Covid-19 dan Perubahan Kebiasaan Anak

Efek pandemi Covid-19 sangat luas. Anak-anak tidak lagi bisa bermain dan menjalani aktivitas pendidikan, juga pembangunan kebiasaan (habit) sebagaimana sebelumnya. Ini juga terjadi pada anak-anak saya yang walaupun di rumah segala kebutuhan hidup tercukupi. Bukan hanya sekedar kebutuhan fisik, tetapi kebutuhan yang non fisik, karena semua fasilitas sarana dan prasarananya bias dikatakan tersedia. Batasan-batasan yang harus dilakukan sebagai akibat pandemi yang secara saintifik bisa menyebabkan bahaya itulah yang menjadi penyebabnya.

Saya termasuk di antara pelaku pendidikan sejak dalam kandungan. Sejak usia kandungan empat bulan, terlebih lagi sejak istri saya merasakan gerakan di dalam kandungannya, saat di rumah dan datang waktu shalat, saya mengingatkan kepada anak-anak saya bahwa waktu shalat sudah datang. Saya biasanya berbicara di dekat perut istri saya, sampai janin di dalamnya bergerak. Saya sudah mempersiapkan nama jauh-jauh hari sebelum kelahiran anak. Bahkan sejak awal menikah, saya sudah merencanakan nama anak-anak kami. Saya memang mendapatkan inspirasi untuk membuat nama-nama yang unik, tapi mirip, di antaranya yang sekarang telah menjadi nama anak-anak saya: Atana Hokma Denena (Semoga Allah memberikan kepada kami panduan agama kami), Atena Hekmata Mellatena (Ya Allah, mohon Engkau berikan kepada kami hikmah agama kami), Atana Molka Baladena (Semoga Allah memberikan kepada kita kekuasaan negara kita), Atana Dawla Boldanena (Semoga Allah memberikan kepada kita kedaulatan negara kita). Untuk nama terakhir ini, sebenarnya awalnya saya berharap perempuan yang akan saya beri nama Atena Melka Baldatena dengan arti yang mirip dengan nama anak ketiga, hanya saja untuk perempuan. Karena itulah, sejak dalam kandungan, saya sudah terbiasa memanggil nama mereka.

Setelah mereka lahir, keempat anak saya, Hokma, Hekma, Molka, dan Dawla, saya beri perlakuan secara berbeda. Dua yang pertama, Hokma dan Hekma tidak saya bacakan al-Qur’an menjelang tidur. Waktu itu, saya punya asumsi bahwa jangan-jangan bacaan al-Qur’an akan membuat mereka merasa ditidurkan. Dengan begitu, akan menjadi asumsi dalam benak mereka, kalau sedang dibacakan al-Qur’an, mereka mesti segera tidur. Sebaliknya, anak ketiga dan keempat, saya bacakan al-Qur’an menjelang tidur. Dan memang, terutama Molka, cepat tidur kalau dininabobokkan dengan bacaan al-Qur’an. Tidak sampai tiga halaman, pasti dia sudah terlelap dalam dan bisa diletakkan di tempat tidurnya, tanpa bergerak sama sekali. Karena mereka masih sangat belia, saya belum bisa memberikan hasil dari pemberian perlakuan yang berbeda itu.

Perlakuan yang sama kepada semua adalah setelah bisa duduk, pada usia kira-kira tujuh bulan, mereka saya ajak untuk shalat berjamaah di Rumah Perkaderan Monash Institute, termasuk shalat shubuh. Bahkan karena kebiasaan itu, Dawla yang belum sampai berusia dua tahun selalu mengatakan “udu” (baca: wudlu) setiap terdengar seruan adzan dari masjid yang tak jauh dari rumah kami. Dan setiap kali kepala saya terlihat basah, dan setelah itu memakai baju lebih rapi dan peci, mereka akan langsung mengatakan “ikut” dan jika tidak diajak pasti akan menangis. Di Monash Institute, mereka berinteraksi dengan para santri mahasiswa dan melakukan aktivitas layaknya anak-anak. Namun, dalam kebersamaan ini, mereka mulai melihat, mendengar, lalu menirukan apa saja yang ada di sekeliling mereka. Setiap saya menyelesaikan bacaan al-Fatihah dalam shalat jahr (mengeraskan suara: maghrib, isya’, dan shubh), mereka ikut mengucapkan “aamiin”. Hampir bersamaan dengan itu, ketika mereka melihat saya dan para makmum ruku’ dan sujud, mereka juga menirukannya. Dari sini, saya menyadari bahwa kebiasaan orang tua dan lingkungan akan menjadi ilmu bagi anak-anak belia, lalu mereka akan mengikutinya yang dalam taraf tertentu akan menjadi kebiasaan juga.

Namun, semua keindahan itu tiba-tiba harus terhenti karena Covid-19 untuk memproteksi mereka dari penyebaran virus. Apalagi ibu mereka, dan adik-adik ipar saya adalah dokter, dan ibu mertua saya juga hidup bersama dengan almarhum bapak mertua saya yang juga dokter selama puluhan tahun. Karena itulah, mereka memiliki kekhawatiran yang lebih. Alasan mereka melarang saya mengajak anak-anak ke pesantren yang lebih sering kami sebut Rumah Perkaderan Monash Institute adalah karena anak-anak tidak mungkin menjalankan prokes.

Selama dua tahun, anak-anak menjalankan semua aktivitas di rumah. Perubahan keadaan ini ternyata menyebabkan sedikit perubahan pada mereka. Mereka sudah terbiasa mendengar adzan, tetapi tidak disertai dengan ajakan saya untuk berangkat shalat berjama’ah. Bahkan saya membuat cara agar mereka tidak tahu saya keluar rumah. Anak-anak dengan jumlah banyak di rumah, tentu saja kadang-kadang menyebabkan dinamika. Kadang terjadi konflik di antara mereka. Berdiam di rumah dalam waktu yang lama, seringkali juga menyebabkan kejenuhan. Jika tidak disikapi dengan tepat, bisa-bisa anak-anak menjadi korban satu sisi akibat negative kecanggihan teknologi. Jika sudah mengalami kecanduan tontonan atau game, anak-anak bisa mengalami kecanduan yang akibatnya dalam jangka panjang bisa sangat membahayakan. Karena itulah, para orang tua tidak bisa menganggap enteng persoalan ini. Sebaliknya, para orang tua harus menjadikan efek pandemi ini sebagai kesempatan untuk mengintensifkan hubungan dengan anak-anak dengan cara menjadikannya sebagai kesempatan untuk mendidik mereka secara langsung.

Masalahnya adalah anak-anak dalam keluarga yang kedua orang tua tidak memiliki kemampuan untuk mendidik mereka, baik karena faktor keilmuan maupun finansial. Bagaimana masa depan mereka? Negara tidak boleh membiarkan masalah ini berlarut-larut. Sebab, ini akan menyebabkan kita kehilangan satu generasi. Pembelajaran daring sangatlah tidak memadai. Terutama untuk anak-anak usia pendidikan dasar dan menengah, hampir tidak mungkin pendidikan dilakukan jarak jauh. Sebab, di dalam pendidikan, tidak hanya perlu transfer pengetahuan, tetapi juga transfer nilai. Dan untuk itu, seringkali diperlukan pembiasaan yang memerlukan pengulangan dengan contoh-contoh langsung yang bisa dilihat dengan mata kepala mereka. Wallahu a’lam bi al-shawab.

 

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI; Pengasuh Rumah Perkaderan-Tahfidh al-Qur’an Monash Institute Semarang dan Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Rembang Jateng.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *