Sekolah Jalanan

Oleh: Muhammad Aufal Fresky*)

 

Keriuhan suasana dapur redaksi Kabar Madura masih teringat jelas dalam alam pikiran saya. Saat menjadi Redaktur/Editor harian tersebut, banyak hal yang saya gali dan pelajari. Bukan sekadar mengasah dan mempertajam kemampuan di bidang jurnalistik.

Lebih dari itu, saya menimba ilmu dengan senior-senior di dalamnya. Khususnya yang menjadi rekan sekantor saya saat itu. Di antara beberapa redaktur senior, salah satunya yaitu Khoirul Umam. Saya biasa memanggilnya Mas Irul.

Kiprah dan pengalamannya di dunia tulis menulis tak usah diragukan lagi. Bahkan sebelum di berkarir di Harian Kabar Madura, Mas Irul sudah malang melintang sebagai wartawan Radar Madura. Usut punya usut, memang Mas Irul sejak kuliah cukup aktif di dunia organisasi.

Di antara organiasi yang digelutinya yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII. Proses di organisasi tersbebut yang membuatnya cukp mahir berkomunikasi dan menjalani hubungan dengan siapa saja. Termasuk dengan saya sebagai rekan kerja sekaligus juniornya. Banyak hal yang saya ambil dari diskusi atau oborolan hangat dengannya. Baik di dalam dapur redaksi atau di luarnya.

Salah satu pelajaran yang saya petik dari beberapa oborolan dengannya yaitu mengenai sekolah jalanan (SJ). Dia sering mengemukakan istilah “SJ” di tengah canda tawa di dapur redaksi. SJ sering kali dimaknai banyak hal olehnya. Mulai dari santri jalanan, sajadah jalanan, sekolah jalanan, dan lain sebagainya.

Kebetulan, dia juga aktif sebagai salah satu tenaga pengajar di salah satu universitas di Pamekasan dan sekaligus ketua komunitas Master Max, yaitu komunitas sepeda motor N-Max yang sepengatahuan saya, kegiatannya juga merambah bidang sosial dan pendidikan.

Tentu, itu semua tak lepas dari tangan dingin Mas Irul sebagai inisator dan konseptor yang menggagas banyak gebrakan dan terobosan di dalamnya. Dalam catatan ini, saya akan mencoba lebih fokus lagi menguraikan konsep Sekolah Jalanan yang kerap kali diperbincangankan oleh Mas Irul.

Hemat saya, apa yang disampaikan Mas Irul mengenai Sekolah Jalanan itu mengandung artian bahwa proses seseorang dalam menimba ilmu tidak cukup di ruang-ruang kelas. Bangku sekolah/kuliah terlalu kecil dan sempit untuk mempelajari banyak hal di kehidupan ini. Apalagi, ilmu yang kita pelajari selama ini, baik di lingkungan formal maupun informal, sejak SD sampai kuliah, itu masih teramat sedikit dan terbatas.

Banyak hal yang tidak kita ketahui. Banyak hal di kehidupan ini yang belum kita mengerti dan pahami. Lagian, proses belajar itu sejatinya adalah proses sepanjang hayat, terus menerus tiada henti. Ujungnya adalah ketika malaikat maut mulai menjemput kita, alias ketika ajal kita telah tiba. Siapa pun bisa menjadi guru bagi kita. Di mana pun, kita bisa belajar. Setiap titik bisa menjadi ruang kelas.

Kehidupan ini menjadi sekolah/universitas bagi kita. Bahkan, kepada dedaunan, gemercik suara sungai, rumput-rumput yang bergoyang, sinar matahari di pagi hari, dan kicauan burung-burung, kita bisa belajar. Artinya, setiap makhluk Allah di muka bumi ini bisa menjadi guru bagi kita. Dengan bertafakkur atau merenungi kebesaran dan kekuasaan Allah, kita bisa mengakses ilmu dan pengetahuan yang lebih luas dan dalam lagi.

Sebuah ilmu dan pelajaran yang kadang tidak pernah kita peroleh dari guru/dosen kita. Maka dari itu, salah kaprah jika kita beranggapan wisuda di jenjang sarjana, magister, atau doktor sekalipun, sebagai akhir dari proses pencarian ilmu kita. Gelar dan ijazah hanya sebagai penanda bahwa kita pernah studi di sekolah/kampus tertentu.

