The Dangers of Procrastination

Di negeri tercinta ini tidak sedikit kita jumpai kegagalan seseorang dalam menempuh karier. Kegagalan dalam berkarier sangat merugikan banyak pihak, tidak hanya merugikan individu saja. Namun juga kemajuan bangsa menjadi terhambat. Dikarenakan SDM-SDM yang seharusnya membantu mengurus bangsa, malah menjadi “beban bangsa.” Hal tersebut dapat diindikasikan dengan adanya fakta pengangguran. Sungguh kondisi yang memprihatinkan. Dan itu terjadi pada siapa saja, tidak mengenal batas usia dan status. Sebenarnya, Penyebab kegagalan karier bukan hanya karena problematika pengetahuan, skill, gelar, ataupun kecerdasan. Salah satu yang luput dari kita bahwa penyebab kegagalan karier dikarenakan adanya prokrastinasi.

Bahkan kalo dalam penelitian disebutkan 95% pernah melakukan prokrastinasi dengan frekuensi kadang kala, sedangkan 15-20% konsisten melakukan prokrastinasi. Dari sini bisa kita lihat bahwa prokrastinasi itu bukan masalah kecil, dan ini perlu digaris bawahi untuk serius dalam menanganinya. Misalnya, seorang Zaid diberi tugas kuliah oleh Dosen Kampus, dengan batas pengumpulan dua hari pada jam 18.00 Zaid yang memiliki moral prokrastinasi tidak segera mungkin melaksanakan tugasnya agar selesai. Zaid berpikir untuk menunda pekerjaan di lain waktu, yaitu mengerjakan di hari kedua saat pagi hari. Zaid  seolah yakin dan mampu menyelesaikan di hari tersebut. Tiba pada suatu saat mengerjakan, Zaid memfokuskan diri di hari itu untuk menyelesaikan pekerjaan. Namun Zaid mengerjakan dengan perasaan penuh gelisah, dikarenakan dikejar waktu. Pada titik tertentu Zaid mengalami stres karena pada kenyataannya waktu yang dimiliki untuk menyelesaikan pekerjaan tidak mencukupi. Akhirnya dengan terpaksa Zaid menyudahi pekerjaan, mengerjakan apa adanya dan pengerjaan yang Zaid lakukan tidaklah maksimal.

“Iya nanti sajalah,” demikianlah yang dikatakan Zaid dalam menunda-nunda pekerjaan padahal masih bisa dilakukan sekarang. Jangan-jangan kebiasaan kita seperti Zaid? Karena rasa malas, menunda-nunda untuk belajar, menunda-nunda untuk muroja’ah (mengulang) hafalan qur’an atau melakukan hal yang manfaat lainnya, padahal itu semua masih amat mungkin dilakukan. Perlu kita ketahui teman-teman kalo kata Ibnul Qayyim “Bahwa menunda-nunda kebaikan dan sekedar berangan-angan tanpa realisasi itu adalah dasar dari kekayaan orang-orang yang bangkrut.” Begitupun Al Hasan al Bashri juga berkata,”Hati-hati dengan sikap menunda-nunda. Engkau sekarang berada di hari ini dan bukan berada di hari besok. Jika besok tiba, engkau berada di hari tersebut dan sekarang engkau masih berada di hari ini. Jika besok tidak menghampirimu, maka janganlah engkau sesali atas apa yang luput darimu di hari ini.”

Sikap itulah yang dilakukan oleh kita selaku penuntut ilmu. Besok sajalah baru membuat hafalan, besok sajalah baru mengulang hafalan, Besok sajalah baru menulis Novel. Yang dikatakan adalah besok dan besok, nanti dan nanti sajalah. Jika memang ada kesibukan lain dan itu juga kebaikan, maka sungguh hari-hari Zaid sibuk dengan kebaikan. Tidak masalah jika ia menset waktu dan membuat urutan manakah yang prioritas yang ia lakukan karena ia bisa menilai manakah yang lebih urgent. Namun bagaimanakah jika masih banyak waktu, benar-benar ada waktu senggang dan luang untuk membuat Hafalan Qur’an, muroja’ah, menulis hal manfaat, melaksanakan ibadah lantas ia menundanya. Ini jelas adalah sikap menunda-nunda waktu yang kata Ibnul Qayyim termasuk harta dari orang-orang yang bangkrut. Yang ia raih adalah kerugian dan kerugian. Ingatlah nasehat Imam Asy Syafi’i  di mana beliau mendapat nasehat ini dari seorang sufi “Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. (Di antaranya), dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.” Adapun Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan waktu kita dengan hal yang bermanfaat dan menjauhkan kita dari sikap menunda-nunda. Waallahu a’lam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *