Bulan Desember merupakan bulan penutup di dalam kalender Masehi. Dan menandakan bahwa, sebentar lagi akan berganti tahun. Maka, harus ada resolusi baru di tahun baru nanti. Harapannya ialah, semoga tahun yang sebentar lagi datang, membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Karena akan beruntung ketika kita terus berbenah, berusaha meninggalkan kebiasaan-kebiasaan hari kemarin yang tidak baik.
Tapi saya lebih tertuju pada sebuah hari di bulan Desember. Yakni tanggal 22 Desember. Hari itu merupakan hari ibu. Walaupun sebenarnya masih terdapat perbedaan pendapat ulama’ mengenai hal ini, sebab ada yang membolehkan, juga mengharamkan. Terlepas dari itu semua, peringatan hari ibu merupakan salah satu bentuk bakti dan rasa syukur atas jasa-jasa ibu. Pada hari tersebut, kita diingatkan kembali atas jasa-jasa perempuan tangguh. Sebenarnya, tidak harus menunggu datangnya hari ibu. Tapi setiap saat kita harus selalu sadar akan perjuangannya. Perempuan hebat yang telah membesarkan dan mendidik anak-anaknya.
Untukmu ibu..aku tak tau dengan cara apa lagi aku dapat berterima kaih padamu. Jasamu yang tiada Tara. Untuk membalas, aku tak bisa. Dan takkan pernah bisa. Hanyalah taat doa yang kupersembahkan untukmu.
Saat mata ini terbuka. Kulihat ibu yang begitu tulus merawat buah hatinya, termasuk diriku. Sabar, penuh rasa kasih darinya. Ku dididik oleh kedua orang tuaku. Aku terlahir dari pasangan pejuang yang bertemu di tanah rantau. Sepasang kekasih halal yang melanjutkan hidupnya di Pulau Celebes. Masa kecil kuhabiskan bermain dengan anak di tanah rantau. Sehingga aku bisa dibilang anak blasteran.
Menjalani masa kecil yang begitu menyasyikkan. Aku pun disekolahkan di Taman kanak-kanak Islam yang letaknya cukup jauh dari Rumahku. Dipilihnya sekolah itu, karena orang tuaku yang bekerja di sebuah Kantor yang jaraknya berkilo-kilo meter—luar biasa jauh dari rumah. Walaupun tidak setiap hari juga seperti itu. Orangtua lebih banyak Ngantor di Dekat Rumah. Sehingga, tiap harinya aku selalu ikut mereka, dan berkendara umum dilain harinya lagi.
Masih ingatkah, ketika awal-awal sekolah? Saat aku tidak mau di tinggal oleh ibu. Entah apa yang ada di dalam pikiranku saat itu. Sudahlah aku tak mau menceritakannya lebih lanjut. Tak kuasa ke mengingatnya. Tapi kejadian itu takkan pernah aku lupa sepanjang hidup. Benar-benar tak terlupakan.
Aku belajar banyak darimu, Pak.. Bu..
Pengetahuan agama kalian memang tak seberapa. Karena terlahir dari anak desa di Suatu daerah di Jawa. Tapi untuk baca al-Quran kalian sudah dilevel rata-rata. Yang kukagumi lagi ialah kedekatan kalian dengan orang-orang shaleh. Sebagaimana salah satu diantara obat hati. Juga dalam hal Ilmu agama yang terus digali, pengajian-pengajian, bacaan-bacaan yang selalu menghiasi tiap harinya.
Keinginan untuk meningkatkan kualitas generasi selanjutnya pun terlihat ketika awal memasukkan anak pertamanya ke Pondok pesantren. Begitupun seterusnya, saat kalian memasukkan ketiga anak ke pesantren. Dengan harapan, akan lahir ulama-ulama masa depan yang akan mencerahkan.
Semasa kecilku, yang tidak jarang keluar rumah, aku selalu diajak ikut bersama ibu. Yang semasa itu aku tak begitu paham apa yang orang tuaku lakukan, pergi kesana kemari mengurus sana sini. ke Kantor Gubernur, walikota dll. Aku hanya ikut, dan sebagai hiburan kadangkala ibu menggambar, bahagiaku sederhana ketika harus menertawakan gambar seorang anak kecil yang membawa gitar.
Karena lagi-lagi bahagiaku kala itu cukup sederhana. Termasuk ketika melewati jalan terdekat dari pelabuhan setelah melewati warung makan SOP saudara dan melihat kapal yang berjejeran rapi. Sungguh, pemandangan yang indah kulihat kala itu. Masih banyak lagi rangkaian peristiwa selama hidupku, mulai masa kecil hingga dewasa yang tak bisa kusebutkan semua.
Begitupun dengan bapak, yang selalu mengukir tinta diatas kertas. Yang memperlihatkan gambar mesin dan juga pahlawan Satria baja hitam. Entah apa makna yang terkandung dalam gambar tersebut aku tak tahu. Corat-coret selalu menjadi aktivitasku masa kecil. Gambar kapal terbelah yang sampai sekarang masih diingat membuatku tertawa sekaligus heran. Juga dulu ketika hari sudah maghrib, dan aku tak kungjung pulang, sehingga marah pun tak bisa dihindarkan. Itu memang salahku, itu sebagian kesalahan yang pernah kulakukan. dan masih banyak lagi kesalahan-kelasahan lain kepada orang tua.
maafkan Pak.. Bu..
Cinta, kasih sayang dan pengorbanan kedua orang tua kepada kita, tanpa meminta balasan apapun dari sang buah hati. Anak pun memiliki kewajiban untuk menyayangi, menghormati, mereka kembali. Hanyalah doa yang kupersembahkan. Semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita. Aaamiin..
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِىْ ذُنُوْبِىْ وَلِوَالِدَىَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِىْ صَغِيْرًا. وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،اَلْاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ، رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ، وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
Artinya : “Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya sebagaimana beliau berdua merawatku ketika aku masih kecil, begitu juga kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat, semua orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan ikutkanlah diantara kami dan mereka dengan kebaikan. Ya Allah, berilah ampun dan belas kasihanilah karena Engkaulah Tuhan yang lebih berbelas kasih dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu.”







