Pentingnya Manajemen Stres Pasca Pandemi

Semakin bertambah usia, seharusnya akan membuat seseorang menjadi lebih dianggap dewasa. Semakin dewasa seseorang, maka semakin banyak pula tujuan dan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Biasanya, seseorang akan mengupayakan berbagai hal untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Namun, sering kali mereka tidak memperhatikan kondisi psikis diri sendiri sembari menempa mental hingga sekuat baja. Alhasil, ada banyak tumpukan stres yang mengendap dalam diri yang siap meledak, meluber, menguap kapan saja apabila tidak segera terkondisikan. Lalu, apa yang harus dilakukan dengan stres pada diri sendiri?

Stres merupakan sebuah gangguan mental pada seseorang akibat faktor dari luar. Faktor tersebut dapat berupa beban, tuntutan pekerjaan, ketidaksesuaian hati dan pikiran, serta berbagai masalah lainnya.

Stres juga dapat dipicu oleh tindakan verbal ataupun non verbal. Tindakan verbal dapat berupa perundungan oleh orang lain. Seseorang yang mengalami perundungan akan mengalami trauma yang merupakan implikasi dari stres yang terpendam cukup lama. Tidak sedikit pula berita yang mengabarkan tentang korban perundungan yang berakhir mengenaskan. Maka, sudah seharusnya perundungan dilarang.

Tindakan pemicu stres secara non verbal sangat beragam. Kemajuan teknologi memudahkan seseorang untuk berkomentar di dunia maya dengan atau tanpa identitas yang jelas. Hal tersebut menjadi pedang bermata dua karena dapat memberikan manfaat dan mudarat.

Seseorang dapat dengan mudah memberikan komentar atau mengabarkan berbagai hal yang ada di sekitarnya kepada khalayak media sosial. Sebagai contoh, kondisi jalan di suatu kota sangat mengenaskan padahal baru saja dilakukan perbaikan jalan oleh pihak terkait. Kita dapat melaporkan kondisi tersebut kepada dinas terkait atau pemerintah melalui media sosial tertentu apabila sudah tidak ada tanggapan dari pihak RT/RW setempat, sehingga proses perbaikan diharapkan akan berjalan dengan baik.

Kemudahan memberikan komentar ternyata memiliki sisi gelap. Hate speech atau ujaran kebencian merupakan tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individua tau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan ataupun hinaan. Seseorang memiliki kondisi mental yang berbeda-beda dan hate speech berpotensi besar untuk membunuh kondisi mental seseorang.

Orang yang memiliki dendam pada orang lain namun tidak memiliki circle atau kelompok yang mendukung, maka besar kemungkinan dia akan melakukan hate speech pada korbannya. Hal tersebutlah yang sebenarnya ingin dilindungi negara melalui UU ITE, namun karena masih belum jelas subjek dan konteksnya maka UU ITE terkesan seperti pasal karet yang bisa ditarik ulur tergantng kepentingan penguasa atau pemilik dana.

Lantas untuk mengatasi adanya hate speech adalah dengan memperhatikan sikap dan perilaku kita sebagai manusia sosial. Kesetaraan bukan lah sebuah paham yang tepat untuk hidup bersosial, melainkan keadilan yang dijunjung tinggi bersama-sama.

Manajemen stres sangat diperlukan terutama pada masa peralihan pasca pandemi dengan pra pandemi. Antara perlakuan seseorang ketika mengadapi stress tidak dapat disamakan karena kondisi mental tiap orang sangat berbeda. Berbagai penyesuaian harus segera diaplikasikan sehingga tercipta metode yang paling sesuai untuk menyalurkan stres.

Manajemen stress merupakan bekal fundamental untuk kehidupan yang lebih serius. Apabila seseorang sudah bisa mengatasi stresnya sendiri, maka Dia bisa mengerjakan berbagai hal krusial lain untuk memenuhi tujuannya dengan maksimal. Sehingga tercipta individu yang kokoh secara mental dan akal yang diharapkan mampu berimplikasi maksimal pada kinerja hidup yang lebih baik.

Salah satu saran untuk mengatasi stres adalah dengan healing atau berlibur dengan harapan mengisitirahatkan fisik sehingga lebih relax dan siap untuk berjuang lebih kuat. Namun, konteks ini disalah artikan oleh generasi sandwich untuk bermalas-malasan. Padahal, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam telah memberikan healing yang paling efektif yaitu solat. Kisah tersebut terpatri dalam kisah Nabi ketika perang Khandak. Lantas, siapa yang selama ini kita tiru?

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ 5

اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ 6

Artinya:

Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, (5)

sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. (6)

Al-quran Surat Al-Insyiroh ayat 5-6.

 

MUHAMMAD WILDANUL ATQIYA

(Mahasiswa Agribisnis Universitas Diponegoro Semarang)

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *