Tidak dapat dipungkiri bahwa etika adalah salah satu elemen yang penting dalam hidup. Mengapa demikian? Etika merupakan suatu pembatas antara hubungan timbal balik atau feed back masyarakat. Bagaimana respon seseorang kepada orang lain dapat diukur dari bagaimana ia beretika di muka umum. Sebab, orang yang beretika lebih dihormati dan dihargai daripada orang yang hanya pinter, tapi tidak bener.

Dalam kehidupan sehari-hari, etika dipergunakan untuk mengontrol tindakan dan ego pada tiap diri seseorang. Ketika dikaitkan dengan indikator tersebut, etika dapat bermakna tanda atau pengingat akan mana yang harus dilakukan dan mana yang patut ditinggalkan. Hal ini seakan menunjukkan bahwa etika tergolong salah satu hal yang harus diprioritaskan.

Berdasarkan tingkat urgensi yang sedemikian besar, muncullah bermacam wacana tentang bagaimana meng-cover etika dalam bersosialisasi antar sesama manusia.  Bukan hanya berfokus pada masyarakat saja, melainkan juga seluruh lini sosial, tidak terkecuali etika bagi civitas akademika. Pada Perguruan Tinggi, telah nampak jelas sekat-sekat atau aturan bagaimana civitas akademika harus bersikap, baik intra maupun ekstra kampus.

Sebagaimana yang kita ketahui, civitas akademika meliputi mahasiswa, para dosen, rektor, dan lain-lain. Mereka saling bersinergi satu sama lain dalam lingkup Perguruaan tinggi untuk menjalankan aturan-aturan yang ada. Sebab, aturan tersebut mengandung nilai-nilai etika yang telah dikaji dan disetujui sebelum aturan dibuat, sehingga relevan dengan para civitas akademika.

Setiap Perguruan Tinggi mempunyai corak etika yang berbeda-beda. Ketidaksaman dalam etika didasarkan pada kebutuhan civitas akademika itu sendiri. Daerah, ras, suku bangsa, dan agama juga menjadi indikator dari keanekaragaman corak etika. Antara Perguruan Tinggi yang negeri dan swasta saja berbeda, apalagi yang universal dengan yang langsung bertitle agama.

Baca Juga  Puasa Bertemu Nabi

Agama di sini mempunyai sumbangsih yaang besar dalam penyusunan sistematika etika, misal Perguruan Tinggi Islam. Etika yang diberlakukan, tentu akan lebih condong kepada pengaplikasian tentang nilai-nilai Keislaman, pendalaman Ketuhanan, dan berhubungan dengan masyarakat, meskipun apabila ditelisik lebih dalam, inti etika itu sama yaitu menata diri agar lebih baik. Perguruan Tinggi Islam mengusung falsafah etika yang dapat disebut dengan “Tri Etika Kampus”. Etika tersebut berisi tentang tiga dasar etika yang sangat erat kaitannya dengan pedoman umat Islam, yakni al-Qur’an dan as-Sunnah. Tri Etika Kampus mengatur bagaimana seharusnya civitas akademika bersikap, bukan hanya dalam wilayah kampus, melainkan lebih luas lagi.

Tri Etika Kampus Islam terdiri atas tiga aspek, yaitu ilmiah, ukhuwah dan dinniyah, Masing-masing aspek mempunyai frekuensi urgensi yang sama pentingnya. Namun, pada zaman digital seperti sekarang ini, banyak nilai-nilai Tri Etika Kampus yang seolah pudar oleh lekangnya zaman. Teknologi yang semakin berkembang pesat, gaya hidup yang mulai mengarah pada hedonisme, kemudahan dalam beraktivitas malah membuat kaum civitas akademika terutama mahasiswa terjebak oleh ilusi kesenangan semu.

Tri Etika Kampus yang seharusnya dijalankan dan dilestarikan, nampak sekadar formalitas belaka. Ketiga nilai dalam Tri Etika Kampus mengalami degradasi karena para civitas akademika sendiri yang tidak mengindahkan etika tersebut. Contoh saja mahasiswa yang pada masa sekarang yang kebanyakan semakin menjadi-jadi. Perilaku yang mereka perbuat tidak menunjukkan Tri Etika Kampus Islam yang penuh dengan nilai keislaman.

Baca Juga  Generasi Milenial yang Progresif

Katakanlah mojok berpacaran, demonstrasi yang berbuah anarki, demoralisasi terhadap mahasiswa lain bahkan berani terhadap para dosen dan lain-lain, menunjukkan bahwa etika mahasiswa mengalami degradasi yang menuju pada jurang kebebasan. Tidak ayal apabila pada zaman sekarang, Tri Etika Kampus di Perguruan Tinggi Islam hanya menjadi utopia belaka tanpa ada usaha untuk mengindahkannya. Padahal sejatinya, Tri Etika Kampus ada agar mahasiswa menjadi insan yang baik dan mampu menempatkan diri, serta sukses dan bisa memberikan kontribusi dan manfaat pada bangsa dan Negara. Wallahu a’lam bi al-shawaab

Wahyuni Tri Ernawati
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang

    Lentera Setelah Duka

    Previous article

    Bangkitlah, Kartini Masa Kini!

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Gagasan