Suatu keniscayaan hidup di era post-modern seperti ini sains dijadikan sebagai pedoman utama oleh sebagian besar manusia dalam aspek kehidupannya. Tuntutan kebutuhan dan zaman membuat sains lebih banyak digemari dan dipelajari. Terlebih ketika Barat mulai mendikotomi antara agama dan sains, membuat agama dianggap sebagai penyebab suatu peradaban menjadi tidak maju. Padahal antara Agama dan sains adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sains bersumber dari al-Qur’an dan al-Qur’an lebih mudah dipahami dengan sains. 

Para ilmuwan muslim memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam menyikapi sains modern. Maurice Bucaille, seorang ahli bedah Perancis, dalam bukunya the Bible, the Qur’an, and the Science menganggap bahwa sains itu bersifat netral dan universal dan semuanya bisa ditemukan dalam al-Qur’an.

Berbeda dengan Bucaille yang berakhir dengan al-Qur’an, Fazlurrahman justru berangkat dari al-Qur’an. Ia membuat sebuah epistem baru yakni paradigma pengetahuan dan perilaku. Ia tersadar bahwa ilmu pengetahuan terpusat pada prinsip, konsep, dan nilai utama Islam.

Konsep Islamisasi Ismail Raji al-Faruqi berusaha memunculkan peradaban sains di negara dengan mayoritas masyarakat muslim. Ia berpendapat bahwa ketika sains ada dalam wilayah Islam, maka fungsi sains dapat termodifikasi untuk mewujudkan cita-cita Islam.

Upaya pencarian ilmu pengetahuan dalam Islam bukanlah hal baru. Ayat-ayat sains sudah dimulai di interpretasikan oleh ulama-ulama sejak dahulu. Penafsiran tersebut didasarkan atas keyakinan bahwa al-Qur’an bukan hanya sebagai petunjuk agama tapi juga sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Baca Juga  Makna da Pembagian Kalam

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ulumuddin berpendapat bahwa al-Qur’an adalah penjelasan dzat, sifat, dan af’al Allah, berserta seluruh ilmu pengetahuan tercakup dalamnya.

“Katakanlah (Muhammad), Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” [18:109].

Pendapat al-Ghazali dikuatkan dengan pendapat as-Suyuti yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu mengandung seluruh ilmu baik ilmu klasik ataupun ilmu modern. al-Qur’an mencakup segala sesuatunya. Tidak ada satupun masalah yang tidak terdapat dalam al-Qur’an.

Ghulsani berpendapat meski al-Qur’an bukan kitab sains atau ensiklopedia sains, namun banyak sekali pesan penting yang ingin Allah sampaikan kepada manusia yang itu melibatkan fenomena atau gejala-gejala alam. Dari fenomena itulah, diharap manusia mampu mengambil ibrah yang terkandung di dalamnya.

Semua terkandung dalam teks al-Qur’an. Maka, tidak salah jika ada yang berpendapat bahwa peradaban Arab-Islam adalah peradaban teks. Tidak seperti peradaban Mesir yakni peradaban pascakematian dan peradaban Yunani yakni peradaban logika.

Para ahli mengakui bahwa peradaban Arab-Islam mencapai kejayaan karena dua hal. Pertama, pengaruh teks al-Qur’an. Pada masa kejayaan Islam, para ilmuwan muslim meneliti al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan yang mampu menginspirasi. Kedua, ajarannya yang inklusif atau terbuka. Sehingga mampu mengakulturasi ilmu pengetahuan atau filsafat Yunani.

Dalam sejarah, tidak ada agama yang menaruh perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan kecuali Islam. Islam sangat mendorong dan menyeru muslim untuk senantiasa menggali sedalam-dalamnya ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya para ilmuwan muslim dan ulama memiliki kedudukan tinggi di dalam islam. Ia diberi kehormatan dan juga kemuliaan. Ajakan al-Qur’an untuk mencari dan mengembangkan ilmu sepadan dengan balasan menempatkan mereka pada posisi luhur.

Baca Juga  Waktu sahur; Jangan disepelekan!

Hal ini terlihat dari support al-Qur’an yang mengandung kata ‘ilm dan kata bentukannya disebutkan kurang lebih 800 kali. Yusuf al-Qhardawi mengatakan dalam al-Qur’an kata ‘ilm (ilmu) yang bentuk definitif (ma’rifat) maupun indefinitif (nakiroh) terdapat 80 kali. sedang kata ‘allama (mengajarkan), ya’lamun (mereka mengetahui), ‘alim (sangat tahu), dan seterusnya disebutkan sebanyak ratusan kali.

Tidak hanya itu, kata yang berkaitan seperti al-albab (akal) disebutkan sebanyak 16 kali, kata al-nuha sebanyak 2 kali, kata bentukan ‘aql sebanyak 49 kali, kata fiqh (paham) sebanyak dua kali, kata hikmah sebanyak 20 kali, dan kata burhan (argumentasi) sebanyak 20 kali. kata kata itu belum termasuk kata fikr, unzuru (perhatikanlah, amatilah, lihatlah), dan yanzhurun (memperhatikan, mengamati, dst).

Bahkan, ayat-ayat pertama yang turun kepada nabi Muhammad Saw. mengandung unsur ilmu pengetahuan. Seperti surat al-Alaq ayat 1-5 yang menandakan betapa pentingnya membaca, menulis, dan belajar-mengajar.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia pa yang tidak diketahuinya”

Al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan. Terkait informasi ilmiah al-Qur’an, tidak sedikit akademisi baik dari Timur ataupun Barat yang mengakui ke Mukjizatan al-Qur’an setelah membuktikannya secara saintifik. Bahkan para orientalis sekalipun, pada akhirnya banyak yang masuk Islam.

Jika orientalis yang tidak beriman saja mempelajari inormasi ilmiah al-Qur’an secara serius, mengapa kita tidak? Banyak informasi ilmiah yang di temukan oleh orang Barat yang sekuler. Contoh kecil adalah ketika ilmuan Barat menguak bahwa matahari berputar pada porosnya atau asal muasal segala sesuatu itu dari air seperti yang dikatakan Thales. Padahal informasi tersebut sudah ada dalam al-Qur’an. Allah berfirman;

Baca Juga  Memaknai Idul Fitri

“Dan matahari berputar pada porosnya. Itulah ketetapan (takdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” [36:38]

“Dan telah Kami jadikan segala sesuatu yang hidup ini berqasal dari air” [21:36]

Demikianlah al-Qur’an, ia adalah kitab yang berisi ayat-ayat yang relevan dan kompatibel dengan ilmu pengetahuan modern. Mengutip kata Dr. Reney Ginon –setelah masuk Islam berganti nama menjadi Abdul Wahid Yahya-, seandainya para pakar dan ilmuwan dunia mau membandingkan ayat-ayat al-Qur’an secara serius dengan apa yang mereka pelajari, niscaya mereka akan menjadi muslim tanpa ragu. Wallahu a’lamu bi al-shawwab

Alwi Husein Al Habib
Ketua Umum HMI Korkom Walisongo Semarang dan Mahasiswa Jurusan Tafsir Qur’an di UIN Walisongo Semarang

    Bangsa yang Dikepung Masalah

    Previous article

    “Wastana’tuka Linafsi”

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Kajian