Hanya perempuan yang bisa menjadi seorang ibu. Berkat keistemawaannya mampu melahirkan tunas-tunas generasi baru. Tentu penuh perjuangan dan pengorbanan untuk mewujudkan keunggulan itu. Tanggung jawab yang harus dijalani tidak bisa ditentukan waktu. Sebab, generasi akan berkelanjutan menentukan arah kemajuan peradaban.
Seseorang yang paling berperan dalam menyambut awal kehidupan bayi adalah ibu karena ia memiliki sumber gizi utama sebagai asupan dasar bayi yang dimiliki secara spontan. Sumber suplemen makanan bayi yang paling utama paska kelahiran adalah air susu ibu (ASI). Sebab kala itu, bayi belum dapat mencerna makanan padat dan ASI lebih cepat didapat. Kandungan butir-butir protein dalam ASI lebih halus sehingga cepat dicerna dalam lambung bayi dengan proses sekitar satu setegah sampai dua jam. ASI jauh lebih praktis dibandingkan dengan air susu hewan yang butuh waktu dua kali lipat untuk dicerna lambung.
Selain karena faktor itu juga didukung dengan berbagai alasan di antaranya, Seorang ibu menempati peran yang strategis. Sudah menjadi kodratnya, paska melahirkan secara alamiah ia mampu memproduksi air susu yang dihasilkan dari hormon oksitosin dan prolaktin dalam tubuh.
Proses pembeiran ASI oleh ibu akan memberikan pengaruh baik pada kelangsungan hidupnya karena berpotensi meminimalisir terserang kanker payudara. Temuan tersebut didapati oleh para ahli dibarengi dengan fakta-fakta bahwa setiap isapan oleh bayi mampu membantu memperkecil dan mengembalikan rahim ke bentuk sedia kala karena karena rangsangan hormon kelenjan pituari.
Sejak dilahirkan, kemampuan menghisap ASI secara langsung tanpa diajari sudah menjadi naluri bayi. Kedekatan sang ibu dan anak terbangun semakin erat melalui proses menyusui. Hal itu dibenarkan dalam beberapa studi penelitian bahwa berkat proses menyusui menjadikan hubungan emosional dan kejiwaan anak kepada ibu cenderung lebih kuat dibanding kepada ayah.
Dalam dunia kesehatan, pemberian ASI sangat dianjurkan karena mampu meningkatkan sistem kekebalan imun pada bayi. Terutama pada ASI yang keluar pertama kali atau ASI istimewa yang di dalamnya terdapat kandungan globulin, IGA, transferrin, lysozyme, dan unsur kekebalan seluler. Kandungan antibodi pada ASI mampu melindungi bayi dari berbagai penyakit, khususnya pada bulan pertama proses penyusuan.
Kualitas kecerdasan anak salah satunya bisa dipengaruhi oleh ASI yang diterimanya saat masih bayi. Meskipun terlihat sepele, tapi itu bisa dibenarkan berdasarkan simpulan beberapa hasil penelitian terdahulu. Seorang Profesor psikolog dari Goldsmiths University of London, Sophie von Stumm mengungkapkan alasan yang menyebabkan ASI bisa mempengaruhi kecerdasan anak dengan masa menyusui tidak lebih dari dua tahun. Menurutnya, rantai panjang dari asam lemak tak jenuh yang berguna dalam pembangunan sel saraf anak tidak terkandung pada air susu formula maupun hewan, karena itu hanya terkandung pada air susu manusia.
Namun, bukan berarti jika memberikan ASI kepada anak dengan waktu yang lama maka kecerdasannya akan semakin mengalami perkembangan yang signifikan. Ia pernah melakukan studi kasus pada anak-anak dengan pemberian ASI lebih dari dua tahun. Simpulan yang didapat menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara pemberian ASI dengan IQ anak setelah dua tahun proses menyusui.
Wawasan ini sangat penting diketahui oleh perempuan yang kelak menjadi ibu. Sebab tanpa pengetahuan parenting, bisa jadi kita akan menganggap urgensi-urgensi tentang pemberian ASI hanyalah mitos belaka. Anjuran memberikan ASI sangat relevan dengan ketetapan al-Kitab pada QS. Al-Baqarah ayat 233 yang menyerukan para ibu agar menyusui anaknya sendiri.
Masa ideal penyusuan normal juga dibahas di dalamnya yang sejalan dengan penilitian Prof. Dr. Sophie von Stumm. Begitu juga dengan ketentuan para ulama bahwa enam bulan adalah masa paling singkat dan dua tahun adalah masa sempurna menyusui.
Dewasa ini, kita masih menjumpai seorang ibu yang lebih memilih memberi suplemen lain kepada bayinya baik susu formula maupun hewan sebagai pengganti ASI (PASI). Demikian itu bisa terjadi karena banyak faktor, beberapa di antaranya ada yang karena memang kondisi fisik ibu kurang mendukung dan ada juga yang memiliki kepentingan lain sehingga kurang berkesempatan untuk menyusui.
Sangat disayangkan sekali jika faktor yang kedua itu masih terjadi. Oleh karena itu, kita sebagai orang yang sudah tahu wajib memberi pengetahuan kepada yang lain demi terciptanya kesadaran hidup yang berkualitas.





