Rekontruksi Gender sebagai Pembangunan Nasioanal
Istimewa

Persoalan gender sudah tidak asing diperbincangkan masyarakat di seluruh dunia, sebab  gender sering dikaitkan dengan perubahan sosial dan pembangunanan disetiap diskusi maupun tulisan yang digalakkan belakangan ini. Gender sejatinya digunakan untuk menjelaskan konsep sosial yang menggambarkan perbedaan antara perempuan dan laki-laki diluar aspek biologis. Gender mengacu pada peran serta fungsi perempuan dan laki-laki yang memang berbeda secara biologis, namun setara dalam peran dan fungsi sebagai manusia di bumi.

Perbedaan ciri-ciri fisik secara biologis atau biasa dikenal dengan istilah seks sangat berbeda dengan gender. Seks adalah ciri ciri anatomi biologi yang membedakan antara laki-laki dan perempuan yang biasa disebut dengan jenis kelamin. Laki-laki dicirikan memiliki jakun, penis dan memproduksi sperma,sedangkan perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim, memproduksi sel telur, memiliki vagin dan dapat memproduksi ASI (Air Susu Ibu).

Ketentuan ini tidak dapat dipertukarkan  satu sama lain karena sifat ketentuan ini telah muthalak dari Tuhan atau kodrati. Sedangkan gender merupakan ciri-ciri yang melekat pada peran dan tanggung jawab yang dibebakan kepada laki-laki maupun perempuan secara sosial.

Dasar konsep gender merupakan sebuah hasil kontruksi sosial yang diciptakan manusia dan masyarakat dengan berubah-ubah serta dapat dipertukarkan berdasarkan waktu, tempat dan budaya yang ada dalam masyarakat. Hal ini emnjadi karakater yang diciptakan oleh keluarga kemudian berkembang dimasyarakat sesuai dengan nilai-nilai atau norma yang telah berlaku.

Seperti pandangan masyarakat menilai pekerjaan memasak,menyapu, mencuci, mengurus anak diidentikkan menjadi pekerjaan perempuan, sedangkan pekerjaan bisnis, berdagang, bangunan merupakan perkerjaan yang dinobatkan oleh laki-laki. Padahal sebagaian masyarakat belahan bumi lain tidak berpikir demikian, bahkan sebaliknya. Perempuan diidentikkan dengan karakter lemah lembut, emosiaonal, menyukai warna pink,  atau dicitrakan feminim, sedangkan laki-laki diidentikkan dengan karakter perkasa, kuat, sangat rasional atau biasa disebut maskulin.

Baca Juga  Kartini, Sang Pelopor Kebangkitan Perempuan Pribumi

Perbedaan steriotip tersebut dalam realitas kehidupan masyarakat menjadikan perempuan menjadi subordinasi mahluk yang lemah, tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat atau pekerjaan diluar urusan domestiknya.

Bahkan, sereotip masyarakat menganggap bahwa perempuan sebatas sebagai konco wingking memiliki tugas macak, manak, masak yang diidentikkan dengan domestik. Ketimpangan yang paling menonjol terlihat pada pembagian kerja dan pengambilan keputusan yang menyebabkan perempuan mempunyai kesempatan dalam hal peran dan status sosial yang rendah.

Sedangkan gender dalam pembangunan bangsa dan negara merupakan strategi untuk menyeimbangkan kepentingan, aspirasi dan peranan laki-laki maupun perempuan.

Pembangunan nasional menjadi isu yang berkaitan dengan hak asasi manusia atau keadilan semata. Melainkan meningkatkan kesejahteraan untuk memperoleh keadilan dan hak yang sama selaku manusia. Keadilan gender dimaksudkan untuk terwujudnya kesamaan kondisi anatara laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan sebagai hak-hak manusia dalam berperan dan berpartisipasi di dalam semua bidang.

Keadilan gender merupakan proses dan perlakukan adil terhadap laki-laki atau perempuan sehingga tidak menyebabkan subordinasi dalam hidup bermasyarakat. Keadilan gender sebagai pembangunan ditandai dengan tidak adanya deskriminasi antara laki-laki dan perempuan.

Pembangunan nasioanal harus didasarkan pada sebuah tujuan, baik tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan jangka pendek mampu meningkatkan taraf hidup, kecerdasan, mampu melatakkan landasan pada yang kuat untuk taraf berikutnya. Sedangkan tujuan jangka panjang  mampu  mensejahterakan masyarakat baik laki-laki mampun perempuan secara merata berdasarkan Pancasila. Menurut Todaro, dalam pembangunan harus mempunyai tiga sasaran.

Baca Juga  Terkekang Rindu

Pertama, pembangunan harus memingkatkan pangan, sandang, papan dan kesehatan. Laki-laki dan perempuan bersama saling  membahu satu sama lain untuk meningkatkan kebutuhan bersama dan kepentigan bersama. Hubungan untuk saling mendukung satu sama lain memeperoleh kesempatan dan peluang yang sama dalam pembangunan.

Kedua, pembangunan harus memingkatkan taraf hidup, meningkatkan pendapatan, memperluas kesempatan kerja, pendidikan yang lebih baik, perhatian yang lebih luas terhadap budaya dan kemanusiaan. Sebagai generasi bangsa, pembangunan terhadap budaya perlu untuk dikembangkan agar kenikmatan memahami nilai dapat dirasakan setiap individu.

Kesempatan untuk bekerja dan berkaya, mengembangkan potensi memlalui pendidikan dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Persamaan peran yang sama  anatara laki-laki dan perempuan dalam menjaga budaya yang telah ada.

Ketiga, memperluas ekonomi dan social yang tersedia bagi setiap orang dan bangsa sehingga terbebas dari perbudakan dan ketergantungan baik secara individu dengan individu lainnya, mampun negera dengan negera yang lain. Wallau a’lam bi al-shawaab

Siti Izha Nurdianti
Ketua Bidang Internal KOHATI Cabang Semarang

    TIGA TANTANGAN PLANET NUFO UNTUK LULUSAN IPB, JUGA FAK. PERTANIAN, PETERNAKAN, DAN PERIKANAN

    Previous article

    Plastik: Ancaman Besar Bangsa Indonesia

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Perempuan