Mendengar kata santri tentu sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Santri sering diidentikkan dengan pelajar yang memakai sarung, belajar di pesantren atau terkadang di masjid-masjid dan juga tidak lupa selalu membawa kitab al-Qur‟an serta kitab-kitab gundul di tangannya. Maka, Arifi Saiman dalam bukunya yang berjudul “Diplomasi Santri” mengartikan santri sebagai kaum sarungan yang artinya kaum agamis tradisionalis yang kesehariannya tidak jauh dari masjid, pesantren, dan kitab kuning. Sedangkan menurut Nurhhalis Madjid dalam bukunya yang berjudul “Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan,” santri merupakan kosa kata yang berasal dari bahasa Jawa yaitu “Cantrik‟. Kata “Cantrik‟ berarti orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya. Santri merupakan seorang yang sangat loyal kepada kyai atau gurunya, bahkan mereka mempunyai slogan sami’na wa atha’na terhadap perintah gurunya.
Pada masa penjajahan santri ikut berkontribusi dalam memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Para santri ikut terjun ke lapangan untuk melawan para kaum penjajah yang begitu sadis dan tidak berprikemanusiaan. Salah satu kontribusi heroik santri terjadi pada peristiwa pertempuran di kota Surabaya tahun 1945 melawan para penjajah. Tentunya semangat para santri ikut berkontribusi dalam kemerdekaan Indonesia tidak lain kerena resolusi jihad yang digaungkan oleh K.H. Hasyim Asy‟ari pada 22 Oktober 1945. Pada saat itu K.H. Hasyim Asy‟ari memberikan fatwa bahwa cinta tanah air adalah bagian dari tanda keimanan seseorang (Hubbul Wathan minal Iman). Nah, fatwa resolusi jihad yang dikeluarkan K.H. Hasyim Asy‟ari inilah menjadi cikal bakal peringatan hari santri di Indonesia tepatnya pada setiap tanggal 22 Oktober.
Maka refleksi yang bisa kita ambil pada setiap peringatan Hari Santri Nasional (HSN), yakni bagaimana semangat juang para santri di masa penjajahan dahulu dengan ikut terjun ke lapangan mengusir para penjajah masih bisa kita lanjutkan dengan berbagai macam kontribusi yang bermanfaat bagi negara. Mengingat jumlah santri di Indonesia begitu banyak yakni mencapai 3,65 juta menurut data dari Kemenag. Dan dari jumlah yang banyak ini, setiap santri memberikan kontribusi nyata dalam aspek ekonomi dan ilmu pengetahuan terhadap bangsa dan negara serta agama, maka sungguh para santri di Indonesia memiliki peluang yang besar dalam menyongsong bangsa Indonesia menjadi negara yang maju.
Namun yang menjadi problem di kalangan santri di zaman sekarang adalah beradapatasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat. Jika santri tidak bisa mengikuti perkembangan zaman ini, maka tentunya jumlah santri yang begitu banyak tersebut tidak lain hanya menjadi generasi yang tidak berdaya dan bahkan bisa saja menjadi beban negara Indonesia. Nah, pertanyaannya bagaimana cara seorang santri beradaptasi dengan perkembangan zaman ini. Caranya santri mesti mempunyai tiga kemandirian, yakni mandiri secara intelektual, finansial dan spiritual.
Pertama, seorang santri yang bisa berperan dalam bangsa dan negara serta agama, tentunya harus bisa mandiri secara intelektual. Mandiri secara intelektual dengan arti bahwa santri itu menguasai berbagai macam disiplin keilmuan baik ilmu agama ataupun ilmu umum. Ketika seorang santri sudah mandiri secara intelektual, maka cara beragamanya juga tidak hanya sekedar ikut-ikutan kyainya. Karena tidak dapat dipungkiri terkadang kyai-kyai di pesantren dalam menyampaikan doktrin-doktrinnya tidak terlepas dari kesalahan. Maka santri di zaman sekarang mesti kritis terhadap doktrin yang disampaikan kyainya tersebut. Dengan demikian slogan yang dahulu berupa sami’na wa atha’na menjadi bertambah yakni sami’na wa ‘arofna wa atha’na (Kami dengar lalu kami tahu dengan verifikasi dan validasi dan kami kerjakan). Sehingga nantinya santri menjadi seorang yang beragama berdasarkan dalil dan data.
Selanjutnya yang kedua, santri mesti bisa mandiri secara finansial dengan arti dia mesti mempunyai kemampuan dalam hal memenuhi kebutuhan sehari-harinya secara cukup bukan hanya sekedar dicukup-cukupkan. Artinya seorang santri mesti benar-benar bisa memenuhi kebutuhan yang layak bagi kemanusiaan, misalnya dalam hal makanan harus memenuhi gizi yang cukup dan tempat tinggal dengan lingkungan yang bersih. Ketika sudah mandiri secara finansial, maka setiap hal yang disampaikan seorang santri akan mudah diterima banyak orang karena sudah bisa memenuhi kehidupan sendiri tanpa tergantung terhadap orang lain.
Ketiga atau yang terakhir adalah mandiri secara spiritual, tentunya mandiri secara spiritual ini merupakan yang paling mudah dilakukan seorang santri. Kerena mengingat santri sangat identik dengan orang yang belajar ilmu agama di pesantren. Namun meskipun demikian tidak semua santri bisa melaksanakan ketaatan secara istiqamah kepada Sang Khaliq. Maka cara agar keistiqamahan bisa dilakukan seorang santri adalah dengan melakukan latihan dan menyadari akan tujuan dia diciptakan. Dengan demikian santri bisa mandiri secara spiritual ataupun bisa merasakan manisnya ketika melaksanakan ibadah kepada Sang Khaliq.
Dengan memiliki tiga kemandirian tersebut, maka seorang santri akan bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman yang semakin pesat. Ketika sudah bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman ini, maka santri bisa memberikan kontribusi nyata untuk memajukan bangsa Indonesia dalam hal ekonomi dan ilmu pengetahuan. Tentunya hal ini tidaklah mudah dicapai, akan tetapi dengan semangat juang yang tinggi dan kesadaran kolektif dikalangan para santri Indonesia akan tiga kemandirian tersebut. Maka peluang santri sangat besar dalam berkontribusi akan kemajuan bangsa Indonesia. Sehingga refleksi pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yakni melanjutkan semangat juang santri pada masa penjajahan masih bisa tercapai dengan cara memiliki tiga kemandirian tersebut.
Oleh: Hendra Siregar
Mahasantri Angkatan 2023 Monasmuda Institute Semarang, Juara 1 Lomba Menulis Artikel Opini Hari Santri PW GPII Jawa Tengah.





