Sebuah refleksi kerinduan anak pelosok pada buku di hari buku anak sedunia*
Dua pekan terakhir, dunia pendidikan Indonesia mengalami perubahan sistim belajar dikarenakan adanya pandemik Covid-19. Kegiatan belajar mengajar (KBM) yang biasanya dilakukan face to face diganti via online. Sistim ini diberlakukan untuk seluruh tingkatan pendidikan di Indonesia tanpa terkecuali. Belajar online biasa dilakukan melalui berbagai aplikasi yang dirasa memudahkan di antaranya; aplikasi zoom, google classrom, kulwap, , WAG, dll. Sistim ini mungkin bisa dijalankan oleh lembaga pendidikan yang memiliki akses memadai terhadap IT dan internet. Namun, apa kabar anak pelosok yang juga terkena kebijakan belajar online?
Melalui mata tertutup, semua orang mengetahui bagaimana fasilitas yang dimiliki oleh sekolah yang berada di pelosok negeri. Gedung dengan dinding kayu berlubang, bahkan adanya yang tidak memiliki dinding, tenaga pengajar yang minim, sarana yang kurang memadai, dan yang paling menyedihkan adalah langkanya buku yang tersedia. Baik buku cerita untuk anak-anak sampai buku paket, semuanya sulit di jangkau oleh mereka yang berada di pelosok. Buku serasa menjadi barang “mewah” dan sangat “istimewa” bagi mereka.
Saat ini, buku dengan mudah dapat diakses oleh siapapun. Berbeda halnya ketika tahun 1980-an dimana pada tahun tersebut, buku dicurigai sebagai alat untuk menyebarkan pemahaman serta pemikiran yang salah sehinga aksesnya dipersulit dengan alasan dan tujuan apapun. Kemudahan yang sekarang ada ternyata terjadi tidak merata. Di era 4.0 yang bahkan sudah memasuki 5.0 anak pada umumnya dapat mengakses buku melalui internet, sedangkan anak pelosok masih belum mengenal signal 4G. Mereka yang berada di pelosok masih belum dapat merenguk manisnya akses terhadap buku, belum bisa “mengintip dunia”.
Hal tersebut melatar belakangi munculnya mereka-mereka yang terpanggil hatinya untuk melakukan gerakan kemanusiaan berupa penyaluran buku untuk anak pelosok. Mulai dari perseorangan sampai komunitas, semuanya bertujuan mengenalkan anak pelosok pada buku. Kegiatan tersebut dilakukan guna menumbuhkan budaya literasi yang masih rendah di kalangan anak pelosok. Bayangkan saja, anak-anak yang dengan mudah dapat mengakses buku saja presentase minat bacanya masih sangat rendah, lalu apa kabar anak pelosok yang kesulitan mengakses buku?.
Selain melakukan pengiriman buku, terdapat beberapa komunitas dan tokoh yang menghidupkan budaya literasi untuk anak pelosok negeri. Sarinah di antaranya, ketua gerakan one day one book. Selain itu, banyak komunitas literasi yang memasuki kawasan pelosok demi menawarkan mewahnya buku untuk anak-anak. komunitas-komunitas tersebut tidak hanya menyalurkan buku-buku, akan tetapi juga melakukan edukasi mengenai literasi yang jarang diketahui anak-anak pelosok. Kenyataan tersebut seolah mengatakan bahwa, jembatan antara buku dengan anak di pelosok negeri bukanlah pemerintah yang memiliki kewajiban, akan tetapi para relawan yang berhati budiman.
Gerakan-gerakan tersebut seharusnya mendapatkan dukungan yang baik serta apresiasi dari pemerintah. Kebijakan yang dikeluarkan seharusnya lebih tanggap dan konkrit. Sayangnya, pada tahun 2019 dikeluarkan surat edaran kepala badan pengembangan dan pembinaan bahasa nomor 0009/G/BS/2019 tentang program pengiriman buku dan pelaksanaan gerakan literasi nasional yang justru mempersulit proses distribusi. Hal ini tentunya bertentanga dengan UUD 1945 alinea keempat dengan penggalan berbunyi “mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Hari buku anak sedunia harusnya tidak hanya dilewati melalui perayaan-perayaan formal saja. Akan tetapi, harus ada upaya-upaya konkrit dengan langkah tepat yang dilakukan bersama antara pemerintah dan komitas-komunitas literasi dalam membebaskan anak-anak pelosok dari belenggu minimnya akses terhadap buku. Anggapan bahwa buku adalah barang yang “mewah” harus sesegera mungkin dihilangkan dari pikiran tiap anak-anak pelosok yang tentunya juga dibarengi dengan memperkuat budaya literasi bagi mereka.
Perlu digaris bawahi serta dilakukan evaluasi, jangan sampai ketika buku yang tadinya dianggap sebagai barang “mewah” menjadi seonggok kertas yang cukup dengan dipandangi sekelebat mata ketika sudah bertambah dan mudah untuk diakses. Budaya literasi anak pelosok negeri harus mengalami peningkatan yang signifikan agar upaya-upaya penyaluran buku ke daerah pelosok tidak berakhir dengan helaan napas yang panjang disertai kekecewaan oleh hati-hati budiman yang suda rela menyalurkan tangan.
Mari bersama membuka buku!!!