Sebagai bukti nyata kita pernah terdaftar sebagai mahasiswa di perguruan tinggi tertentu. Tetapi, sekali lagi, itu bukan jaminan bahwa kita bakalan menjadi pribadi yang benar-benar haus ilmu dan pengetahuan.

Bisa jadi gelar yang kita dapatkan itu menjadi tirai penghalang yang justru menghambat proses kita mencari ilmu yang lebih luas, dalam, dan beragam. Dalam hal ini, saya sangat setuju dengan konsep Sekolah Jalanan yang dicetuskan Mas Irul. Yaitu agar kita selalu menjadi manusia-manusa pengembara yang tidak pernah puas dengan ilmu yang dimiliki. Bahkan, kita bisa menjumpai banyak hal-hal baru dan menakjubkan di setiap tempat yang kita jelajahi. Seperti halnya di warung kopi (warkop), pasar, jalanan, terminal, bandara, stasiun, dan semacamnya.

Sekolah Jalanan memang tidak memiliki kurikulum yang rapi dan teratur seperti halnya sekolah-sekolah pada umumnya. Kadang dikusi dan obrolannya pun temanya tak menentu dan sangat bebas. Sekali-kali bahas agama, filsafat, ekonomi, sosial, politik, dan semacamnya.

Tentunya, obrolannya santai, hangat, dan sangat egaliter. Sebagian ada yang sembari menikmati sebatang rokok dan kopi yang diseduhnya. Hal itu bisa kita saksikan ketika beragam komunitas berkumpul di sekitar alun-alun kota atau tempat lainnya. Seperti halnya d komunitas Master Max yang mana Mas Irul adalah ketua umumnya.

Sekolah Jalanan memang tidak memiliki guru dan murid tetap. Apalagi memiliki sejumlah fasilitas berupa ruang kelas, papan tulis, spidol, kursi, bangku, dan semacamnya. Sekolah jalanan ini adalah wadah di mana ketika kita berkumpul dan bercengkerama dengan orang lain dengan beragam latar belakang. Baik perjumpannya diagendakan atau secara tidak sengaja.

Sekolah jalanan menyajikan hamparan ilmu dan pengetahuan yang bisa kita petik dari setiap ucapan orang lain. Ditambah lagi, setiap orang memiliki latar belakan yang tak sama. Ada yang berprofesi sebagai guru, dosen, jurnalis pelaku UMKM, mahasiswa, pegawai swasta, PNS, dan semacamnya. Bahkan ada pula yang masih berjuang mendapatkan lapangan pekerjaan. Semuanya berkumpul di dalamnya.

Pada akhirnya, saya pribadi sebagai penulis, menegaskan kembali bahwa Sekolah Jalanan yang pernah digagas oleh Mas Irul ini perlu untuk kita renungi dan praktikkan. Kesadaran akan pentingnya berjejaring dan mengembangkan diri perlu diasah sedini mungkin. Sebab, tidak sedikit yang merasa cukup dengan kapasitas keilmuannya.

Tidak sedikit yang merasa puas dengan gelar sarjana, magister, dan doktornya. Padahal, masih ada sekolah/kampus yang lebih luas lagi. Yakni sekolah jalanan atau kampus kehidupan. Kita pun bisa menempa mentalitas dan karakter diri kita melalui sekolah jalanan.

Sebab ketika sedang berlangsung interkasi sosial tersebut, kita bisa menyerap energi positif dan menimba pengetahuan kepada sekeliling kita. Intinya, jangan pernah mengurung diri dalam lingkaran pergaualan skala kecil. Sebab, dunia ini luas.

Kehidupan ini terlalu singkat dan berharga jika dihabiskan dengan aktivitas-aktivitas yang tidak produktif. Jadi, mari paksakan diri kita untuk menjadi “Pembelajar Sepanjang Hayat”. Yakni pembelajar yang selalu haus akan ilmu. Selalu merasa bodoh. Satu lagu, selalu merasa yang diimiliki hanyalah secuil atau bahkan senoktah dibandingkan samudera ilmu yang sesungguhnya. Teruslah berproses. Jangan hentikan langkah kita. Bergeraklah. Asahlah dan kembangkan potensi kita seluas-luasnya, setinggi-tingginya, dan sedalam-dalamnya. Sekian. Terima kasih. Terutama kepada senior saya, Mas Irul. Semoga sehat-sehat selalu.

*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *