Rihlah Salman Al-Farisi(3): Kisah Bertemu Lentera Kegelapan

Berbekal petunjuk terakhir yang ditinggalkan pendeta, Salman memiliki keinginan kuat untuk menemukan Lentera Kegelapan yang dimaksud. Pada suatu saat, kafilah dagang keluarga Kalb dari Madinah datang ke Amuriyah untuk berniaga. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Salman. Setelah bernegosiasi beberapa saat akhirnya Salman dapat membonceng keluarga Kalb untuk pergi ke Madinah. Sebagai gantinya Salman lantas memberikan kambing dan sapi yang ia miliki selama di Amuriyah sebagai ongkos perjalanan.

Namun perjalanan ini tidak semudah yang dipikirkan Salman. Ia membayangkan perjalanan ini akan lancar dan dapat segera bertemu dengan Lentera Kegelapan yang telah dijanjikan.

Di tengah perjalanan, Salman dikhianati oleh kafilah dagang keluarga Kalb. Hal ini tentu di luar ekspektasi Salman. Perjalanan yang nyaman dan bertemu dengan Lentera Kegelapan yang dijanjikan-pun pupus karena pengkhianatan yang dilakukan oleh keluarga Kalb. Ia dijual kepada seorang Yahudi ketika berada di daerah Wadi Al-Quro, sebuah oasis yang berjarak 7 mil dari kota Madinah.

Pada suatu hari, sepupu majikan Salman yang berasal dari suku Quraidhah Madinah datang berkunjung kerumah. Sepupu majikan itu tertarik kepadanya karena dia bekerja dengan tangkas dan juga cerdas. Tak sampai di situ, sepupu majikan tadi lantas membeli Salman dengan harga yang tinggi. Setelah menyelesaikan sejumlah administrasi, Salman lantas dibawa ke Madinah, tempat majikan barunya tinggal. Di saat yang bersamaan sang Lentera Kegelapan yang dijanjikan juga hijrah ke Madinah.

Salman menceritakan awal mula pertemuannya dengan Lentera kegelapan yang dijanjikan kepada Abdullah bin Abbas.

“pada suatu hari yang cerah, matahari berkilau sangat elok. Kemudian dahan-dahan kurma melambai indah seakan sedang merayuku untuk berteduh dibawahnya. Majikanku memintaku untuk merapikan buah kurma di atas pohon. Saudara tuanku datang dengan wajah merah padam seakan memandang musuh bebuyutan. Lantas ia berbicara dengan tuanku dengan logat Madinah yang kental ‘sungguh celaka keluarga Qilah, mereka berkumpul di Quba’ mengelilingi seorang laki-laki yang baru saja tiba. Ia berasal dari Masy’aril Haram tanah yang disucikan bangsa Arab dan mengaku sebagai utusan terakhir penutup zaman,’ saudara tuanku bercerita dengan menggebu-gebu,” cerita Salman.

“sontak hal tersebut membuat tubuhku bergetar hebat hingga saya hampir jatuh menimpa tuanku. Saya turun dan menemui saudara tuanku. Lantas saya bertanya kepadanya, apa yang kau katakan? Majikanku yang geram melihat saya bertanya demikian langsung marah dan memukulku dengan kuat sambil berkata, apa urusanmu? Pergi dan selesaikan pekerjaanmu sekarang juga!”

Malam harinya Salman mendatangi kediaman  di Quba’. Di sana berkumpul para sahabat orang-orang sambil mengelilingi seseorang. Orang itu berwajah teduh dengan perawakan gagah, titur katanya lembut sehingga membuat nyaman siapapun yang berada di sekitarnya. Dialah Muhammad, Lentera Kegelapan yang dijanjikan.

Kemudian Salman menyapa perkumpulan itu dan orang yang dikelilingi banyak orang itu dengan ramah mempersilakannya duduk. Hati Salman bergetar hebat laksana melihat bulan purnama persis di depan matanya. Sebelum berkunjung ke kediaman Muhammad, Salman teringat perkataan pendeta Amuriyah tentang ciri-ciri utusan yang dijanjikan. Lantas Salman memberikan makanan kepada Muhammad dan menyatakan bahwa ini adalah sedekah untuknya. Kemudian Muhammad meminta para sahabatnya untuk memakan hidangan yang telah diberikan Salman. Namun, beliau tidak ikut memakannya. Itulah tanda kenabian pertama yang dilihat oleh Salman.

Pada malam selanjutnya Salman kembali mendatangi Quba untuk menemui orang yang paling dinantikannya sepeninggal pendeta Amuriyah. Kali ini Salman membawa makanan untuk Muhammad, namun bukan sebagai sedekah seperti malam sebelumnya. Salman memberikan makanan sebagai hadiah kepada Muhammad. Kemudian beliau memakan hadiah tersebut dan meminta sahabat-sahabatnya untuk turut mencicipi hadiah yang dibawa Salman. Tanda kenabian kedua telah Salman pastikan.

Pada malam ketiga Salman datang ke Baitul Gharqad (pemakaman sahabat Nabi) karena ada sahabat Muhammad yang meninggal. Muhammad nampak hadir memimpin prosesi pemakaman di sana. Tatkala berjumpa dengan Muhammad, Salman menyapanya dengan salam khas Islam “Assalamu’alaikum”. Salman memutari Muhammad dengan maksud untuk membuktikan apakah dia benar-benar memiliki stempel kenabian di antara kedua pundaknya, sesuai perkataan pendeta Amuriyah dulu.

Muhammad akhirnya menyadari gelagat Salman. Beliau kemudian membuka pakaian yang menutupi tubuhnya. Tak butuh waktu lama, Salman menemukan stempel kenabian tersebut dan terbukti sudah kenabian Muhammad Saw.

Salman bercerita, “Tatkala saya berusaha mencari stempel kenabian yang ada pada diri Muhamad, tiba-tiba beliau membuka pakaiannya dan aku menjumpai tanda tersebut. Kemudian saya menangis dan berujar kepadanya ‘saya mengenalinya, tanda sang Lentera Kegelapan yang dijanjikan memang ada padamu’ kemudian Muhammad memintaku untuk berbalik dengan maksud agar saya dapat berbicara kepadanya. Saya menceritakan kisahku. Beliau sangat menyukainya dan memintaku untuk menceritakan seluruh kisahku kepada sahabat yang lain,” tuturnya.

Akhirnya Salman mendeklarasikan diri sebagai seorang muslim dan sangat taat dalam menjalankan kepercayaannya yang baru. Namun demikian status Salman saat itu masih sebagai budak sehingga dia melewatkan beberapa peperangan. Kemudian Muhammad memintanya untuk berunding kepada tuannya agar dia bisa dimerdekakan bersyarat. Salman lantas mendapat persetujuan dari tuannya dengan syarat dia akan menebus dirinya dengan 40 Ukiyah emas dan menanam 300 pohon kurma yang baru.

Salman menceritakan syarat yang diajukan tuannya, kemudian Muhammad meminta sahabat-sahabatnya untuk mengumpulkan bibit pohon sesuai dengan yang disyaratan. Salman ditugaskan menggali lubang sebanyak jumlah bibit dan Muhammad sendiri yang menanam semua bibit itu. Lantas bibit yang telah ditanam tersebut diberikan kepada tuan Salman.

Tak berhenti sampai di situ, Muhammad juga memberi Salman emas sebesar telur ayam dan jika dikira-kira emas tersebut setara dengan 40 Ukiyah. Emas itu kemudian diberikan kepada tuan Salman. Semua persyaratan pemerdekaan Salman telah dipenuhi semuanya. Sejak itu dia menjadi sahabat  karib Muhammad yang dikenal piawai menyusun strategi perang.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *