Manusia, si makhluk sosial tentunya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Mereka memiliki simbiosis yang  tak penah bisa terputus sepanjang masa. Kebersamaan inilah yang membuat manusia identik dengan interaksi antar sesama setiap detiknya. Interaksi antar sesama akan terus menerus terjadi selama roda kehidupan masih berputar. Interaksi memiliki kaitan erat dengan komunikasi, karena sejatinya interaksi baru akan muncul setelah adanya komunikasi antar manusia.

Berbicara soal komunikasi, pastinya semua manusia mampu melakukannya, tak terkecuali bagi penyandang tuna wicara. Komunikasi merupakan aspek penting dalam interaksi sosial masyarakat. Komunikasi sendiri memiliki berbagai bentuk, bukan hanya berbentuk ucapan saja, gestur dan isyarat pun termasuk komunikasi. Namun, pada kesempatan kali ini penilis akan mengajak anda sekalian membahas mengenai komunikasi dalam bentuk ucapan/bicara.

Jika di bidang musik ada istilah “buta nada”, maka dalam hal komunikasi ada pula istilah “buta ucapan”. Ibarat seseorang yang bernyanyi sumbang, tidak akan pernah disebut penyanyi top saat ia meninggikan suara tenggorokannya. Maka begitu pula adanya komunikasi, semua manusia mampu melakukannya, namun tidak semua menguasai seni yang pas untuk membuat ucapannya itu terasa menarik bagi khalayak umum.

Lalu, bagaimana cara berbicara yang baik? Apakah berbicara dengan artikulasi yang jelas? Atau berbicara tanpa mengambil tarikan nafas? Tidak. Sebuah ucapan yang baik adalah yang bisa menggetarkan hati. Bukan hanya sebagai angin lalu di telinga pendengar, namun seakan-akan santapan lezat bagi setiap indra pendengaran, mampu membuat pendengarnya hanya terfokus pada segala kata yang keluar dari mulutnya. Seperti halnya ucapan seorang pembawa acara yang mampu menghidupkan susasana acara, penjual yang mampu menarik perhatian pembeli,tour guide yang mampu membuat wisatawan semakin penasaran dengan lokasi wisata, dan masih banyak lagi.

Baca Juga  Mungkinkah NU dan Muhammadiyah Bergandengan Tangan?

Masalahnya, hanya segelintir orang yang mengetahui hal tersebut. Mayoritas orang tidak mengetahui bagaimana cara berkomunikasi dengan baik. Mereka menyangka bahwa orang lain pandai berbicara karena bawaan lahir, lalu mereka akan berkata kepada diri sendiri, “Jika sejak awal tidak mahir berbicara, maka hal itu tidak akan bisa diperbaiki.”

Anggapan di atas salah besar. Pernahkah anda menonton film The King’s Speech? Dalam film tersebut kita bisa belajar banyak dari Raja George IV mengenai banyak hal termasuk komunikasi. Sebagai seorang pemimpin, memberikan pidato di depan rakyat bukan lagi hal asing, begitupula dengan Raja George IV. Namun, ia memiliki kesulitan dalam berbicara dan selalu gagap. Oleh karena itu publik tidak merespon pidatonya dengan gegap gempita. Menyadari hal itu, ia kemudia berlatih keras sehingga mampu menghilangkan kegagapannya tersebut, seni bicaranya berubah drastis hingga ia berhasil melakukan siaran pidato yang luar biasa seperti mendeklarasikan perang. Pidatonya mampu menyentuh seluruh  negeri da berperan besar menyatukan rakyat inggris.

Kemampuan bicara seseorang sebagian besar ditentukan saat masih kecil. Jadi, bukan bawaan bawaan lahir sejak dalam kandungan ibu. Sehingga, orangtua dan lingkungan sosialnya semasa kecil memiliki pengaruh yang sangat penting. Orangtua yang memberi pengaruh baik pada anaknya, akan membiasakan diri berbicara dengan baik untuk diteladani. Mereka mengajarkan dengan telaten berbagai bentuk ungkapan dan mendorong anaknya agar bia menyampaikan idenya dengan tepat. Hal itu bisa dimulai sedini mungkin, bahkan sejak anak masih balita sekalipun. Sebab, pada masa itu walaupun anak belum mampu berbicara, namun otaknya sudah mampu menangkap keadaan apa saja di sekitanya, lalu merekamnya ke dalam memori.

Baca Juga  Halusinasi Ratu Adil

Sebaliknya, orangtua yang tidak bisa berbicara dengan baik, memberi pengaruh buruk pada anaknya. Ketidakcakapan mereka dalam berbicara yang terbentuk sejak kecil menjadi batu sandungan dalam kehidupan sosial mereka. Namun, sekali lagi tidak ada orang yang terlahir mahir berbicara langsung, butuh proses yang tepat serta dukungan dari lingkungannya. Semua orang memiliki titik awal yang sma dalam berbicara. Ada yang maju lebih dulu dan ada juga yang tertinggal di belakang. Namun, jangan lpa bahwa urutan bisa berubah dengan usaha dan membuang kebiasaan bur

Naila Aulia
Aku Menulis karena pada dasarnya hidup adalah berbagi; ilmu, inspirasi, cerita, kasih dan cinta

    Kiat Sehat Saat Wabah Covid-19

    Previous article

    Sajak Catur

    Next article

    You may also like

    1 Comment

    1. Artikel yang sangat bermanfaat😊

    Ruang Diskusi

    More in Gagasan