Peristiwa Acak dan Proses Sejarah: Kritik Terhadap Buku ‘Mengapa Negara Gagal’

Manusia, secara sadar atau tidak, telah dikategorikan dalam berbagai kelompok. Sebagai contoh: Pengelompokan jenis kelamin, secara konvensional, dikenali dengan kategori pria dan wanita. Dari segi budaya, terdapat pengelompokan suku bangsa. Berdasarkan ciri fisik, manusia dikelompokkan menjadi beberapa ras. Dari segi kepercayaan, manusia dikelompokkan sebagai penganut tuhan dan selain tuhan, yang mana hal tersebut akan dikelompokkan lagi menjadi lebih terperinci.

Berbagai kategori yang telah disebutkan, secara detail telah dibahas dalam ilmu politik. Sebab, pengelompokan kategori-kategori tersebut berkelindan erat dengan konsep bangsa dan negara. Terlebih, ilmu politik memusatkanperhatiannya pada konsep bangsa dan negara. Sebab, setiap proses politik sudah pasti berkaitan dengan bangsa dan negara.

Di sisi lain, James Berlin berpendapat bahwa, tak hanya hal yang berkaitan dengan bangsa dan negara, semua hal bisa dikaitkan dengan perilaku politik. Menurutnya, semua hal yang tercipta di dunia ini adalah hal yang subjektif. Maka dari itu, diperlukan kajian mendalam dengan ilmu politik untuk mendapatkan jawaban objektif dari berbagai hal. Kajian tersebut biasa dikenal dengan teori Cultural Studies: mengkaji segala diskors dengan ilmu perilaku politik.

Dari sini, kita mendapatkan gambaran bahwa mempelajari ilmu politik merupakan hal penting bagi setiap orang. Sebab, faktanya, hampir setiap hal memiliki kaitan erat dengan politik. Dalam konteks penerbitan dan penulisan, sudah terlampau banyak tulisan yang mengangkat isu politik beserta penyelesaian dan solusi terbaik yang sanggup ditawarkan. Salah satu di antaranya adalah “Why Nations Fail” yang digarap oleh Daron Acemoglu dan James Robinson.

Bacaan Lainnya

Sebelum membahas buku yang terkenal di akhir 2010 tersebut, dirasa perlu untuk membahas latar belakang penulis. Daron Acemoglu adalah professor yang mengajar di MIT dan telah menulis berbagai karya akademik di lingkup yang sangat besar; politik, ekonomi, perkembangan ekonomi, pertumbuhan ekonomi, perubahan teknologi, ketidak setaraan, ekonomi buruh dan ekonomi jaringan. Ia mendapatkan berbagai penghargaan sepanjang tahun 2004- 2019. Bahkan, ia mendapatkan gelar doctor kehormatan dari Univeristy of Utrecht, The Bosporus University, University of Athens, Bilkent University, The University of Bath, Ecole Normale Superiure dan lainnya.

Di sisi lain, James A. Robinson atau James Alan Robinson, adalah seorang peneliti ekonomi dan peneliti ilmu politik. Ia sangat berpengaruh dalam penelitian di bidang politik, perkembangan pilitik dan hubungan antara kekuatan politik, institusi dan kemakmuran. Robinson telah beberapa kali menerbitkan buku. Buku yang telah mengangkat namanya, terlebih, adalah ‘Why Nations Fail’ yang ia tulis bersama Daron Acemoglu.

Why Nations Fail adalah buku politik ekonomi yang membahas tentang penyebab dan asal muasal kekuasaan, kemakmuran dan kemiskinan. Buku ini mengkritik berbagai konsep yang telah ada sebelumnya. Sebagai contoh, pendapat Anthony Giddens mengenai penyebab gagalnya perkembangan sebuah sistem disebabkan oleh letak geografis. Buku ini juga menolak teori kebodohan, yang menganggap bahwa suatu negara tak berkembang karena pemimpinnya tak mampu menjalankan apa yang menjadi kewajibannya.

