Biasanya aku lebih suka menulis opini dibanding menulis tentang perasaanku, yaitu cinta. Tapi karena keadaan memaksaku, sepertinya aku harus kulakukan. Jika tidak aku tuliskan, maka perasaan ini hanya akan terus tersimpan dan berdebu di dalam diriku saja. Tapi, rasanya begitu sayang sekali bila ku berhasil menulis ungkapanku lewat surat ini. Karena bisa jadi ini adalah surat terindah yang pernah aku buat. Aku masih begitu ingat saat pertama kita bertemu pada sebuah kegiatan yang penting bagi sebuah instansi. Aku melihatmu dan aku langsung tahu bahwa orang ini akan menjadi orang yang memberi dampak dalam hidupku.
Saat kita mulai untuk saling berbicara, aku menemukan lebih banyak hal lagi yang menarik diriku untuk menjatuhkan diri lebih dalam pada dirimu. Dan saat kita berbincang membahas tentang impian, tentang segala tempat juga hal yang ingin dilakukan nanti, aku duduk di sana, di sisimu dengan rasa yang menggetarkan raga, melukis senyum bahagia di wajah, membekukan mata dari segala hal.
Bila aku adalah samudra, aku ingin kamu menjadi pulau kecil di tengahnya. Agar tidak seorang pun dengan mudah mendekatimu. Dengan sepenuh hati aku percaya bahwa Sang Maha Pereka Cipta menciptakanmu untuk bersama denganku. Kamulah muara akhir dari panjangnya perjalan kisah cintaku yang selalu mengalami kemalangan. Karena setiap aku melihatmu, ku tak mampu menahan rasa tawa bahagia.
Tapi, kadang sesuatu yang hal baik tidak mesti memiliki kisah yang berkesinambungan. Mereka terkadang harus berakhir begitu saja. Sebab, hal baik tidak selamanya berakhir baik juga. Bukan salahmu juga bukan bukan salahku. Mungkin saja, episode kita hanya sementara. Kadang aku menyayangkan bila ku teringat besarnya kemungkinan kita bersama. Menaklukkan dunia berdua. Aku rasa kamu pun juga merasakan hal yang juga sama hebatnya dengan yang kurasa.
Pada akhirnya aku paham seperti apa mencintai seseroang dengan sangat dalam, walaupun orang tersebut tak melihatku. Bagiku, merasakan rasa itu sudah cukup. Aku berpikir bahwa cinta tidak akan pernah ada ujungnya, tapi ternyata itu salah.
Maka dari itu, lewat sepucuk surat ini, teriakan hatiku, aku telah menuliskannya. Kini, cinta yang lama bersemayam dalam hatiku telah memperkenalkan dirinya melalui tulisan ini.
Berbahagialah. Aku tetap menginginkan yang tebaik untukmu menkipun tidak bersamaku. Walaupun nanti mungkin kita tidak bisa bertemu lagi karena kesibukan pribadi, aku akan tetap mengingatmu sebagai seseorang yang menjadi alasanku untuk berubah. Karena kamu adalah orang yang memberikan dampak dalam hidupku.
Jadi, berbahagialah. Sebab, aku pernah mencintaimu.
Oleh: AdTa







