Belajar dari Perjalanan Pemikiran Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Rembang
Dr. Mohammad Nasih termasuk salah satu orang yang terlibat pada awal gerakan Jaringan Islam Liberal (JIL). Waktu itu, ia masih kuliah S1 Jurusan Tafsir Hadits IAIN (sekarang UIN) Walisongo Semarang. Setelah mengikuti sebuah workshop di Freedom Institute milik Rizal Mallarangeng di Menteng, Jakarta Pusat pada tahun 2001, Nasih menjadi pegiat Islam Liberal (Islib) dengan menulis gagasan-gagasan liberal Islam. Saat itu, tulisan-tulisannya seputar Islib dimuat koran Suara Merdeka, Wawasan, juga media lain. Namun, pada tahun 2006, pada tahun pertama kuliah S3 Ilmu Politik UI, Nasih menyadari bahwa gagasan-gagasan Islib mengandung banyak sekali kelemahan. Nasih melihat kelemahan itu justru karena membaca buku-buku yang ditulis oleh para ilmuan Barat. Di antara yang membuatnya tersengat adalah buku-buku yang ditulis oleh Sammuel P. Huntington. Nasih makin mantap untuk murtad dari Islib, dan bahkan kemudian membangun pesantren dan rumah perkaderan di Semarang, Jakarta, dan juga kemudian menyusul di Rembang bernama Planet NUFO, untuk memberikan “imunisasi” kepada para pemuda mahasiswa, juga mereka yang masih belia, agar tidak terjerumus menjadi liberal seperti dirinya.
Bagaimana detail perjalanan pemikirannya? Baladena.id melakukan wawancara mendalam langsung dengan pelakunya, yang kini akrab disapa dengan Abah Nasih atau Abana oleh para santri dan mahasantrinya.
Baladena: “Bagaimana ceritanya, Abah Nasih bisa menjadi liberal. Padahal kan Abah Nasih lulusan pesantren, bahkan hafal al-Qur’an dan mengerti artinya?”
Abana: “Ini pertanyaan yang bagus dan langsung ke jantung persoalan tanpa basa-basi. Saya mulai kenapa saya bisa menjadi salah satu penggerak Islib saat itu. Mulai tahun 2001. Sebab, gagasan-gagasannya memang sesuai dengan suasana pergolakan pemikiran saya saat itu. Jadi, setahun dua tahun sebelumnya, saya sebenarnya sudah masuk dalam kategori liberal. Kalau dibuat fase, ketika masih di rumah saya berIslam karena warisan, kemudian berIslam secara doktriner sampai sekolah menengah dan mondok sampai 1997, lalu masuk kuliah di di Jurusan Fisikan IKIP Negeri (sekarang Unnes) Semarang masih membawa doktrin-doktri dari rumah dan pesantren. Sebenarnya, waktu SD saya sudah pernah mempersoalkan kenapa saya harus menganut Islam dan berdoa dalam Bahasa Arab, lalu menyebut Allah, bukan Tuhan saja. Namun, itu kemudian hilang karena kalah oleh gelontoran doktri setiap hari di rumah dan juga madrasah, kemudian di pondok. Setelah masuk HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) di Unnes saya menemukan komunitas baru, para aktivis yang terbiasa dengan berpikir bebas. Apalagi setelah saya masuk juga di Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo pada tahun berikutnya. Singkatnya, saya menjadi liberal itu oleh aktivitas diskusi intensif dengan para senior HMI Cabang Semarang, terutama yang berasal dari kampus bukan Islam, tetapi memiliki ketertarikan yang kuat kepada pemikiran di bidang keIslaman. Sebab, kajian di HMI memang bisa dikatakan fokus kepada dua aspek, yaitu: keIndonesiaan atau kebangsaan dan keIslaman. Saat itu, saya berdebat keras dengan salah seorang senior dari Fakultas MIPA Undip yang pikirannya sudah sangat liberal. Sepertinya dia banyak terpengaruh oleh cara berpikir Ahmad Wahib. Dia juga baca buku-buku Fazlur Rahman, gurunya Cak Nur. Saat itu, setiap kali berdiskusi, saya mentok kepada doktrin dalam Islam, dan selalu dibilang bahwa itu kan perspektif Islam. Sementara agama lain juga memiliki perspektif sendiri. Jadi, pernyataan bahwa hanya Islam yang benar, itu hanyalah klaim sepihak. Sementara pada saat itu, saya belum menemukan yang kemudian saya tulis dalam “Beriman Secara Rasional”. Karena itulah, saya harus fair dan harus mengkritisi seluruh paradigam Islam lalu menanggalkan pemahaman saya yang tidak rasional. Saat itu saya masuk dalam pandangan bahwa itu adalah prasyarat untuk berdiskusi secara fair.
Baladena: “Dalam keadaan itu, apakah Abah Nasih tetap membaca dan mempertahankan hafalan al-Qur’an?”
Abana: “Wah, ini pertanyaan yang bagus juga. Pada saat workshop di Freedom Institute itu, seorang teman Islib memang “meledek” saya. Ngapain al-Qur’an masih kau hafal-hafalin? Kan sekarang era teknologi. Kalau mau cari ayat, tinggal klik saja beres. Saya tidak layani pernyataan teman saya yang kalau saya sebut, anda pasti langsung tahu. Dia cukup terkenal sekarang. Saya tetap berusaha mempertahankan hafalan al-Qur’an saya, karena dua hal. Pertama, saya menganggap bahwa bagaimana pun, al-Qur’an adalah sumber paradigma yang dianut oleh lebih dari semilyar orang di bumi ini. Jadi, kalau saya memahami apa yang ada di dalamnya, walaupun sering melakukan gugatan pemikiran, atau bahkan saya tidak mempercayainya, tetapi saya jadi tahu konteksnya dengan baik. Kedua, ibu saya tahu bahwa saya jadi liberal, dan beliau khawatir saya mengabaikan hafalan al-Qur’an. Padahal ibu saya yang bersusah payah mengajari saya membaca al-Qur’an sejak kecil dan memotivasi saya juga menghafalkan al-Qur’an. Karena itu, ibu saya mewajibkan saya sima’an 30 juz “sekali duduk” setahun sekali saat haul bapak saya. Oh ya, bapak saya meninggal saat saya kelas 1 sekolah menengah. Kalau saat haul saya tidak bisa disimak dengan lancar, saya bisa dimarahi habis-habisan oleh ibu saya. Karena ibu saya hafal al-Qur’an, dan simaannya pakai pengeras suara, maka ibu saya akan dengan mudah menilai hafalan saya beres atau tidak. Dari pada saya mendapatkan masalah dari ibu saya, lebih baik saya tetap hafal al-Qur’an dengan lancar. Toh itu tadi, di dalam al-Qur’an ada saja sesuatu yang baru bisa saya pahami setelah berulang-ulang membaca dan merenungkannya. Jadi tidak ada ruginya juga hafal al-Qur’an. Bahkan tetap banyak untungnya. Hahaha.
Baladena: “Bagaimana sih rasanya jadi muslib alias muslim liberal?”
Abana: “Rasanya saat itu tentu saja lebih puas saja. Sebab, segala yang menjadi pokok permasalahan harus didiskusikan sampai seakar-akarnya, secara filosofis dan juga historis. Dan titik tekannya sesungguhnya adalah mempertemukan doktrin Islam dengan kemodernan, yang sebenarnya adalah paradigma Barat. Jadi, Islib ini ingin menunjukkan bahwa Islam itu tidak bertentangan dengan kemodernan. Karena kerangkanya harus Islam, maka gagasan-gagasan Barat itu dicarikan legitimasinya dari dalil-dalil al-Qur’an dan hadits. Sebenarnya kan itu saja inti Islib itu. Makanya, Islib ini jadi merasa modern. Walaupun dalam prakteknya, banyak yang lebih dari itu sampai menjadi ateis, atau minimal agnostik. Dan kalau melihat orang beragama secara doktriner itu jadi merasa ada yang aneh saja. Hahaha. Tapi saya punya pengalaman lucu. Sebenarnya ini rahasia. Tapi, nggak apa-apalah saya ceritakan. Lumayan untuk hiburan. Kejadiannya ini saya sudah di Jakarta, kuliah di UI. Suatu ketika, saya pulang sudah larut malam. Saya naik kereta terakhir dari Stasiun Cikini ke Stasiun UI Depok. Saya tinggal di asrama UI Depok. Waktu itu belum ada gojek dan grab seperti sekarang. Kalau di atas pukul 21.00, tukang ojek di stasiun sudah pada pulang. Terpaksalah jalan kaki dari stasiun ke asrama UI Depok itu. Di antara stasiun dan asrama, kan ada kuburan. Sebelah kanan jalan kalau dari arah stasiun ke asrama. Nah, pada saat saya berjalan dekat kuburan itu, tiba-tiba lampu penerangan jalan yang di tengah itu mati. Saya kaget. Dan secara refkek saya lari. Mungkin, alam bawah sadar saya masih lekat dengan pandangan umum tentang hantu di kuburan. Hahaha. Baru beberapa langkah berlari, pikiran saya memberontak. Tuhan saja dipertanyakan, kok masih takut sama hantu. Akhirnya, saya memaksakan diri untuk tidak lagi berlari. Walaupun itu ya sekali lagi memaksakan diri. Saya harus konsisten dengan pikiran liberal saya. Hahaha. Inilah kejadian paling lucu yang saya alami saat saya menjadi orang liberal.
Baladena: “Lalu bagaimana ceritanya kemudian paradigma liberal itu bisa runtuh dari pikiran Abah Nasih?”
Abana: “Awalnya belum benar-benar runtuh. Hanya mulai menyadari bahwa gagasan-gagasan Islib mengandung kelemahan. Kesadaran itu saya temukan pertama kali saat saya membaca buku Sammuel P. Huntington. Antara “The Third Wave” dan “Political Order”. Dia menyampaikan bahwa yang disebut sebagai negara demokratis adalah negara yang di dalamnya terdapat partai-partai politik yang menjadi kontestan Pemilu yang diselenggarakan secara periodik dan berkala. Ini yang membuat saya terhenyak.
Baladena: “Apanya yang membuat terhenyak?”
Abana: “Karena saya master ilmu politik, dan saat itu, setelah lulus S2 langsung ambil S3 ilmu politik lagi, saya kan belajar pemikiran politik Barat. Nah, dari situ saya tahu bahwa demokrasi pada awalnya tidak mengharuskan partai politik. Di Yunani Kuno, demokrasi diselenggarakan secara langsung, tanpa partai politik, dan oleh para filsuf masih dianggap sebagai sistem politik yang buruk. Bahkan dianggap sebagai sistem politik yang bisa melahirkan politisi medioker. Goblok banget tidak, tapi juga tidak cerdas. Bahkan ada yang ekstrem mengkritik bahwa demokrasi akan melahirkan para badut jadi penyelenggara negara. Di Indonesia ada DPD (Dewan Perwakilan Daerah) yang para anggotanya merasa dipilih secara lebih demokratis dibandingkan DPR, karena mereka dipilih secara langsung tanpa perantara partai politik. Jika demikian ini, maka teori menjadi sangat bias Barat. Itu pikiran saya saat itu. Saya merasa bahwa kaum intelektual kita di kampus-kampus ini hanya menjadi penyambung lidah para ilmuan Barat.
Baladena: “Lalau yang membuat jadi lebih mantap untuk murtad apa?”
Baladena: “Sekali lagi, sebenarnya belum mantap untuk murtad dari liberal. Saya baru membandingkan lagi. Saya menbaca buku-buku Karl Marx yang dianggap memiliki pemikiran revolusioner. Namun, oleh Michael Heart, ternyata masih kalah jauh oleh Nabi Muhammad saw.. Dan secara objektif, memang tidak ada apa-apanya. Nabi Muhammad, yang tentu saja saya anggap sebagai manusia biasa, mampu melakukan banyak perubahan luar biasa. Mengubah kaum pagan yang politeis menjadi monoteis. Mengubah budaya yang tidak menghargai perempuan, menjadi menghargai perempuan. Bahkan bisa dikatakan membalikkannya. Bayangkan, perempuan yang sebelum Islam diwariskan, setelah Islam datang bahkan mendapatkan warisan. Dan masih banyak contoh lainnya. Sedangkan pemikiran-pemikiran Karl Marx banyak yang sekedar utopia saja. Karena itu, dengan pandangan objektif, Nabi Muhammad ini lebih layak untuk diikuti. Nah, karena sudah mengikuti Nabi Muhammad, tentu saja saya harus membangun argumentasi rasionalnya dengan segala doktrin Islam yang disampaikannya. Masa’ pendidikan doctor, tapi mengikuti seseorang, memeluk agama kok tidak rasional. Begitulah kira-kira.
Baladena: “Ini ya yang membuat makin mantap?”
Abana: “Iya. Tapi belum benar-benar mantap juga. Sebab, saya masih ingat sekali. Menjelang menikah awal tahun 2009, saya masih bilang kepada calon istri saya, jangan sampai dia kaget kalau sewaktu-waktu nanti saya jadi liberal lagi atau bahkan jika menjadi ateis. Sebab, saya ini kan tidak bisa dikekang-kekang. Hahaha”.
Baladena: “Jadi apa yang membuat makin mantap?”
Abana: “Setelah menemukan argumen-argumen bahwa al-Qur’an memang mu’jizat, saya kemudian menulisnya dalam sebuah artikel “Beriman Secara Rasional”, juga sudah saya naikkan di channel youtube saya. Intinya, dengan akal kita, kita bisa menangkap kebenaran al-Qur’an sebagai wahyu Allah, bukan buatan Muhammad sebagaimana selalu dikatakan oleh para orientalis Barat. Tak mungkin Muhammad yang manusia biasa itu mampu membuat al-Qur’an yang secanggih itu. Hanya karena beliau diangkat sebagai Nabi, maka al-Qur’an yang canggih itu turun (baca: masuk) ke dalam hatinya, dan kemudian dibacakan kepada para sahabatnya. I’jaz al-Qur’an ini bisa ditangkap dari ketinggian bahasa sastranya yang tak tertandingi sampai hari, semua prediksi masa depannya benar, informasi saintifiknya kini makin banyak terbukti, dan jika mau ditambahkan lagi, satu lagi, yaitu: al-Qur’an bisa dihafalkan di luar kepala oleh banyak orang, bahkan anak kecil sekalipun. Tapi yang terakhir ini bisa diperdebatkan. Tapi tiga yang pertama jelas sekali faktanya. Nah, inilah yang membuat saya benar-benar mantap, dan kemudian bertekad agar jangan sampai anak-anak muda yang memiliki kritisisme kuat, justru tersesat seperti saya. Atau kalaupun tersesat ya jangan lama-lama. Paling lama ya seminggu saja, lalu kembali lagi kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad yang mulia. Bersama beberapa yunior yang saya minta bantu mengajar, awalnya saya mendirikan Rumah Perkaderan Monash Institute di Ngaliyan Semarang (2011), lalu bersaman Pak Fatwa bikin pondok Putra Fatahillah bersamaan dengan mendirikan STEBANK Islam Sjafruddin Prawiranegara (2012), dan kemudian mendirikan Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO Rembang (2019). Dan alhamdulillah, keberadaan para santri ini, membuat saya mengkaji al-Qur’an dan hadits Nabi, juga khazanah intelektual Islam, setiap hari, tanpa libur. Sebab, di Rumah Perkaderan Monash Institute terutama, tidak ada libur. Kecuali 10 hari pada hari raya Idul Fithri.
Baladena: “Jadi, setelah itu sudah tidak ada liberal-liberalnya sama sekali ya?”
Abana: “Ya, sudah berbalik 180 derajat. Bahkan bisa disebut sebagai fundamentalis dan radikal. Tapi tidak dalam definisi Barat yang salah kaprah itu. Fundamentalis dalam arti bahwa saya ber-Islam dengan menggunakan fundamen. Fundamen atau fondasinya adalah al-Qur’an dan hadits. Turut al-Qur’an dan hadits, karena keduanya adalah jalan keselamatan. Ya pokoknya berusaha sekuat tenaga, walaupun masih jauh. Radikal dalam arti berpikir seakar-akarnya. Sebab, di dalam Islam, akal merupakan sarana untuk menangkap kebenaran. Nah, inilah yang sering saya koreksi, bahwa orang sering membandingkan antara akal dengan wahyu tinggi mana. Keduanya bukan untuk dibandingkan. Sebab, akal adalah sarana untuk memastikan mana kitab suci yang benar dan mana yang palsu atau sudah dipalsukan. Yang benar adalah yang seluruh ungkapannya benar. Dan yang salah adalah yang ungkapan-ungkapan di dalamnya terdapat kekeliruan alias tidak sesuai dengan fakta. Dengan berpikir dan melakukan riset, saya menemukan empat argumen di atas itu. Itu artinya saya radikal. Dengan radikal ini, maka kita bisa menjadi rasional. Rasionalitas yang mengantarkan kepada iman, akan membuat kita menjadi manusia yang hanya pasrah kepada satu kebenaran hakiki, Allah Swt. yang perintah-perintahNya ada di dalam kitab suci dan juga disampaikan oleh Nabi Muhammad saw.. Pasrah dan tunduk-patuh itulah Islam. Karena tunduk dan patuh itu, sudah tidak ada ruang lagi untuk bersikap liberal. (AHA)