Tak hanya itu, dia juga menentang konsep yang menyatakan bahwa kebudayaan juga tak bisa menjadi alasan mengapa suatu negara gagal. Sama halnya dengan konsep iklim dan berbagai faktor lainnya. Buku ini menentang keras konsep-konsep yang telah disebutkan secara ringkas, semata-mata karena maju atau mundurnya sebuah negara sudah jelas terdapat dalam sejarah. Artinya, sejarah telah memberikan pola tertentu pada konsep kemajuan dan kemunduran sebuah negara.

Menurut Daron Acemoglu dan James A. Robinson, satu-satunya hal yang menyebabkan suatu negara maju atau berkembang dari zaman dahulu hingga sekarang adalah pengelolaan institusinya. Mereka kemudian menjelaskan insitutusi politik ekonomi inklusif dan eksklusif. Menurut mereka, dari dulu hingga sekarang, penyebab suatu negara gagal atau maju karena dipengaruhi institusi ekonomi dan politiknya. Singkatnya, apabila sebuah negara memiliki institusi inklusif atau cenderung pada rakyat, maka negara tersebut akan maju. Sebaliknya, jika sebuah negara memiliki institusi eksklusif, maka bisa dipastikan bahwa negara tersebut akan menemui ajalnya.

Analisis yang diberikan oleh Daron Acemoglu dan James A Robinson merupakan analisis yang padat dan kredibel. Setiap analisis yang ia berikan telah terbukti dan tak bersdasarkan statement belaka. Namun, jika kita melangkah lebih jauh pada buku yang mungkin terlihat tak berkaitan dengan politik dan ekonomi, mungkin kita bisa mendapatkan sedikit celah untuk mengkritik karya Daron Acemoglu tersebut.

Dalam buku yang ditulis oleh Nassim Nicholas Thaleb yang berjudul “Black Swan”, dengan ganas menentang dan mengkritik ‘peramal’ ekonomi. Menurutnya, terlalu banyak peristiwa acak yang terjadi di dunia, menyebabkan ‘ramalan’ mengenai satu kondisi negara tak bisa dijamin kebenarannya. Bahkan, Nassim Thaleb menyebut pada economist dan poitikus seorang pembual belaka.

Kejadian acak yang sama sekali tak bisa ditebak kedatangan dan kepergiannya, sebagai contoh, adalah jatuhnya pasar saham dunia. Tak ada yang mengira hal itu terjadi karena, pada dasarnya, saham sedang meroket dengan fantastis dan tidak ada tanda-tanda Tak hanya itu, semua orang percaya bahwa semua angsa berwarna putih, dan mulai percaya ada angsa hitam setelah ia ditemukan di bagiat barat Australia.

Konsep acak yang diterangkan secara holistic oleh Nassim, didukung oleh Morgan Houssel dalam bukunya ‘The Pshychology of Money’. The Pshychology of Money adalah buku yang membahas keuangan dan investasi. Bedanya dengan tulisan lain, buku karya Morgan Houssel tidak menyetujui strategi jitu yang ditawarkan investor-investor terkemuka. Faktanya, Morgan bahkan mengkritik mereka habis-habisan, dan menyarankan pada pembaca untuk tidak berpatokan pada buku strategi tersebut.

Satu-satunya alasan kritik oleh Morgan adalah karena peristiwa yang terjadi di dunia terlalu acak untuk berpatokan pada struktur tertentu. Kenyataannya, menurut Morgan Houssel, untuk mendapatkan hasil investasi yang besar, harus melewati berbagai ujian yang tak mudah. Tak hanya itu, buku-buku investasi sering direvisi seiring berkembangnya zaman. Perbaikan-perbaikan itu jelas menunjukkan tanda bahwa investasi memang tak bisa dipastikan pola-polanya.

Jika berpegangan pada buku yang ditulis oleh Thaleb dan Houssel, kita bisa menarik kesimpulan bahwa buku yang ditulis oleh Daron Acemoglu tidak akurat. Kita tak bisa memastikan maju tidaknya sebuah negara hanya dengan berpatokan pada sejarah. Sebab, lagi-lagi, pola kejadian acak tak bisa memastikan arah sejarah. Terlepas dari itu, ketiga buku memiliki kelebihan dan kekurangan. Alangkah baiknya apabila kita terus mencari referensi dan memperkaya pengetahuan umum kita. Wallahu alam.

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *