Dakwah, secara bahasa, berasal dari kata Da’a-Yad’u yang berarti mengajak, menyeru, dan mengundang. Adapun secara istilah, dakwah adalah mengajak atau menyeru manusia untuk menuju jalan kebaikan atau biasa kita sebut kegiatan amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam surah At-Taubah ayat Allah SWT berfirman; “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS At-Taubah [9] : 71)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam kewajiban berdakwah. Keduanya sama-sama memiliki peran untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah pada hal-hal yang mungkar. Jadi perempuan muslimah juga memiliki tangung jawab atas gerakan dakwah Islam.

Dakwah sering dikaitkan dengan berbicara di atas mimbar, memberikan ceramah di forum-forum umum, yang notabena berada di luar rumah, seperti majlis ta’lim, pengaajian, dan sejenisnya. Belum dikatakan berdakwah jika belum ceramah keluar rumah, terutama bagi kaum muslimah. Sehingga terdapat anggapan bahwa seorang muslimah yang hanya diam di rumah dan tidak berceramah keluar rumah belum disebut berdakwah.

Padahal, seorang muslimah yang mendidik anaknya membaca Al-Qur’an, mengurus rumah tangga dan hal lain yang bermanfaat, adalah sebuah kerja dakwah. Karena mendidik anak bukanlah permasalahan sepele tetapi bahkan hal sangat berguna bagi tugas dakwah islam kedepan, yaitu mempersiapkan kader-kader Islam kedepan yang lebih baik. Hal itu juga merupakan suatu kerja dakwah yang tidak boleh disepelekan nilainya.

Sejak Islam datang, perempuan dalam sejarahnnya mempunyai peranan penting dalam penyebaran dakwah islam. Khadijah merupakan perempuan pertama yang menerima dakwah dari Rasulullah saw. Kedudukan dan kekayaan Khadijah sangat sangat bermanfaat untuk syiar Islam. Beliau rela mencurahkan seluruh hartanya untuk membantu penyebaran dakwah Rasulullah.

Baca Juga  Reaktualisasi Spirit Juang Kartini di Zaman Digitalisasi

Selain Khadijah, ada juga Aisyah yang terkenal dengan cerdas dan luas ilmunya. Di usianya yang masih muda Aisyah sudah banyak mewarisi keilmuan dari Nabi. Aisyah banyak berkontribusi dalm keilmuan islam dan menguasai berabagai ilmu diantaranya ilmu Al-Quran, fiqh, hadis, dan syair arab. Berbekal ilmu pengetahuan itu ia sering menjadi tempat untuk menanyakan berbagai persoalan Islam.

Peran perempuan dalam masyarakat dan agama sangat besar, dimulai dari lingkungan kelurga hingga lingkungan masyarakat pada umumnya. Kehadiran perempuan tidak bisa dinafikkan untuk kebaikan umat dan generasi penerus bangsa.

Kiprah perempuan dalam berdakwah saat sangat dibutuhkan. Dalam surah Ali Imran telah dijelaskan bahwa kualitas umat Islam terletak pada aspek keimana dan aspek dalam dunia dakwah, dalam menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Seorang muslimah yang mendidik anaknya membaca Al-Qur’an, mengurus rumah tangga dan hal lain yang bermanfaat, adalah sebuah kerja dakwah.

Dalam penanaman keimanan dan aktivitas dakwah, perempuan memiliki peran yang pertama dan utama dalam membentuk generasi dan membangun peradaban. Sebagaimana yang dibuktikan Hajar, Ibu Nabi Ismail As. dalam mendidik anak sehingga mampu menjadi hamba Allah yang sabar ketika menerima perintah untuk disembelih.

Lingkup Dakwah Perempuan

Lingkup dakwah perempuan yang pertama yaitu ada dalam diri sendiri. Dimulai dengan cara memperbaiki dan meluruskan diri untk menjadi uswah dan qudwah. Dimana keutamaan dan kemuliaan seorang perempuan dilihat dari segi ketaatannya kepada Allah swt, kesabaran dalam menjaga dan memelihara kehormatan dan keimanan.

Sebagai seorang muslimah sudah menjadi kewajiban perempuan untuk menyadari pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan sebagai bekal masa depan yang kelak akan menjadi istri dan ibu bagi anak-anaknya. Dengan berbekal hal tersebut secara tidak langsung akan memacu adrenalain perempuan untuk terus giat belajar, mengajar dan berdakwah sesuai dengan tabi’atnya.

Baca Juga  Pacu Perempuan Berpolitik

Bagian yang kedua yaitu lingkup dakwah perempuan dalam keluarga. Perempuan merupakan ibu peradaban yang akan mencetak generasi bangsa, guru para pejuang, dan penghantar umat ke tempat kembali yang mulia dengan cara mendidik anak-anak membaca Al-Qur’an, menanamkan akidah dan ahlak mulia, mengurus rumah tangga dan hal bermanfaat lainnya.

Hal itu sebenarnya  merupakan esesnsi kerja dakwah. Mendidik anak bukanlah masalah yang sepele, tetapi merupakan hal yang sangat berguna bagi dakwah Islam di masa depan, yaitu mempersiapkan generasi Islam yang lebih baik. Sebagaimana yang disampaikan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib, “Ajarilah anak-anakmu, karena sesungguhnya mereka tercipta untuk suatu zaman yang berbeda dengan zamanmu.”

Ibnu Jarir pernah berkata; “Wajib bagi kita mengajarkan anak-anak kita tentang agama dan kebaikan, beserta perkara adab yang dibutuhkannya”. (Fathul Qadir V/302)

Hadits di atas menunjukan bahwa seorang perempuan sebagai seorang ibu memikul tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anak yang merupakan amanah Allah sekaligus ujian kepada pasangan suami istri. Dalam hal ini, seorang ibu memainkan peranan yang signifikan dalam menanamkan ruh iman dan menunjukan jalan kebenaran yang hakiki untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

Lingkup dakwah perempun yang terakhir yaitu dalam lingkup masyarakat.di samping perananaya dalam keluarga, perempuan juga memiliki peranan yang cukup penting dalam dunia masyarakat dan Negara. Jika ia seorang yang ahli dalam ilmu agama, maka wajib baginya untuk mendakwahkan apa yang ia ketahui kepada kaum perempuan lainnya. Begitu pula jika ia seorang ahli dalam bidang tertentu, maka ia mempunyai andil dalam urusan tersebut. Namun tentu dengan batasan-batasan yang telah di syariatkan.

Baca Juga  Si Kerudung Panjang Hijau Tua

Kendati begitu, peran perempuan dalam berdakwah di masyarakat tidak seharusnya menjauhkan dirinya dari fitrah penciptaamya sebagai seorang perempuan yang memiliki tugas utama di rumah (keluarga).Banyak perempuanmuslim yang membutuhkan bimbingan dan pendidikan akan tugas dan fungsinya sebagai hamba Allah, sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, dibutuhkan murabbi (pembina) perempuan yang mumpuni untuk dapat berperan dalam membimbing saudara seimannya

Di zaman yang serba mengandalkan teknologi ini banyak kegiatan dakwah yang dapat dilakukan oleh para perempuan tanpa menghilangkan fitrahnya,misalnya berdakwah dengan melalui tulisan. Menulis adalah salah satu cara dakwah paling tepat dan penting bagi perempuan. Kita dapat melakukannya kapan saja dan dimana saja termasuk menulis di rumah.

Dengan demikian, kaum perempuan mampu memanfaatkan waktu luang mereka secara positif, dan tentunya dengan cara ini mereka dapat menjangkau semua kalangan masyarakat. Selain dengan cara menulis, peran dakwah perempuan pun dibutuhkan dengan cara lisan. Terbukti, dengan tumbuh suburnya majelis taklim di kalangan masyarakat luas, menuntut peran perempuan yang memiliki ilmu agama dan kemampuan dalam komunkasi untuk berdakwah.

Dakwah merupakan aktivitas yang wajib dilakukan oleh setiap umat Islam, tidak terkecuali perempuan.Esensi dari dakwah adalah menyampaikan kebaikan dengan amar makruf nahi mungkar.Perempuan adalah salah satu benteng dari benteng-benteng Islam yang tidak boleh dirongrong apalagi dirusak. Di pundak mereka ada tanggung jawab besar untuk melindungi, mendidik, dan menjaga umat dari berbagai kerusakan yang menyesatkan

Rasulullah Saw. bersabda : “Wanita adalah tiang negara. Apabila baik wanitanya, maka baik negaranya, dan apabila rusak wanitanya, maka rusak negaranya.”

“Dunia adalah perhiasan, sebaik-baik perhiasan adalah wanita salehah”.

Wallahu’alam bisshawab.

Laili Nuzuli Annur
Direktur Eksekutif School of Gender and Political Islam (SGPI) Jawa Tengah, Wakil Direktur Bidang Perempuan dan Demokrasi di Center for Democracy and Relgious Studies (CDRS), Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Dakwah Walisongo Semarang 2018-2019.

Isi Liburan Sekolah, Monash Institute Buka Qur’anic Habit Camp

Previous article

Kebanggaan Kepada Kebangsaan Indonesia

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Perempuan