Suasana semakin memanas setelah orang tua Lutfiah tetap kekeh untuk menjodohkan anaknya dengan Taufiq. Fudin tak punya pilihan lain. Ia hanya bisa pasrah dengan keputusan orang tua Lutfiah yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Sebenarnya Lutfiah menolak bahkan hatinya begitu berontak terhadap keputusan orang tuanya itu. Namun apa daya ia tidak punya cara lain untuk menggagalkan perjodohannya itu.

Kehidupan pondok pesantren merupakan suatu kehidupan yang unik serta mengandung banyak peristiwa yang sangat sulit untuk dilupakan. Jika berbicara tentang pondok pesantren, apa yang akan kawan-kawan pikirkan? Budaya antre, padat kegiatan, serta semua serba jamaah dalam berbagai hal. Itu pandangan orang awam yang belum pernah merasakan kehidupan pondok pesantren seutuhnya.

Bagi orang yang telah akrab dengan kehidupan pesantren akan terus merasa nyaman dengan segala hal yang ada di dalamnya. Menimba ilmu sebanyak-banyaknya untuk kehidupan bermasyarakat dan beragama tak lelah selalu mereka kerjakan. Suka duka serta canda tawa menjadi hal yang sehari-hari mewarnai kehidupan para santri. Selain itu romantika asrama kerap kali mewarnai kehidupan pesantren yang membekas hingga menimbulkan kenangan bahkan mengalirkan genangan meski rumah tangga sudah terbangun dan akad sudah terucap.

Di suatu wilayah Jawa Tengah, terdapat pondok pesantren bernama Al-Afif. Pondok putra putri  yang di desain sebagai pondok bagi para penghafal al-Qur’an. Para penghafal al-Qur’an ini rata-rata perempuan. Ada juga santri laki-laki yang ikut menghafal, namun jumlahnya hanya sedikit. Kebanyakan dari mereka mendalami kitab-kitab salaf guna memperdalam ilmu alat.

Lutfiah merupakan salah satu dari ratusan perempuan yang ikut nyantri di pondok ini. Ia nyantri sejak lulus Sekolah  Dasar. Salah satu ciri khas yang ada di pondok pesantren ialah sistem jama’ah dan senasib seperjuangan  bahkan sepenanggungan. Ketika awal mondok lutfiah sudah kenal dengan salah satu santri putra senior, Kang Fudin. Ia kenal Kang Fudin dari tetangganya yang juga nyantri di pondok putra. Karena itulah Kang Fudin menganggap lutfiah laiknya adek sendiri. Ia terus berusaha agar Lutfiah betah tinggal di pondok dan bisa menguasai seluruh pelajaran yang diajarkan, baik di sekolah maupun di pondok.

Lutfiah adalah perempuan yang sangat cantik. Perangainya yang lemah lembut membuat siapapun yang melihatnya tertarik. Begitupula Kang Fudin, ternyata lama-kelamaan ia juga menyimpan perasaan suka kepada adiknya (Istilah pondoknya adik-adikan). Lutfiah terus tumbuh menjadi gadis remaja yang semakin cantik dan juga cerdas. Setelah lulus SLTP ia melanjutkan pendidikan formalnya di MA yang didirikan oleh pengasuh pondok tersebut sembari mengambil program tahfidz.

Sebagai kakak (istilah pondoknya kakak-kakakan) yang baik, Kang Fudin memberikan dukungan penuh untuk Lutfiah agar cita-citanya menjadi hafidz al-Qur’an dapat tercapai sesegera mungkin. Tak Sering, keluh kesah dan segala hal Lutiah sampaikan kepada Kang Fudin melalui surat-surat yang ditulis secara manual. Selain sebagai salah satu orang kepercayaan pengasuh pondok, Kang Fudin merupakan salah satu pengurus santri putra. Oleh sebab itu, ia tetap harus menjaga perilaku dan segala tindak tanduk agar tetap menjadi tauladan yang baik bagi adik-adik pondoknya.

Hubungan mereka semakin hari semakin dekat, meski jarang bertemu dan ngobrol bareng. Akan tetapi, perasaan cinta mereka semakin besar. Ditambah lagi semenjak Lutfiah menjadi bagian dari pengurus pondok putri. Kang Fudin semakin yakin bahwa Lutfiah adalah santri yang berkualitas. Ia berjanji akan selalu membuatnya bahagia dan menjadi suporter perjuangannya bahkan mereka berniat untuk menjalani hubungan yang lebih serius lagi.

