Bullying merupakan tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma. Pelaku bullying yang biasa disebut bully bisa seseorang, bisa juga sekelompok orang, dan ia atau mereka mempersepsikan dirinya memiliki power (kekuasaan) untuk melakukan apa saja terhadap korbannya.

Korban mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang lemah, tidak berdaya dan selalu merasa terancam oleh bully. Hal ini kerap kali terjadi dari zaman dahulu hingga sekarang sampai akhirnya menjadi hal yang lumrah, terutama di kalangan anak SD, SMP, dan SMA. Bullying disebabkan karena adanya ketidakseimbangan sosial atau fisik seseorang, baik itu atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan seseorang.

Parahnya, tindakan bullying bisa menjadi kebiasaan dan dilakukan berulang ulang terhadap orang tertentu. Bullying sering terjadi di lingkungan anak-anak, dan dampak dari tindakan ini tidak main-main, anak yang menjadi korban akan mengalami: 1) depresi dan marah, 2) rendahnya tingkat kehadiran dan rendahnya prestasi akademik siswa, 3) menurunnya skor tes kecerdassan (IQ) dan kemampuan analisis siswa, dan 4) memiliki rasa tidak aman saat berada di lingkungan yang menjadi tempat korban tersebut dibully.

Perlindungan hukum terhadap korban bullying diatur didalam Pasal 28I ayat (1) dan (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang memuat hak fundamental bagi setiap orang. Hak tersebut adalah hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, termasuk juga hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut.

Baca Juga  Otak Budak Anak Jajahan

Hak tersebut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Setiap orang juga berhak untuk bebas dari perlakuan yang bersifat diskrimintif atas dasar apapun dan berhak mendapat perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif. Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara terutama pemerintah. Salah satu bentuk tanggung jawab khusus pemerintah terhadap anak yang menjadi korban yaitu upaya rehabilitasi, perlindungan maupun pendampingan hukum. Hal ini sudah dimuat dalam Pasal 64 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Upayanya melalui: 1) Upaya rehabilitasi baik dalam lembaga maupun di luar lembaga, 2) Upaya perlindungan dari pemberitahuan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi, 3) Pemberian jaminan keselamatan bagi saksi korban dan saksi ahli baik fisik, mental maupun sosial.

Perlindungan hukum terhadap korban bullying di media sosial masih saat menengah terutama terhadap kepada anak anak yang dibawah umur yang kurang perhatian dan pengawasan untuk menggunakan media sosial . bullying bukanlah masalah yang sepele banyak korban bullying yang mengalami gangguan psikis, depresi, stress atau sampai bisa bunuh diri.

Hal ini tentunya perlu perhatian lebih dari pemerintah dalam menangani kasus bullying yang terjadi dalam media sosial. Bullying termasuk dalam kejahatan cyber crime selain perlu perhatian lebih dari pemerintah ini juga perlu kerjasama dengan orang tua dalam mengawasi anak anak dalam bermain media social. Bullying dimedia social bisa merupakan ancaman kejahatan , pencemaran nama baik, body shamming. Maka upaya kebijakan kriminal  perlindungan korban   tindak   pidana cyberbullying dianggap   perlu   untuk   dilakukan   untuk mencegah banyaknya korban akibat bully pada di media sosial.

Baca Juga  Mengoptimalkan Solusi Ekonomi di Tengah Pandemi

Oleh: Adelia Khofifatul Khasanah, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Menanti Penegakan Hukum yang Berdimensi Transendent (Bagian I)

Previous article

Salah Paham Sebaik-baik Bekal Adalah Taqwa

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan