“Dipaksa Sehat di Negeri yang Sakit“, katanya. Sebuah slogan sederhana yang akhir-akhir ini sudah tidak asing di telinga dan di pelupuk mata. Slogan sederhana tersebut bukanlah deretan kata yang lahir karena iseng belaka, atau rangkaian frasa yang disusun tanpa makna. Dipaksa sehat di negeri yang sakit setidaknya lahir dari sebuah perlawanan akan sebuah penindasan.
Tak cuma satu atau dua penyakit belaka yang didiaknosa menjangkiti negeri ini, tapi sudah seperti sebuah penyakit kronis nan komplikasi. Darurat. “Habis jatuh tertimpa tangga pula”, demikian kata Bu Nurul, salah seorang guru SD di pelosok negeri. Disaat negeri ini masih merangkak bangkit dari pandemi, harus kembali dihadapkan dengan anak tangga yang curam dan licin. Mahalnya harga minyak goreng, kenaikan harga BBM, wacana presiden tiga periode, dan penundaan pemilu, seakan menjadi momok menakutkan bagi Ibu Pertiwi.
Apa kabar Mahasiswa? Selamat pagi. Sudah baca berita hari ini?
Atau masih sibukkah kalian dengan dunia Akademik?
Masih ingin lanjut pacaran dengan perempuan yang membuat kalian stagnan?
Atau suguhan petualangan di Game Online sudah membuat kalian merasa menjadi pahlawan?
Kawan, masihkah telinga kalian dungu dengan jeritan rakyat yang tiap hari menangis karena kelaparan?
Atau mata kalian sudah dibutakan dengan megahnya gedung-gedung bertingkat? Padahal di belakangnya terdapat gubuk reot seorang Janda lumpuh yang hanya bias mengharap uluran tangan tetangga.
Atau barangkali hidung-hidung “pinokio” kalian sudah terlalu bersahabat dengan karbondioksida
Kawan, bangunlah. Sadarlah. Ibu Pertiwi memanggilmu.
Kawan, sedikit kuceritakan kepadamu tentang kegigihan pendahulumu. Dan coba renungilah!!!
Kawan, inilah momen-momen kita…
1928…
1945…
1966…
1998…
Angka-angka itu bukan deret kosong. Angka itu adalah saksi sejarah. Bahwa kita pernah mengukirnya. Ada banyak lagi momentum untuk kita taklukkan. Entah kapan lagi. Entah tahun berapa lagi. Atau, benamkan ini dalam sanubarimu; mari kita ciptakan momentum itu!
Mari berhenti sejenak, lalu menoleh sekitar. Betapa bangsa ini lemah dalam nestapa. Berlapis penderitaan. Berkuadrat kemelaratan. Persis seperti kata Rendra, “Kita telah dikuasai satu mimpi untuk menjadi orang lain. Kita telah menjadi asing di tanah leluhur sendiri”.
Kita harus berkata jujur pada nurani. Kita merindukan pemimpin yang menjadi sebenar-benarnya pemimpin. Bukan tukang revisi janji, sebab rakyat bukan dosen penguji.
Tidakkah kau tanyakan pada saudaramu? Berapa sisa hutan yang ada? Berapa harga miyak goreng? Berapa harga BBM? Berapa harga cabai? Uang kuliahmu sekarang berapa? Untuk apa amandemen UUD 45? Perlukah RUU KUHP? Berapa iuran BPJS? Berapa tagihan listrik?
Tidakkah kau sadari, betapa rezim jagung ini begitu melukai hati? Tidakkah kau renungi, betapa rezim bonsai ini begitu menciderai rasa keadilan? Sedang kata orang nun jauh disana, “Negeri ini begitu kaya. Negeri ini begitu ramah”. Sungguh mimpi di atas ironi.
Tak ada lagikah pemuda-pemuda berani pada malam sebelum proklamasi? Atau tak ada lagikah ibu yang merelakan anaknya untuk berjuang? Seperti dalam syair, “Bunda relakan darah juang kami. Untuk membebaskan rakyat..” Atau, sebegitu pengecutkah kita di hadapan kebatilan?
Di tengah kegundahan ini, aku merindukanmu. Mengingatkanku pada tekad kita, pada momen kita. Kita dipanggil oleh zaman. Kita dibisiki oleh ilham. Kita melaksanakan takdir kita sebagai arus perubahan”.
Ada apa denganmu? Apakah arti dari deretan angka itu? Atau, betulkah, seperti kata Sayyid Quthub, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?”. Kemana saja kau pergi? Cukupkanlah istirahatmu.
Gedung-gedung mewah itu menanti diteriaki, bukan hunian para tikus berdasi…
Aspal panas itu rindu untuk kita shalati, bukan ditumpahi bahan bakar yang melukai…
Panji-panji itu ingin dikibarkan kembali, bukan dibiarkan usang tak berarti…
Kembalilah ke jalan. Bawalah kesadaran.
Bangkitlah. Bukalah mata hati yang membuta.
Turunlah. Leburkan nurani yang membatu.
Kenakan kembali almamater perangmu.
Agar terbukti, bahwa yang benar itu selamanya benar. Dan yang batil, itu menyerah pada kebenaran.
Agar yang putih itu tetap putih. Dan yang hitam, kembali memutih.
Jadilah pahlawan sejarah. Menyejarahlah bersama tinta peradaban. Atau jika kau sudah jemu, biarlah kepada diriku saja aku berkata: “Jadilah Pahlawan itu.”
Allahu a’lam.







