PENTINGNYA PENDIDIKAN SEKS SEJAK DINI DI LINGKUNGAN KELUARGA

Pendidikan seks sangat penting diajarkan kepada anak sedini mungkin. Sampai hari ini, pendidikan seks masih menjadi pro kontra dan masalah di kalangan masyarakat. Sebagian dari masyarakat masih menganggap pendidikan seks tersebut merupakan hal yang tabu dan tidak layak untuk dipersoalkan, bahkan diurus dimuka hukum. Sementara, baru sebagain kecilnya yang menganggap bahwa pendidikan seks perlu untuk diajarkan kepada anak sejak dini agar dalam perkembangan menuju dewasa, anak mengetahui apa yang seharusnya dilakukan terkait dengan seks.
Anak perlu mengetahui organ-organ vital yang ia miliki, fungsinya, dan dampak atau pengaruh apabila organ-organ vitalnya tersebut disentuh oleh sembarang. Orang tua dalam mengenalkan bagian-bagian tubuh atau anatomi tubuh kepada anak tidaklah harus menunggu anak tersebut dewasa atau minimal remaja. Hal ini karean diusia anak-anak balita bahkan batita yang merupakan usia emas atau yang sering disebut dengan golden age, anak memiliki tingkat rasa penasaran yang tinggi. Anak akan bertanya perihal yang ada di lingkungan sekitar yang dilihatnya. Maka dari itu, orang tua harus mulai mengenalkan nama-nama dari organ vital yang anak-anak tersebut miliki sesuai dengan jenis kelamin sang anak. Namun, yang terjadi dimasyarakat adalah sebaliknya.
Para orang tua cenderung malu, bingung, bahkan tidak tahu caranya mengenalkan atau membuat paham anak-anak mereka tentang organ-organ vital, dan menganggapnya adalah sebuah hal yang tabu, belum cukup umur untuk dikenalkan kepada anak. Kalaupun sudah mulai diberitahu namun tidak sesuai dengan namamanya, sehingga menjadi hal yang tidak rasional.
Penamaan terhadap alat vital tersebut dari desa sampai dengan perkotaan beranekaragam namanya. Mulai dari dari penyebutan burung, tempe, nunuk, totong dan lain sebagainya pada lat kelamin laki-laki dan perempuan. Tanpa disadari, hal ini membuat anak bingung dan malu untuk mendefinisiskan atau menyebut nama dari alat kelaminnya. Padahal sudah jelas dan ilmiah bahwa alat kelamin dari perempuan adalah vagian, sedangkan alat kelamin dari laki-lakim adalah penis. Namun, hal ini cenderung hanya dikenalkan oleh orang tua yang terdidik dan yang lainnya masih menggunakan beraneka ragam nama yang tidak rasional.
Selain itu, pembiaran atau penggapan wajaran terhadap anak kecil yang membuang hajat di depan rumah atau di tempat umum oleh orang tua menjadikan anak berpola pikir biasa saja apabila alat vitalnya dilihat oleh orang banyak. Padahal, itu adalah tidak benar adanya dan menjadikan anak terbiasa mempertontonkan alat kelaminnya tersebut dimanapun ia berada. Lebih parahnya lagi, orang tua tidak menyadari dan menggap hal tersesbut merupakan sesuatu yang biasa saja pula dengan dalih bahwa anaknya masing kecil.
Apabila hal tersebut terus saja terjadi dan terpelihara dilingkungan keluarga, bahkan masyarakat, dari generasi ke generasi maka rawan untuk terjadi pelecehan seksual yang tinggi di masa mendatang. Banyak kasus pelecehanan seksual yang terjadi di negeri ini, akan tetapi si korban tidak sadar bahwa ia sedang atau telah mengalami kekerasan seksual, sementara si pelaku terus mencari mangsa-mangsa baru untuk melampiaskan aksi bejatnya. Maka, dalam hal ini orang tua harus mengambil peran yang lebih besar untuk melaksanakan pendidikan seks di lingkungan keluarga.
Adapun yang dimaksud dengan pendidikan seks menurut Ulwa dan Amiruddin dalam Bachtiar dan Nuryati (2020) yang dimaksud dengan pendidikan seks yaitu sebuah proses yang mengajarkan, menjabarkan serta menjelaskan pengetahuan tentang seks beserta problematikanya yang terjadi kepada anak sedini untuk kehidupan yang lebih baik kedepannya. secara sederhana pendidikan seks adalah usaha untuk mengenalkan, mengajarkan, membuat paham anak sejak dini tentang masalah-masalah seksual.
Pendidikan seks di lingkungan keluarga dapat dimulai saat anak usia tiga tahun dengan mengenalkan bagian-bagain dari tubuh manusia. Lalu, diajarkan sejak dini kalau anak hendak membuang hajar harus di tempat yang tertutup atau wc dan jangan sampai ada yang tahu atau terlihat oleh sembarang orang. Anak diberikan pengertian bahwa tidak boleh ada yang menyentuh selain dirinya atau orang-orang tertentu.
Kemudian, mulai anak dikenalkan dengan fungsi dari setiap organ tubuhnya terkuhsus pada organ vital, cara merawatnya serta bahaya-bahayanya apabila terjadi hal-hal yang buruk dari segi kesehatan dan agama. Selanjutnya, ketika anak sudah memasuki sekolah dasar yang mana ia akan berinteraksi dengan lebih banyak temannya yang berbeda jenis tentang pergaulan lawan jenis dan percintaan. Sehingga ketika ia mengalami masa pubertas yang tingkat ketertarikan terhadap lawan jenis tinggi ia sudah paham batas-batas dalam mengatasi timbulnya perasaan suka terhadap lawan jenisnya.
Selain itu, dibentuknya sikap saling percaya dan terbuka kepada keluarga terdekat tentang hal-hal baru yang ia temui atau rasakan ketika setelah beradapan dengan orang luar. Buat lingkungan yang nyaman dan aman sehingga anak-anak lebih terbuka ketika ia merasakan sesuatu yang berbeda atau baru yang dialaminya. Jangan sampai anak lebih percaya kepada teman, google, atau bacaan-bacaan yang tidak jelas sumbernya tentang pendidikan seks ini, karena akan lebih berbahaya dengan adanya kebebasan dan kemudahan informasi saat ini.
Oleh karena itu, diharapkan bagai para calon orang tua, para orang tua agar memberikan pendidikan seks sedini mungkin di lingkungan keluarga. Generasi muda adalah generasi harapan bangsa, jangan sampai rusak karena ketidakpahaman terhadap pergaulan dan pengetahuan tentang seks, karena seks ini merupakan yang suatu hal yang krusial dan kerap kali membuat orang terjebak, terdiam, dan hilang dari dunia ini karena tidakpahaman sejak dini.
Waullohua’lam bishowab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *