Turki dan Pendidikan Islam untuk Masa Depan

Pendidikan merupakan salah satu hal yang wajib untuk diindahkan. Pasalnya, pendidikan merupakan salah satu tonggak dalam mencapai kemakmuran. Pendidikan yang memadai dan tersalurkan akan membuat kualitas suatu negara menjadi lebih tinggi. Hal ini dibuktikan oleh berbagai pendapat ahli tentang urgensi pendidikan bagi negara.

Dilansir dari Kompas.com, Daoed Yusuf, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pernah mengatakan bahwa pendidikan merupakan kunci bagi kemajuan bangsa. Tidak akan ada bangsa yang maju jika tidak didukung pendidikan yang kuat.

Oleh karena itu, demi menunjang kualitas pendidikan, pemerintah seringkali mengambil langkah guna mempermudah pendidikan, misalnya dengan beasiswa, pendidikan gratis, dan lain sebagainya. Dengan pendidikan, diharapakan negara akan maju dan tidak terkungkung lagi dalam mengakses kemajuan.

Menurut CIA WORLD Factbook, Turki merupakan salah satu negara maju di dunia. Adapun di bidang pendidikan, Turki merupakan negara yang sangat memperhatikan kualitas pendidikan. Hal ini terbukti sengan adanya kewajiban bersekolah dari usia 6-14 tahun yang dikontrol oleh negara dengan menggratiskan pendidikan. Selain itu, Turki juga menjalin kerja sama dengan negara luar negeri dengan memberikan layanan pendidikan.

Bacaan Lainnya

Namun, beberapa tahun terakhir, Turki dilibatkan oleh masalah kualitas pendidikan yang terjadi karena kebijakan Presiden Erdogan untuk melakukan islamisasi pendidikan Turki yang sebelumnya sempat sekuler sejak masa Mustafa Kemal Attaturk.

Pendidikan Islam atau Sekolah Imam Hatib diklaim sebagai pendidikan yang membuat kualitas penguasaan sains menurun. Hal ini terlihat ketika para peserta didik banyak yang tidak lolos masuk perguruan tinggi karena adanya konsentrasi pembelajaran keagamaan.

Berdasarkan kasus tersebut, lantas, apakah yang kiranya harus kita lakukan? Apakah benar jika pendidikan keagamaan telah membuat lemah pendidikan berbasis riset?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab jika kita melakukan flashback di masa lampau, yakni ketika Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusyd (Averroes), Ibnu Khaldun, dan lain sebagainya menjadi ahli di berbagai bidang.

Para ilmuwan tersebut merupakan bukti bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan adalah satu. Ilmu terasa tidak lengkap jika ilmu pengetahuan keduniaan tanpa ada bumbu-bumbu Islam. Selain itu, tinjauan terhadap ayat-ayat kauniyah yang dapat dikaji secara lebih mendalam membuat Islam dan ilmu pengetahuan semakin tak boleh terpisahkan. Ada banyak sekali ayat sains yang dapat dikaji dalam rangka menguak sisi tingginya pengetahuan Islam.

Jika Turki disibukkan oleh lemahnya pendidikan akibat pembelajaran agama secara intensif setelah adanya sekulerisasi di masa-masa sebelumnya, maka hal itu dipandang wajar karena adanya “culture shock” yang masih perlu proses untuk menyatukan antara agama dan sains.
Jika tidak ada lagi dikotomi pengetahuan, maka Islam sebagai agama yang kaffah dapat menjadi patokan bagi seluruh dunia tanpa terlalu sibuk berdebat mengenai hal-hal furu’iyah yang memicu kepada pertentangan bahkan saing memusuhi dan bahkan memaki antarsesama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *