Jemari licik menggelitik menjadi dalang pertempuran
Bergerak serentak
Otak dan mata besinergi mengatur strategi
Tatapan tajam membidik sasaran
Mengancam pertahanan lawan

Hanya ada dua pilihan
Menyerang atau mati
Antar kubu saling berlogika
Kubu putih dimainkan, memandu jalannya pertempuran sengit di balik petak hitam putih
Kubu hitam mawas membaca pergerakan lawan, siap merajam
Pion saling berbaris sejajar di garda terdepan
Berjalan melata melangkahi petak demi petak

Kau tetap berarti, meski harga nyawamu dianggap seakan tak bernilai
Dikorbankan begitu saja sampai terhempas jauh di luar medan tempur
Wahai peluncur, langkahmu tak dikenal
Kau melesat diagonal melalui petak-petak sekufumu
Kuda bergerak bebas, meloncat sesuka hati

L, begitulah langkahmu dikenal
Benteng-benteng menjadi simbol pertahanan pelindung raja
Kuat, tangguh, dan ditakuti
Patih, Sang Andalan menjadi panglima perang
Sigap melaju, berpetualang sesuka hati tanpa ada sekat yang membatasi gerak langkahmu
Melesat jauh, memangsa, memporak porandakan pertahanan musuh

Raja mahkota diam tak berkutik di tempat peraduanmu
Sambil membisik perwira-perwira nan tangguh
Gunakan otak kalian, jatuhkan kekuasaan pasukan sebrang!
Ciptakan sejarah dengan kemenangan!

Oleh: Uswatun Khasanah

Baca Juga  Kutitipkan Suratku untuk Si Dia
Redaksi Baladena
Jalan Baru Membangun Bangsa Indonesia

Bicara Itu Ada Seninya

Previous article

Buah Hati?

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Puisi