Tiga tahun begitu singkat. Lutfiah telah menyelesaikan pendidikan formalnya di jenjang SLTA dengan baik. Namun, hafalannya belum selesai. Ia masih harus menyelesaikan 5 juz terakhir serta tes simaan gelondongan dengan Bu Nyai Khoir(Istri Pengasuh  pondok, Kyai Arif). Fudin terus menyemangati Lutfiah agar segera sampai pada titik impiannnya itu. Ditambah lagi, Lutfiah kini menjadi tangan kanan Bu Nyai Khoir. Ia menjadi lurah pondok putri.

Memasuki tahun ke delapan ia tinggal di pondok lutfiah diamanahi untuk menjadi pimpinan pengurus pondok. Sedaangkan saat itu pula Kang Fudin juga menjadi tangan kanan Kyai Arif sebagai wakil pimpinan pondok putra. Keduanya memiliki kemampuan yang mumpuni sesuai bidang masing-masing. Karena keduanya merupakan tangan kanan pengasuh, akhirnya kedekatan merekapun diketahui oleh pengasuh. Dan ternyata pengasuh sama-sama menyetujui dan mendukung mereka untuk menjalin hubungan yang lebih serius setelah Lutfiah menyelesaikan hafalannya.

Baca Juga  Faidah Puasa bagi Kesehatan

“Din, kamu beneran suka sama Lutfiah?” tanya Kyai Arif dengan serius.

“I… i… iya, Kyai. Saya sudah menyukai dia sejak lama” Jawab Kang Fudin gugup dengan wajah tersipu.

“Mau nikah sama dia atau hanya main-main?” sergap Kyai Arif usai Kang Fudin menjawab pertanyaannya.

“Niatnya ingin serius, Kyai. Semoga saja Allah meridhoi niat baik saya. Mohon do’a restu juga dari Kyai dan juga Bu Nyai,” Jawabnya tegas dan penuh kehatia-hatian.

“Aku melihat kalian berdua cocok dan juga sama-sama saling menyukai. Tapi tunggu dulu agar Lutfiah menyelesaikan hafalannya dan tes simaan gelondongan. Minimal satu tahun setelah ia wisuda kamu boleh menikahinya, kami merestuimu” tutur Kyai Arif sembari memberikan semangat agar Fudin terus berjuang.

“Terima kasih banyak, Kyai. Saya akan menjalankan dawuh kyai dengan segala usaha yang maksimal,” Jawab Fudin dengan nada senang campur haru.

Usai mendengar penuturan Kyai Arif, Kang Fudin langsung mengabarkan hal tersebut kepada Lutfiah. Hati Lutfiah seketika berbunga-bunga mendengar penjelasan Kang Fudin. Mereka seakan mengangguk dan saling memberikan kekuatan untuk sama-sama berjuang menuju jenjang yang lebih serius.

Keesokan harinya Lutfiah menelpon ibundanya untuk mengabarkan berita gembira yang dijelaskan oleh Kang Fudin. Akan tetapi, tanpa diduga ibundanya langsung emosi mendengar penjelasan Lutfiah. Ternyata, sejak kecil Lutfiah telah dijodohkan dengan anak teman ibunya yang ternyata juga mondok di pesantren Al-Afif. Lutfiah begitu sock mendengar penjelasan ibundanya. Dunianya seolah kalang kabut, hatinya terasa begitu tercabik oleh tajamnya ucapan perjodohan yang disampaikan oleh ibundanya.

 

Lutfiah terisak, air matanya tak dapat lagi terbendung. Ia terus berfikir bagaimana agar ibunya merestui hubunganya dengan Kang Fudin. Lutfiah tetap kekeh dengan pilihannya. Ia memilih untuk mempertahankan Kang Fudin dan berharap ada suatu keajaiban sehingga pikiran ibunya dapat berubah dan merestui hubungannya.

Lutfiah menceritakan hal tersebut kepada Kang Fudin, ia berharap akan mendapat kekuatan untuk sama-sama memperjuangkan hubungan yang telah lama dibangun.

“Assalamu’alaikum, Kang Fudin. Ada suatu hal yang hendak aku sampaikan lewat pesan singkatku kali ini. Kabar yaang semoga saja tidak membuatmu menyerah untuk terus berjuang mempertahankan hubungan kita. Kemarin malam aku menelpon ibuku untuk mengabarkan kabar gembira darimu. Akan tetapi, waktu telah membuka tabir-tabir yang selama ini disembunyikan dariku. Sejak kecil ternyata aku telah dijodohkan dengan anak teman ibuku. Dan dia adalah santri pondok putra Al-Afif. Aku dijodohkan dengan Kang Taufiq. Namun, aku bersikeras untuk menolak. Aku akan membuktikan bahwa kamulah yang terbaik yang dapat membimbingku untuk mencapai surga-Nya. Kamulah orang yang selalu ada untukku dan menemani perjuanganku dari awal. Aku minta tolong kamu untuk berusaha mempertahankan hubungan kita, memperjuagkanku untuk bisa tetap bersanding denganmu. Wasthona’tuka linafsi.

Pesan tersebut dikirim melalui hp official yang dipegang oleh lurah pondok putri. Meskipun begitu, Lutfiah tetap bijak dalam menggunakan Hp tersebut. Ia berkomunikasi dengan Kang Fudin jika ada suatu hal yang sangat urgent saja. Kang Fudin telah menerima pesan Lutfiah. Ia membacanya dengan seksama dan dengan perasaan yang bercampur menjadi satu. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang dan bertawakkal kepada Allah terhadap suatu hal yang nantinya akan terjadi.

“Wa’alaikum salam, Dik Lutfiah. Tiada hal yang saat ini ingin kuperjuangkan kecuali mengkhitbahmu. Tiada hari dalam sepanjang perjalanku mengenalmu tanpa menyebut namamu dihadapan Rabbku. Jalan hidup manusia itu unik. Jalannyapun tak pernah terbesit meski hanya sepintas. Aku tak pernah tahu juga jodohku nanti itu kamu atau bukan. Akan tetapi, hingga detik ini dan sampai sebelum takdir-Nya nampak di kehidupanku aku masih memperjuangkanmu. Memperjuagkan orang yang telah mewarnai hidupku. Aku akan terus berusaha semaksimal mungkin dan menanggung segala resiko yang akan aku hadapi. Namun, jika takdir yang digariskan Allah tidak seperti yang kita inginkan, kita harus belajar menerima, meski sulit dan hati terus merasa tercabik. Dik Lutfiah, mari kita sama-sama berdo’a agar diberikan keputusan terbaik oleh-Nya. Terima kasih telah mempercayaiku untuk memperjuangkanmu.”

Baca Juga  Menunggu Intan (Kembali)

Membaca balasan Kang Fudin Lutfiah seolah-olah menemukan kekuatan baru. Ia menjalani hari-harinyaa dengan semangat dan penuh perjuangan. Menambah intensitas murajaah dan mempersiapkan tes sebelum nantinya diwisuda. Tak lupa do’a Kang Fudin selalu diterbangkan agar Lutfiah diberikan kekuatan dan daya ingat yang kuat supaya lolos dalam tes akhir hafalannya.

Hari ujian hafalan telah tiba. Do’a restu dari keluarga, sanak famili serta kawan-kawannya turut menyertai perjuangannya. Begitupun Kang Fudin. Meski tak bisa menyaksikan secara langsung ia juga memberikan dukungan agar tesnya berjalan lancar. Lutfiah mulai memasuki ruang tes dengan langkah pasti, walapun sebenarnya jantungnya berdetak lima kali lebih cepat dari biasanya.

Penguji sudah siap dengan beberapa tim yang sudah teruji hafalan Qur’annya secara mumtaz. Rangakaian kegiatan tes berlangsung selama tiga hari. Tiga hari itu Lutfiah hanya fokus terhadap ujian hafalannya. Hingga pada akhirnya segala ikhtiar yang dilakukannya membuahkan hasil yang memuaskan. Ia dinyatakan lulus Mumtaz oleh penguji. Begitu pula dua teman lain yang sama-sama mengikuti ujian hafalan tahun ini.

Setiap tahun pondok Al-Afif selalu mengadakan wisuda akbar bilhifdzi dan binnadlhor. Tahun ini ada tiga hafidzoh yang lulus tes hafalan, Lutfiah, Muna dan Rina. Lutfiah dan Muna merupakan dua sahabat yang sudah lama saling mengenal dan akrab. Selain itu, Muna juga menjabat sebagai bendahara di kepengurusan yang dipinpin oleh Lutfiah. Sementara itu, Rina merupakan  senior yang umurnya dua tahun lebih tua di atas mereka. Mereka bertiga dan beberapa peserta wisuda binnadhlor akan diwisuda pada bulan syawal bertepatan dengan haul pendiri pondok.

Kabar kelulusan itu ternyata sudah terdengar hingga pondok putra tak terkecuali oleh suporter segala perjuangan Lutfiah, siapa lagi kalau bukan Kang Fudin. Lutfiah juga mengabarkan hal ini kepada orang tuanya. Ia berharap oraang tuanya akan merubah niat untuk menjodohkannya dengan Kang Taufiq. Akan tetapi semua tak terduga. Garis takdir Lutfiah telah menyapa. Orang tua Lutfiah tetap kekeh untu menikahkannya dengan Kang Taufiq.

Awal puasa yang seharusnya menjadi moment yang sangat ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang. Namun tidak oleh Lutfiah, ramadan tahun ini seakan menjadi ancaman baginya. Orang tua Lutfiah sowan ke pengasuh pondok untuk mengutarakan maksudnya dan berterima kasih atas segala jasa dan ilmu yang diberikan kepada anaknya. Tak lupa pula orang tua Lutfiah menyampaikan maksud lain kedatangan mereka kali ini.

“Pak kyai, saya berterima kasih atas segala ilmu dan juga kesabaran yang telah diberikan untuk membimbing anak saya. Kami belum bisa membalas segala kebaikan Pak Kyai dan Bu Nyai. Mohon maaf juga atas segala tingkah laku Lutfiah yang mungkin tidak berkenan selama nyantri di sini. Kami bermaksud memberikan kabar gembira kepada Pak Kyai, bahwa lima bulan lagi Lutfiah akan menikah dengan laki-laki pilihan kami. Lutfiah kami jodohkan dengan salah satu santri yang mondok di pesantren ini juga.”

Mendengar penuturan orang Tua Lutfiah Pak Kyai dan Bu Nyai tersenyum ramah. Akan tetapi ada suatu tanda tanya yang masih tersimpan di benak mereka.

“Sama-sama, Bu. Itu sudah menjadi kewajiban kami untuk mengajarkan apa yang kami bisa. Alhamdulillah kalau memang Lutfiah sudah ada calon pendamping hidupnya. Kira-kira siapa  santri putra yang ibu maksud?” tanya Pak Kyai dengan penuh penasaran.

“Taufik Milladunka, Yi,”jawab ibu Lutfiah dengan mantap.

Pak Yai kaget dan terheran. Ternyata yang akan dijodohkan dengan Lutfiah bukan Kang Fudin, seseorang yang telah menjadi suporter Lutfiah sejak awal mondok. Namun, karena orang tua Lutfiah sudah menjelaskan panjang lebar Pak Yai dan Bu nyai tidak memiliki strategi lagi agar perjodohan tersebut dibatalkan dan Lutfiah menikah dengan Kang Fudin.

Setelah orang tua Lutfiah berpamitan, Kang Fudin langsung ditimbali Pak Kyai untuk datang ke Ndalem. Betapa hancur dan sedihnya hati Kang Fudin mendengar segala penjelasan Kyainya. Dunianya seolah menertawainya. Ibarat kata “Aku yang Menanam tapi dia yang Memanen”. Pak Yai berusaha untuk menenangkan santri kesayangannya itu.

Seminggu lagi acara wisuda akan dilaksanakan. Kang Fudin belum juga mengucapkan selamat atau menyiapkan kado buat Lutfiah. Hatinya masih diliputi rasa kecewa. Meski semuanya bukan sepenuhnya salah Lutfiah. Sekarang Hubungan Kang Fudin dengan Kang Taufiq juga agak renggang. Mereka saling diam tanpa bicara.

Baca Juga  Karena Dia adalah Surga dalam Hidupku

Hari wisudapun telah tiba. Semua wali santri dan alumni datang ke pondok Al-Afif untuk melihat prosesi wisuda serta mengikuti haul masyayikh. Lutfiah semakin tak karuan perasaannya. Ia hanya bisa pasrah dengan semua hal yang tengah ia hadapi. Tak ada lagi kekuatan dan argumen yang bisa membuat orang tuanya berubah pikiran. Di sisi lain Kang Fudin masih juga belum bisa tergantikan. Begitu banyak jasa dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh Kang Fudin selama kurang lebih delapan tahun. Namun, ternyata bukan dia yang menjadi pendamping Lutfiah.

