِيْ يَمِيْنِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوْاۗ اِنَّمَا صَنَعُوْا كَيْدُ سٰحِرٍۗ وَلَا يُفْلِحُ السّٰحِرُ حَيْثُ اَتٰى ٦٩
Wa alqi mâ fî yamînika talqaf mâ shana‘û, innamâ shana‘û kaidu sâḫir, wa lâ yufliḫu al-sâḫiru ḫaitsu atâ
Lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Sesungguhnya apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya penyihir (belaka). Tidak akan menang penyihir itu, dari mana pun ia datang.” (Thâhâ: 69)
فَاُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِرَبِّ هٰرُوْنَ وَمُوْسٰى ٧٠
Fa ulqiya al-saḫaratu sujjadan qâlû âmannâ birabbi Hârûna wa Mûsâ
Lalu, para penyihir itu merunduk sujud seraya berkata, “Kami telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa.” (Thâhâ: 70)
قَالَ اٰمَنْتُمْ لَهٗ قَبْلَ اَنْ اٰذَنَ لَكُمْۗ اِنَّهٗ لَكَبِيْرُكُمُ الَّذِيْ عَلَّمَكُمُ السِّحْرَۚ فَلَاُقَطِّعَنَّ اَيْدِيَكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ مِّنْ خِلَافٍ وَّلَاُصَلِّبَنَّكُمْ فِيْ جُذُوْعِ النَّخْلِۖ وَلَتَعْلَمُنَّ اَيُّنَآ اَشَدُّ عَذَابًا وَّاَبْقٰى ٧١
Qâla âmantum lahû qabla an âdzana lakum, innahû lakabîrukum al-ladzî ‘allamakumu al-siḫr, fa la’uqaththi‘anna aidiyakum wa arjulakum min khilâfin wa la’ushallibannakum fî judzû‘in-nakhli wa lata‘lamunna ayyunâ asyaddu ‘adzâban wa abqâ
Dia (Fir‘aun) berkata: “Apakah kamu beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia itu pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Sungguh, akan kupotong tangan-tangan dan kaki-kakimu secara bersilang dan sungguh, akan aku salib kamu pada pangkal pohon kurma. Sungguh, kamu pasti akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih keras dan lebih kekal siksaannya.” (Thâhâ: 71)
Secara keseluruhan, ayat-ayat al-Qur’an menampilkan keindahan sastra yang luar biasa. Dan lebih dari itu, informasinya menyeluruh. Bukan hanya tentang sesuatu yang bisa dilihat dengan mata telanjang, tetapi juga yang berukuran mikroskopik, bahkan yang ghaib.
Bukan sekedar tentang dunia, tetapi juga tentang akhirat. Seluruh informasi di dalam ayat selaras dengan kenyataan yang ada di alam. Keduanya adalah tanda-tanda yang konvergen karena kecocokan. Nyata, bahwa ini memang firman Tuhan pencipta semesta alam. Wallahu a’lam bi al-shawab.