Jarak langit dan bumi begitu jauh terbentang. Begitupula jarak antara Kang Fudin dan Lutfiah. Tak ada lagi kabar. Sepi, semua kenangan sudah hanyut oleh genangan. Suporter perjuangan kini tak lagi terdengar meski hanya sapaannya. Semua keadaan berubah total. Peristiwa ini menjadi viral di Pondok Al-Afif. Maklum mereka adalah para petinggi pondok.

Lutfiah terus meyakinkan dirinya agar bisa menerima Kang Taufiq sepenuhnya. Nasihat dari pengasuh juga dijadikan pijakan agar dirinya tidak semakin terpuruk oleh keadaan. Tiga Bulan lagi Lutfiah akan sah menjadi istri Kang Taufiq. Di lain sisi, Kang Fudin terus meminta nasihat dari pengasuh dan karibnya. Ia harus tetap tegar meski hati tercabik oleh keadaan dan orang tersayang. Ia tawakal atas segala takdir yang sedang bertamu padanya kali ini. Tak ada hal lain selain mendekatkan diri kepada Allah swt dan meminta jalan terbaik untuk segala permasalahan yang kini telah dihadapinya.

Pengasuh pondok ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Kang Fudin. Pak Kyai Arif berdiskusi dengan Bu Nyai Khoir untuk membantu mencari jalaan keluar atas masalah yang tengah menimpa santri andalannya itu. Perjodohan telah menghancurkan mereka. Bu Nyai Khoir teringat satu hal.

“Kemarin kan Lutfiah wisuda barengan dengan Muna dan Rina. Kalau Rina sudah ada calon. Kalau semisal Fudin kita jodohkan dengan Muna bagaimana, Bah?” kata Bu Nyai sambil terus berfikir.

“Boleh juga. Muna kelihatannya belum ada calon. Ia juga seorang yang baik dan bisa diandalkan,” jawab Pak Yai dengan penuh keyakinan.

Malam hari yang begitu cerah. Namun tidak dengan muka Kang Fudin. Masih terganbar jelas wajah kesedihannya. Kali ini ia datang kembali ke ndalem atas permintaan Pak Yai. Tak lama kemudian Muna juga datang ke ndalem. Kini suasana hening antara Pak Yai, Bu Nyai, Muna dan Kang Fudin. Pak Yai membuka percakapan.

“Muna, kamu sudah ada calon?”

“Belum, Pak,” jawab Muna gugup

“Jika belum dan semoga kamu berkenan, kami berniat untuk menjodohkanmu dengan Fudin” ungkap Pak Yai Arif tegas.

Muna kaget bukan main. Begitupula Fudin. Mereka adalah dua orang yang akan dijodohkan oleh pengasuh. Perasaan apa yang sebenarnya saat ini sedang mereka rasakan? Tak ada yang tahu. Singkat cerita, setelah diskusi cukup lama mereka menjawab dengan penuh keyakinan.

“Jika ini adalah jalan yang sudah digariskan oleh Allah maka, kami terima dengan senang hati, Aku memilih Muna sebagai pendampingku. Aku melihat ada masa depan gemilang di mata Muna. Waṣṭana’tuka linafsī. tutur Kang Fudin singkat jelas.

Tanpa pikir panjang, Kang Fudin dan Muna mengabarkan perjodohan itu kepada keluarganya masing-masing. Semua keluarga menyetujui dan bahkan sudah menetapkan tanggal nikah. Ternyata tanggal nikahnya dua bulan lebih cepat daripada Lutfiah.

Kabar ini kembali terdengar oleh santri-santri lain. Tak ada yang menduga. Begitu apik skenario yang dibuat oleh-Nya. Dari  situlah kita bisa melihat bahwa jodoh itu rahasia Ilahi. Bersama bertahun-tahun kalau bukan jodoh pasti juga akan berpisah. Laiknya bercocok tanam. Ada yang menanam, merawat dan juga menanam. Yang terpenting terus meningkatkan kualitas diri dan memperbaiki karakter. Jika kualitas kita baik dan memiliki perangai yang baik insyaAllah jodoh akan datang sendirinya dan bisa jadi itu sebagai cerminan kita.

Aina Fahma
Penggenggam Rindu (Kata yang tertahan, tertuai bebas dalam tulisan. Pun bahkan jika mulut tengah membungkam, untaian kata akan memulihkan celah hati yang biru melebam)

    Reintegrasi al-Qur’an dan Sains

    Previous article

    Shalat Idul Fitri di Rumah, Ini Panduan MUI

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Cerpen